Sabtu, Januari 14, 2017

Terbang dari bumi utara, singgah di habitat Owa


Cuaca yang hangat ternyata menjadi tempat yang menyenangkan bagi siapa saja, tak terkecuali jenis-jenis burung.  Habitat Owa jawa di hutan Sokokembang, Petungkriyono ternyata juga menjadi tempat singgah dari burung-burung migran. Burung sikatan bubik, Asian brown flycatcher (Mucica daaurica) , berbiak di wilayah Siberia dan Rusia, dan karena sedang musim dingin di sana, burung-burung ini mengungsi migrasi, mencari makan di tempat yang hangat, dan sampai ke Indonesia.

Tidak banyak catatan migrasi tentang burung ini, berapa lama dan dimana saja yang tempat yang disinggahi, yang jelas ketika saya membuka peta dan mencoba mengestimasi jaraknya antara Siberia dan hutan Sokokembang adalah 7.622 km.  Perjalanan yang tidak singkat , rute mana yang di lewati kenapa lewat wilaya tersebut, juga belum banyak yang mengungkapnya melalui penelitian.


Fenomena migrasi ini bisa menjadi sebuah alternative kegiatan wisata minat khusus, pengamatan burung/ birdwatching yang sudah menjadi gaya hidup di beberapa negara maju, menjadi peluang usaha untuk mengembangkan wisata alternatif yang lebih ramah untuk lingkungan, yang bertujuan untuk melestarikan habitat berhutan. Bulan-bulan Setember sampai Maret adalah dimana terjadi migrasi brung-burung. Beberapa kawasan berhutan termasuk hutan Sokokembang ini menjadi tempat yang nyaman untuk burung-burung migran ini singgah liburan selama musim dinging di negara asalnya dan atau mungkin juga menetap.
video


Ancaman yang nampak dan jelas masih terjadi adalah perburuan, perburuan burung dengan berbagai alasan telah mengakibatkan burung-burung ini hilang, dan hutan menjadi sepi. sebagi burung pemakan serangga burung Sikatan ini juga berperan sebagai pengendali hama. Bagaimana wisatawan atau  pengamat burung mau  datang kalau hutannya sudah sepi? Wisata alternatif untuk pengembangan ekonomi kreatif pun juga akan semakin susah di terapkan karena burung ini tidak lagi dapat di jumpai di habita asli, atau hutan.
Birdwatching dan  Primatewatching sebagai wisata minat khusus


bacaan selanjutnya :


Kamis, Januari 05, 2017

Kelelawar sang Juara Sonar

menyaksikan ribuan kelelawar sedang terbang

Berkunjung ke suatu tempat dengan fenomena alamnya tentu akan menjadi pengalaman yang berbeda dan pengetahuan tentang sejarah alam setidaknya menjadi tanda tanya yang terus akan berkecamuk dalam angan. Kunjugan lapangan awal tahun 2017 kali ini saya merasa beruntung dapat melihat langsung peristiwa alam yang tidak semua tempat ada. Apalagi ini terkait dengan fauna alam sekitar kita yang sebenarya punya peran penting dalam system ekologis. Sebagai pemakan serangga keberadaan kelelawar ini juga sangat penting sebagai pengendali hama pest control untuk kawasan pertanian dan perkebunan.
video

Benteng pendem, atau Benteng van den Bosch, terletak di kabupaten Ngawi Jawa Timur, tempat bangunan kuno ini, selain menjadi lokasi wisata ternyata menjadi habitat kelelawar yang munking jumlahnya bisa mencapai jutaan. Untuk menyaksikan bagaimana kelelawar ini keluar, anda tunggu saja antara sekitar jam 5 sampai jam 6 sore, nanti ribuan kelelawar akan keluar bersama-sama membentuk suatu formasi yang mungkin kita belum mengerti kalau hanya mengamati sekali saja. Untuk jenis kelelawarnya perlu melihat lebih detail lagi ciri-cirinya dan saya juga tidak begitu paham tentang jenis-jenis kelelawar. Yang saya tahu ini adalah jenis pemakan serangga yang bergerak berdasar echolocation.

Untuk jenis kelelawar adalah pemakan serangga, dari keluarga microchiroptera, echolocation menjadi kemampuan yang sangat luar biasa digunakan jenis kelelawar ini untuk mencari makan. Mekanisme  bio sonar ( Sound Navigation and Ranging) ini kurang lebih dapat di jelaskan sama dengan bagaimana kita bersuara dan mendengarnya. Alat untuk menghasilkan suara juga ada dalam saluran peranafasan, di kelelawar ada suara yang di hasilkan dari mulut dan ada yang dari hidung. Energi suara ini kemudian merambat melalui udara dalam bentuk gelombang suara dan terpantul kembali ke arah datangnya suara. Namun kelelawar mempunyai ke khususan dalam otaknya yang dapat meresponse suara ini hingga jarak yang jauh. Pitch dan notes yang di hasilkan dalam level gelombang ultra, dapat di analisis oleh kelelawar hingga dapat informasi yang jelas, terkait arah, lokosi waktu dan ukuran object (dalam hal ini mangsa) kelelawar.

Berbagi tempat dengan hidupan liar adalah salah satu upaya untuk menjaga alam ini untuk seimbang. Keberadaan kelelawar di sekitara kita sudah tentu mempunyai peran penting, dan sangat rentan dengan perubahan lingkungan yang terjadi, bisa di bayangkan apabila Benteng pendem di ngawi sebagai habitat kelelawar ini di bersihkan di beri lampu atau di renovasi mejadi bangungan baru yang megah, trus kemana kelelawar yang jumlahnya ribuan itu akan pindah tempat tidur? Apa dampaknya bagi pertanian di sekitar wilayah ini? Apakah kelelawar membawa penyakit menular ?
Mari berbagi ruang dengan hidupan liar lainnya

Bacaan selanjutnya






Jumat, Desember 16, 2016

#monkeyday in the wild of Java


Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

Jumat, Desember 02, 2016

Berkunjung ke padepokan Lutung Jawa

Bulan November pertengahan saya berkunjung ke salah satu pusat rehabilitasi primata Jawa di Jawa Timur, tepatnya di Cuban Talun, Batu, Malang. Pusat rehabilitiasi ini di bangun khusus untuk Lutung Jawa, mungkin satu-satunya yang ada di Indonesia untuk rehabilitiasi jenis-jenis monyet pemakan daun. Perjalanan lebih dari 12 Jam menyusuri jalur selatan pulau jawa mulai dari Jogja-Pacitan-Trenggalek-Blitar-Malang membuat harus membuka kembali peta dan yang jelas melihat langsung kondisi habitat primata di wilayah Jawa bagian timur. Beberapa catatan perjumpaan jenis-jenis primata jawa tidak banyak yang melaporkan dari wilayah ini, bisa menjadi pekerjaan selanjutnya untuk pelestarian primata Jawa.
Lutung jawa hasil sitaan, sedang menjalani perawatan di kandang
Sampai di Cuban Talun, mas Iwan Kurniawan selaku project manager pusat rehabilitiasi ini sudah menunggu, berkenalan dengan tim yang ada disini dan melihat langsung 11 lutung yang sedang dalam proses untuk di lepas liarkan kembali. Lutung-lutung ini adalah hasil sitaan dari BKSDA jawa timur, lutung-lutung yang telah lama di pelihara orang atau dekat dengan aktifitas manusia ini harus menjalani proses panjang sebelum di lepas liar kembali ke habitatnya. Cek kesehatan, penelitian dan pengamatan perilaku dan pengelompokan menjadi pekerjaan berat untuk Lutung ini. 
sumber pakan adalah penting untuk Lutung jawa

Lutung adalah monyet pemakan daun yang hidupnya berkelompok, jadi untuk melepas kan kembali kealam haruslah dalam kelompok juga, selama di pusat rehab lutung-lutung ini juga di coba di pasangkan dengan lutung yang lain, 1 jantan dengan 3 atau 4 betina, kemudian apabila telah berhasil mendpatkan keturunan dan lolos prasarat pelepasan, akan di lepas bersama. Pemilihan hutan untuk melepas liarkan lutung juga harus melalui prasayarat khusus, aspesk ekologi dan sosial juga menjadi pertimbangan. Setelah di lepaskan kembali kegiatan monitoring juga terus dilakukan untuk melihat perkembangan kelompok ini dan juga interaksinya dengan habitat barunya. Biaya tentu menjadi permasalahan yang berat untuk melepas liarkan Lutung-lutung ini, perawatan setiap hari di selama menjalani proses rehabilitiasi tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Upaya-upaya yang berkelanjutan sedang dan telah di inisiasi di JLC, untuk anda yang tertarik untuk membantu kegiatan ini silahkan berkunjung langsung ke JLC untuk melihat langsung dan memberikan kontribusi untuk kelestarian Lutung Jawa.

Minggu, Oktober 23, 2016

Bilou Kaleleu 2016

Tulisan pertama tentang kegiatan pelestarian primata di pulau di tepi samudra hindia ini, bisa di baca di sini, perjalanan ke habitat primata endemik Bilou (Hylobates klossii)  tahun 2010, bulan Desember. Dan bulan lalu setelah  hampir 6 tahun, saya kembali menghirup udara di pulau ini, untuk melihat kondisi terkini dan bagaiman perubahan yang telah terjadi terutama untuk pelestarian primata.

Kapal kayu legendaris “Sumber” sudah tidak di gunakan lagi, bayangan perjalanan 10-12 jam menyeberangi laut Sumatra, sudah berganti dengan kapal mewah dan cepat, perjalanan 157 km dari Padang menuju siberut dapat di tempuh hanya dengan waktu 4 jam saja. Kapal ini adalah salah satu perubahan yang terjadi di bumi sikerei.
Kapal Mentawai Fast

Jauh hari sebelum berangkat ke siberut, saya terlebih dahulu menghubungi beberapa sahabat yang dulu menjadi patner dalam tim Bilou, dan sungguh senang akhirnya setelah hampir 5 tahun tidak hanya berjumpa dengan mereka tapi juga keluarga yang dulu pernah saya numpang tinggal waktu di survey Bilou di kep.mentawai. Hari sabtu tanggal 16 September 2016 saya tiba dan jadwal kembali ke padang terus ke jogja sekalian di tentukan, dan saya harus kembali hari selasa tanggal 20 September 2016 waktu yang sempit dan menjadikan beberapa prioritas kunjungan di batasi di tempat-tempat yang sangat potensial. Yang saya kunjungi adalah kawasan mangrove teluk katurai hingga hutan di sekitar ds.Tololago,kemudian hutan di sekitar Bat Mara.
pompong sebagai alat transportasi

Jalan sudah semakin bagus, dan beberapa sedang di bangun menghubungkan desa-desa di Siberut yang dahulu hanya bisa di akses melalui pompong di sungai. Jalan-jalan yang baru setengah jadi ini menjadi harapan baru untuk kemajuan Siberut. Setidaknya untuk ke ladang 5 tahun lalu harus di tempuh 5-7 jam dari dusuan di muara siberut, kini bisa naik motor dan hanya beberapa menit saja.

Jalan baru di Siberut Selatan

Kawasan mangrove teluk katurai, tetap saja mempesona meskipun 5 tahun sudah saya tinggalkan, masih kurang lebih sama, bandar monachi atau terusan yang di bangun semasa misionaris di seberut tiba masih menjadi urat nadi ekonomi masyarkat siberut barat daya dan jalur aman menuju ke bagian barat pulau dengan ombak yang bagus untuk para peselancar. Hutan di sekitar dusun Tololago, hanya satu hari saja saya primate watching disini, jalur berlumpur seakan tidak berubah menjadi yang khas dan berbeda dengan daerah lain ketika pengamatan primata. Suara Joja ( Presbytis potenziani) dan bilou sempat terdengar di pagi hari, ketika menyusui jalan setapak yang dulu pernah menjadi jalur survey saya.
Menyusuri  bandar Monachi yang menuju Siberut Barat Daya


Rumah di Batmara, dimana saya pernah tinggal cukup lama di sini, telah lama di tinggalkan Teteu, sejak istrinya meninggal teteu tinggal di rumah di desa Puro. Perjumpaan dengan Bilou 5 tahun silam masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya, menyusuri jalur survey di belakang pondok ini semakin memperkuat angan-angan untuk kembali melakukan sesuatu untuk pelestarian bilou dan habitanya ini.

pondok di ladang, dimana dulu saya pernah tinggal

trekking di Bat Mara
di depan Uma Malinggai
uma sebagai tempat berkumpul kerabat

Uma baru, di desa Puro 2 menjadi tempat yang nyaman untuk kembali mengenal budaya asli mentawai, uma ini di bangun tahun 2012, dan di kelola oleh keluarga dari suku Tateburuk di tengah kemajuan yang terus mengepung dari berbagai sisi seakan mengembalikan fungsi komunal sebuah tempat rumah asli  mentawai yang bukan hanya sekedar sebagai tempat tinggal.

Semoga..

Selasa, Agustus 09, 2016

Primatepacker : Traveling mengenal primata Indonesia

Mengarus utamakan pelestarian primata, sepertinya agak kurang greget di banding ordo lain, seperti burung. Birdwatching atau pengamatan burung sudah menjadi industri dan gaya hidup yang dapat menggerakkan sisi ekologi, sosial dan ekonomi. Dari melihat burung, peralatan, fotografi, dan juga networking. Terinspirasi dari kawan-kawan pegiat burung yang membuat gerakan pelestarian burung Indoneisia melalui atlas burung nusantara, sepertinya untuk primata masih ketinggalan. Lewat tulisan ini saya juga mengajak siapa saja anda yang peduli dengan primata untuk juga menjadikan kegiatan hobi satwaliar ini menjadi “mainstream” .
Monyet Simpai (Presbytis melalophos)

Primatepacker, juga istilah yang terinspirasi dari para pegiat burung, yang mempopulerkan wildlife friendly hobbi di negeri ini, sekali lagi salut kawan -kawan pegiat burung. Traveling ke suatu tempat yang baru dan melihat primata di habitat alamnya, harusnya juga bisa menjadi daya tarik wisata dan salah satu kegiatan ekonomi kreatif  yang menggerakan perekonomian di tingkat site, dan juga melestarikan primata-primata Indonesia. Saat ini terdapat kuranglebih 50an jenis primata di Indonesia, bahkan bisa lebih dengan adanya taxonomi terbaru. Primata yang secara morfologi kategori mamalia berukuran sedang, lebih mudah di amati, dan atraktif. Separuh dari jenis itu adalah endemik, hanya ada di pulau atau tempat tersebut. 
Lutung Sumatra (Trachipithecus cristatus)

Primatewatching, juga terinspirasi dari kegiatan birdwatching, dan di beberapa negara amerika selatan dan kegiatan ini juga sudah ramai, untuk mengundang pengunjung ke suatu tempat. 

Bulan juli ini saya ber traveling dengan kolega saya untuk melihat jenis Presbytis yang ada di Sumatra, Simpai (Presbytis melalophos). Salah satu monyet pemakan daun endemik pulau Sumatra. Perjalanan saya di mulai dari Gunung Tujuh Taman nasional Kerinci Seblat hingga ke Sorolangun Jambi. 

Tidaklah popular, monyet ini bukan selebritis seperti orangutan, bahkan hampir semuat tempat yang kita singgahi dan bertanya, hampir smua mengatakan monyet simpai adalah hama, mudah di jumpai di ladang dan di sekitar jalan. Atau memang hutan sudah tidak ada lagi, sehingga mereka hidup di ladang atau di pinggir jalan. Atau memang apa yang di katakana simpai itu adalah monyet daun yang kita maksud? Masih banyak pertanyaan yang jawabannya kadang harus tidak kita ragukan kebenarnya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Disinilah bedanya backpacker biasa dan “primatepacker”. 

Silahkan ikuti terus perjalanan “primatepacker” di blog ini.

Jumat, Agustus 05, 2016

Mencari Simpai di Tanah Kerinci

Jalan membelah hutan di bukit Tapan, Sungai Penuh-Tapan (Jambi-Sumbar)

Roadside observation” adalah salah satu metode survey primata yang cuku popular di era 80-90 an, kendaraan bermotor di gunakan untuk melihat sebaran primata di suatu wilayah yang luas. Saya dan Ika Y.Agustin melakukan metode survey ini untuk melihat distribusi dari surili Sumatra, jenis ini masih sangat terbatas informasinya. Melihat langsung morphology dan habitat yang digunakan monyet pemakan daun ini menjadi pengalaman yang berharga dan memberikan update terbaru terkait monyet pemakan daun dari Sumatra.

Kali ini saya menggunakan roda dua bermotor  dilengkapi dengan peralatan smartphone, camera dengan lensa tele 300 mm, video recorder, alat tulis, alat rekam suara, masing-masing pengamat membawa, untuk mendokumentasikan setiap perjumpaan dengan simpai. Kendaraan roda dua bermotor menjadi pilihan terbaik selain lebih effisien, juga dapat masuk ke jalan-jalan di hutan atau pun perkebunan yang  tidak dijangkau oleh kendaraan roda 4. Selain literature, informasi dari warga sekitar adalah referensi terbaru terkait monyet ini. Dan ternyata warga yang kita jumpai di sepanjang jalan sangat familiar dengan namya simpai, karena banyak di jumpai di ladang, belukar dekat rumah sampai rimba (hutan) .
Motor yang di gunakan di Kab.Surolangun

Belukar, menjadi istilah yang akrab dengan kami karena ini menjadi habitat yang umum di jumpai untuk tempat hidup primata-primata seperti Lutung, dan surili. Belukar ini adalah semak-semak dengan beberapa pohon kayu keras dengan ketinggian bervariasi antara 5-10 meter dan diameter relative kecil kurang dari 15 cm. Habitat yang cukup favorit adalah perkebunan karet. Karena harga karet sedang murah, banyak kebun-kebun karet rakyat d telantarkan tidak dirawat dan tumbuh seperti hutan campur yang di dominasi pohon karet. Habitat seperti ini terdapat relative banyak di sepanjang jalan antara Sugai Penuh Jambi. Menjadi tempat pengungsian bagi fauna-fauna yang terjebak di antara habitat manusia.
Kondisi habitat primata di sekitar jalan menuju Muara Imat

Perjalanan bermotor untuk tujuan melihat monyet tentu berbeda dengan traveling bermotor biasanya, perlengkapan penelitian dan perlengkapan motor tetap harus lengkap dan siap sedia. Kecepatan motor tidak bisa secepat naik motor biasanya, karena kita terus tetap melihat kanan kiri jalan dan berhenti ketika melihat monyet atau habitat yang potensial. Sering kali harus mengecek turun dan mendengarkan suara dan pergerakan monyet di antara tajuk pohon. Motor juga lebih mudah untuk masuk ke jalan-jalan setapak yang jarang di lalui  kendaraan besar. Pilihan motor juga harus di pertimbangkan, untuk berboncegan dan kenyamanan, karena kita akan menggunakan kendaraan ini untuk mungkin puluhan bahkan ratusan km, melalui jalan yang bervariasi halus aspal,gravel atau offroad berlumpur.

Baca disini tulisan sebelumnya (…Simpai Kincai)