Friday, December 25, 2009

Durian Doro, Durian Lolong, Durian Sonto, Pekalongan, Jawa Tengah


Buah dengan aroma khas, kulit berduri tajam, itulah durian. Termasuk dalam keluarga Bombacaceae, nama ilmiahnya adalah Durio zibethinus. Persebaran durian adalah di wilayah asia tropis. Durian Doro adalah durian yang berasal dari Kecamatan Doro, Kabupaten pekalongan Jawa Tengah. Durian Lolong adalah juga sama, durian yang berasal dari desa lolong, secara administrative masuk kecamatan Kajen, Pekalongan.Bulan Desember sampai February adalah musim durian di wilayah ini. Kedua Kecamatan ini juga merupakan salah satu penghasil durian di Jawa Tengah. Untuk mencapai Doro kurang lebih 1 jam perjalanan dari kota pekalongan (dari pantura kearah selatan).

Durian di kecamatan ini tumbuh secara alami dan saat ini menjadi komoditas musiman yang sangat berharga seperti sekarang ini. Apabila anda sudah masuk di wilayah doro, kemudian menyusuri Jalan antara Doro dan Karanganyar- Kajen akan anda temukan lapak-lapak penjual Durian berjajar di sepanjang jalan itu. Durian-durian itu berasal dari desa-desa di kedua kecamatan ini. Bahkan di perempatan kota Karanganyar ada dibuatlah semacam tugu/monument dengan buah durian sebagai iconnya. Ya itulah jalan menuju Desa Lolong, desa wisata durian, sepanjang jalan kurang lebih 4 km anda akan melihat pohon-pohon durian yang berada di kanan-kiri jalan, lapak-lapak durian juga berjajar di sepanjang jalan ini, anda juga bisa membeli durian di kebonnya langsung, menunggu buah durian yang jatuh, kemudian di makan di tempat itu juga.

Katanya durian dari Doro mempunyai rasa yang manis getir (pahit) dan biasanya masak dipohon baru di ambil, mungkin inilah yang di cari para penikmat durian, rasa yang manis-pahit, biji kecil dan empuk. Durian Doro ternyata pasarnya juga tidak hanya di pekalongan, durian Doro ini juga merambah luar kota seperti, semarang, Cirebon bahkan Jakarta. Pasar Doro juga tempat berkumpulnya durian-durian dari desa-desa di sekitarnya. Bahkan ada salah satu desa yang memang sangat terkenal dengan duriannya yaitu Lolong atau ada juga yang menyebut Kabalong, icon durian pun juga Nampak di kota karanganyar, dengan adanya monument durian (orang menyebut tugu duren). Jalan sepanjang mungkin hampir 5 km kearah kecamatan Lebakbarang menjadi pusat wisata durian di wilayah ini. Bahkan festival durian juga tiap tahun di adakan disini. Untuk tahun 2010 katanya tanggal pada pertengahan bulan januari ini (saya kurang tahu pasti tanggalnya),tentunya surga bagi para penggemar durian.

Saya sempat masuk ke dusun penghasil durian di wilayah ini, yaitu dusun Sonto, Bandung, Kel Pedawang Kec.Karanganyar. masih terlihat pohon-pohon durian besar (diameter lebih dari 1 meter dan tinggi lebih dari 30 meter). Sepertinya pohon ini adalah pohon yang memang ada mungkin 50-100 tahun yang lalu, konon pohon-pohon durian seperti ini apabila berbuah, dalam 1 pohon bisa untuk membeli 1 motor bahkan lebih. Seperti pak Casmani (55 th) memiliki pohon durian yang katanya tidak tau kapan di tanam di belakang rumahnya, katanya pohon durian itu sudah ada sejak kakeknya. Pohon durian menjadi salah satu penghasilan tiap tahun bagi keluarganya. Menurutnya pohon durian itu, kalau di awal buahnya terasa enak, maka bisa dipastikan seluruh buahnya enak. Katanya dia pernah memanen buah durian dalam satu poho itu sebanyak 1500 buah, kalau harga paling murah sekitar 7000 maka bisa dihitung berapa pak Casmani bisa panen dari 1 pohon duriannya. Bapak ini adalah petani durian, dan sekarang dia menjadi salah satu pengumpul durian di desanya, dan duriannya banyak dipesan pedagang dari Surabaya dan Semarang. Dikampung ini durian biasanya di ambil dari pohon (masak di pohon) biasanya durian-durian ini di ikat dengan tali plastik pada waktu masih muda, kemudian setelah masak durian ini akan terlepas dari tangkainya dan tergantung di tali plastic yang mengikatnya. Kemudian setelah terlepas dari tangkainya, durian-durian ini di ambil dan dikumpulkan di rumah, biasanya kalau tidak di bawa kepasar, durian-durian ini sudah ada tengkulak yang mengambil/mengumpulkan untuk kemudian di jual di kota.

Kini, durian asli doro dan sekitarnya juga terancam punah, banyak pohon-pohon durian tua yang usiannya mungkin ratusan tahun di tebang untuk digunakan kayunya sebagai bahan bangunan, untuk dibelikan sepeda motor, bahkan akhir-akhir ini pohon durian itu diganti dengan jenis pohon sengon, yang lebih cepat menghasilkan uang dan lebih banyak. Karena waktu panennya yang lebih cepat, banyak petani-petani durian juga mulai mengganti pohon-pohon durian asli yang mereka miliki dengan jenis-jenis durian dari luar (introduksi) yang katanya lebih cepat menghasilkan buah. Perlahan-lahan durian dari luar ini mulai menggantikan durian-durian asli, yang sudah berpuluh-puluh tahun bertahan di Doro dan sekitarnya.

Bagaimanapun terlepas dari kepentingan ekonomi yang membuat tergusurnya jenis-jenis durian lokal, durian-durian ini setidaknya sudah bertahan mungkin berpuluh atau bahkan beratus tahun, sungguh suatu keunggulan yang belum tentu bisa dibuktikan oleh jenis durian varian baru. Pohon-pohon durian lokal ini sudah terbukti mampu hidup dan berbuah dalam kondisi iklim yang bervariasi, dan mungkin juga tahan terhadap penyakit-penyakit yang mungkin pernah menyerangnya. Sudah tentu hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian semua pihak, untuk mempertahankan jenis-jenis durian lokal.

No comments: