Friday, December 02, 2016

Berkunjung ke padepokan Lutung Jawa


Bulan November pertengahan saya berkunjung ke salah satu pusat rehabilitasi primata Jawa di Jawa Timur, tepatnya di Cuban Talun, Batu, Malang. Pusat rehabilitiasi ini di bangun khusus untuk Lutung Jawa, mungkin satu-satunya yang ada di Indonesia untuk rehabilitiasi jenis-jenis monyet pemakan daun. Perjalanan lebih dari 12 Jam menyusuri jalur selatan pulau jawa mulai dari Jogja-Pacitan-Trenggalek-Blitar-Malang membuat harus membuka kembali peta dan yang jelas melihat langsung kondisi habitat primata di wilayah Jawa bagian timur. Beberapa catatan perjumpaan jenis-jenis primata jawa tidak banyak yang melaporkan dari wilayah ini, bisa menjadi pekerjaan selanjutnya untuk pelestarian primata Jawa.
Lutung jawa hasil sitaan, sedang menjalani perawatan di kandang
Sampai di Cuban Talun, mas Iwan Kurniawan selaku project manager pusat rehabilitiasi ini sudah menunggu, berkenalan dengan tim yang ada disini dan melihat langsung 11 lutung yang sedang dalam proses untuk di lepas liarkan kembali. Lutung-lutung ini adalah hasil sitaan dari BKSDA jawa timur, lutung-lutung yang telah lama di pelihara orang atau dekat dengan aktifitas manusia ini harus menjalani proses panjang sebelum di lepas liar kembali ke habitatnya. Cek kesehatan, penelitian dan pengamatan perilaku dan pengelompokan menjadi pekerjaan berat untuk Lutung ini. 
sumber pakan adalah penting untuk Lutung jawa

Lutung adalah monyet pemakan daun yang hidupnya berkelompok, jadi untuk melepas kan kembali kealam haruslah dalam kelompok juga, selama di pusat rehab lutung-lutung ini juga di coba di pasangkan dengan lutung yang lain, 1 jantan dengan 3 atau 4 betina, kemudian apabila telah berhasil mendpatkan keturunan dan lolos prasarat pelepasan, akan di lepas bersama. Pemilihan hutan untuk melepas liarkan lutung juga harus melalui prasayarat khusus, aspesk ekologi dan sosial juga menjadi pertimbangan. Setelah di lepaskan kembali kegiatan monitoring juga terus dilakukan untuk melihat perkembangan kelompok ini dan juga interaksinya dengan habitat barunya. Biaya tentu menjadi permasalahan yang berat untuk melepas liarkan Lutung-lutung ini, perawatan setiap hari di selama menjalani proses rehabilitiasi tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Upaya-upaya yang berkelanjutan sedang dan telah di inisiasi di JLC, untuk anda yang tertarik untuk membantu kegiatan ini silahkan berkunjung langsung ke JLC untuk melihat langsung dan memberikan kontribusi untuk kelestarian Lutung Jawa.
Read more...

Sunday, October 23, 2016

Bilou Kaleleu 2016

Tulisan pertama tentang kegiatan pelestarian primata di pulau di tepi samudra hindia ini, bisa di baca di sini, perjalanan ke habitat primata endemik Bilou (Hylobates klossii)  tahun 2010, bulan Desember. Dan bulan lalu setelah  hampir 6 tahun, saya kembali menghirup udara di pulau ini, untuk melihat kondisi terkini dan bagaiman perubahan yang telah terjadi terutama untuk pelestarian primata.

Kapal kayu legendaris “Sumber” sudah tidak di gunakan lagi, bayangan perjalanan 10-12 jam menyeberangi laut Sumatra, sudah berganti dengan kapal mewah dan cepat, perjalanan 157 km dari Padang menuju siberut dapat di tempuh hanya dengan waktu 4 jam saja. Kapal ini adalah salah satu perubahan yang terjadi di bumi sikerei.
Kapal Mentawai Fast

Jauh hari sebelum berangkat ke siberut, saya terlebih dahulu menghubungi beberapa sahabat yang dulu menjadi patner dalam tim Bilou, dan sungguh senang akhirnya setelah hampir 5 tahun tidak hanya berjumpa dengan mereka tapi juga keluarga yang dulu pernah saya numpang tinggal waktu di survey Bilou di kep.mentawai. Hari sabtu tanggal 16 September 2016 saya tiba dan jadwal kembali ke padang terus ke jogja sekalian di tentukan, dan saya harus kembali hari selasa tanggal 20 September 2016 waktu yang sempit dan menjadikan beberapa prioritas kunjungan di batasi di tempat-tempat yang sangat potensial. Yang saya kunjungi adalah kawasan mangrove teluk katurai hingga hutan di sekitar ds.Tololago,kemudian hutan di sekitar Bat Mara.
pompong sebagai alat transportasi

Jalan sudah semakin bagus, dan beberapa sedang di bangun menghubungkan desa-desa di Siberut yang dahulu hanya bisa di akses melalui pompong di sungai. Jalan-jalan yang baru setengah jadi ini menjadi harapan baru untuk kemajuan Siberut. Setidaknya untuk ke ladang 5 tahun lalu harus di tempuh 5-7 jam dari dusuan di muara siberut, kini bisa naik motor dan hanya beberapa menit saja.

Jalan baru di Siberut Selatan

Kawasan mangrove teluk katurai, tetap saja mempesona meskipun 5 tahun sudah saya tinggalkan, masih kurang lebih sama, bandar monachi atau terusan yang di bangun semasa misionaris di seberut tiba masih menjadi urat nadi ekonomi masyarkat siberut barat daya dan jalur aman menuju ke bagian barat pulau dengan ombak yang bagus untuk para peselancar. Hutan di sekitar dusun Tololago, hanya satu hari saja saya primate watching disini, jalur berlumpur seakan tidak berubah menjadi yang khas dan berbeda dengan daerah lain ketika pengamatan primata. Suara Joja ( Presbytis potenziani) dan bilou sempat terdengar di pagi hari, ketika menyusui jalan setapak yang dulu pernah menjadi jalur survey saya.
Menyusuri  bandar Monachi yang menuju Siberut Barat Daya


Rumah di Batmara, dimana saya pernah tinggal cukup lama di sini, telah lama di tinggalkan Teteu, sejak istrinya meninggal teteu tinggal di rumah di desa Puro. Perjumpaan dengan Bilou 5 tahun silam masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya, menyusuri jalur survey di belakang pondok ini semakin memperkuat angan-angan untuk kembali melakukan sesuatu untuk pelestarian bilou dan habitanya ini.

pondok di ladang, dimana dulu saya pernah tinggal

trekking di Bat Mara
di depan Uma Malinggai
uma sebagai tempat berkumpul kerabat

Uma baru, di desa Puro 2 menjadi tempat yang nyaman untuk kembali mengenal budaya asli mentawai, uma ini di bangun tahun 2012, dan di kelola oleh keluarga dari suku Tateburuk di tengah kemajuan yang terus mengepung dari berbagai sisi seakan mengembalikan fungsi komunal sebuah tempat rumah asli  mentawai yang bukan hanya sekedar sebagai tempat tinggal.

Semoga.. Read more...

Tuesday, August 09, 2016

Primatepacker : Traveling mengenal primata Indonesia

Mengarus utamakan pelestarian primata, sepertinya agak kurang greget di banding ordo lain, seperti burung. Birdwatching atau pengamatan burung sudah menjadi industri dan gaya hidup yang dapat menggerakkan sisi ekologi, sosial dan ekonomi. Dari melihat burung, peralatan, fotografi, dan juga networking. Terinspirasi dari kawan-kawan pegiat burung yang membuat gerakan pelestarian burung Indoneisia melalui atlas burung nusantara, sepertinya untuk primata masih ketinggalan. Lewat tulisan ini saya juga mengajak siapa saja anda yang peduli dengan primata untuk juga menjadikan kegiatan hobi satwaliar ini menjadi “mainstream” .

Monyet Simpai (Presbytis melalophos)

Primatepacker, juga istilah yang terinspirasi dari para pegiat burung, yang mempopulerkan wildlife friendly hobbi di negeri ini, sekali lagi salut kawan -kawan pegiat burung. Traveling ke suatu tempat yang baru dan melihat primata di habitat alamnya, harusnya juga bisa menjadi daya tarik wisata dan salah satu kegiatan ekonomi kreatif  yang menggerakan perekonomian di tingkat site, dan juga melestarikan primata-primata Indonesia. Saat ini terdapat kuranglebih 50an jenis primata di Indonesia, bahkan bisa lebih dengan adanya taxonomi terbaru. Primata yang secara morfologi kategori mamalia berukuran sedang, lebih mudah di amati, dan atraktif. Separuh dari jenis itu adalah endemik, hanya ada di pulau atau tempat tersebut. 
Lutung Sumatra (Trachipithecus cristatus)

Primatewatching, juga terinspirasi dari kegiatan birdwatching, dan di beberapa negara amerika selatan dan kegiatan ini juga sudah ramai, untuk mengundang pengunjung ke suatu tempat. 

Bulan juli ini saya ber traveling dengan kolega saya untuk melihat jenis Presbytis yang ada di Sumatra, Simpai (Presbytis melalophos). Salah satu monyet pemakan daun endemik pulau Sumatra. Perjalanan saya di mulai dari Gunung Tujuh Taman nasional Kerinci Seblat hingga ke Sorolangun Jambi. 

Tidaklah popular, monyet ini bukan selebritis seperti orangutan, bahkan hampir semuat tempat yang kita singgahi dan bertanya, hampir smua mengatakan monyet simpai adalah hama, mudah di jumpai di ladang dan di sekitar jalan. Atau memang hutan sudah tidak ada lagi, sehingga mereka hidup di ladang atau di pinggir jalan. Atau memang apa yang di katakana simpai itu adalah monyet daun yang kita maksud? Masih banyak pertanyaan yang jawabannya kadang harus tidak kita ragukan kebenarnya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Disinilah bedanya backpacker biasa dan “primatepacker”. 

Silahkan ikuti terus perjalanan “primatepacker” di blog ini. Read more...

Friday, August 05, 2016

Mencari Simpai di Tanah Kerinci

Jalan membelah hutan di bukit Tapan, Sungai Penuh-Tapan (Jambi-Sumbar)

Roadside observation” adalah salah satu metode survey primata yang cuku popular di era 80-90 an, kendaraan bermotor di gunakan untuk melihat sebaran primata di suatu wilayah yang luas. Saya dan Ika Y.Agustin melakukan metode survey ini untuk melihat distribusi dari surili Sumatra, jenis ini masih sangat terbatas informasinya. Melihat langsung morphology dan habitat yang digunakan monyet pemakan daun ini menjadi pengalaman yang berharga dan memberikan update terbaru terkait monyet pemakan daun dari Sumatra.

Kali ini saya menggunakan roda dua bermotor  dilengkapi dengan peralatan smartphone, camera dengan lensa tele 300 mm, video recorder, alat tulis, alat rekam suara, masing-masing pengamat membawa, untuk mendokumentasikan setiap perjumpaan dengan simpai. Kendaraan roda dua bermotor menjadi pilihan terbaik selain lebih effisien, juga dapat masuk ke jalan-jalan di hutan atau pun perkebunan yang  tidak dijangkau oleh kendaraan roda 4. Selain literature, informasi dari warga sekitar adalah referensi terbaru terkait monyet ini. Dan ternyata warga yang kita jumpai di sepanjang jalan sangat familiar dengan namya simpai, karena banyak di jumpai di ladang, belukar dekat rumah sampai rimba (hutan) .
Motor yang di gunakan di Kab.Surolangun

Belukar, menjadi istilah yang akrab dengan kami karena ini menjadi habitat yang umum di jumpai untuk tempat hidup primata-primata seperti Lutung, dan surili. Belukar ini adalah semak-semak dengan beberapa pohon kayu keras dengan ketinggian bervariasi antara 5-10 meter dan diameter relative kecil kurang dari 15 cm. Habitat yang cukup favorit adalah perkebunan karet. Karena harga karet sedang murah, banyak kebun-kebun karet rakyat d telantarkan tidak dirawat dan tumbuh seperti hutan campur yang di dominasi pohon karet. Habitat seperti ini terdapat relative banyak di sepanjang jalan antara Sugai Penuh Jambi. Menjadi tempat pengungsian bagi fauna-fauna yang terjebak di antara habitat manusia.
Kondisi habitat primata di sekitar jalan menuju Muara Imat

Perjalanan bermotor untuk tujuan melihat monyet tentu berbeda dengan traveling bermotor biasanya, perlengkapan penelitian dan perlengkapan motor tetap harus lengkap dan siap sedia. Kecepatan motor tidak bisa secepat naik motor biasanya, karena kita terus tetap melihat kanan kiri jalan dan berhenti ketika melihat monyet atau habitat yang potensial. Sering kali harus mengecek turun dan mendengarkan suara dan pergerakan monyet di antara tajuk pohon. Motor juga lebih mudah untuk masuk ke jalan-jalan setapak yang jarang di lalui  kendaraan besar. Pilihan motor juga harus di pertimbangkan, untuk berboncegan dan kenyamanan, karena kita akan menggunakan kendaraan ini untuk mungkin puluhan bahkan ratusan km, melalui jalan yang bervariasi halus aspal,gravel atau offroad berlumpur.

Baca disini tulisan sebelumnya (…Simpai Kincai) Read more...

Wednesday, May 18, 2016

Forestcoustica


Hutan dan segala isinya telah membuat banyak manfaat bagi kita, suara dari hutan tentu sangat berbeda dengan suara-suara yang di hasilkan oleh lingkungan lainnya. Entah burung, angin, air, monyet, pohon, serangga, dan masih banyak hidupan liar lainnya yang bersuara. Suara-suara ini juga hilang apabila ada yang mati. Hutan semakin sepi dengan hilangnya hidupan liar, pohon di tebang, burung di ambil, di buru, satwa-satwa di hilangkan fungsinya. Tidak lagi bersuara di hutan habita aslinya. 


Kami menyebut Forestcoustica, untuk suara-suara yang dihasilkan oleh hidupan liar yang kita dengar di hutan. Kegiatan merekam suara alam ini sudah sejak tahun 2013 kita mulai di hutan habitat Owa jawa di Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan. Mengengal hutan melalui suara-suaranya juga di arusutamakan lewat soundcloud. https://soundcloud.com/swara-owa .Playlist album swaraowa yang berisi suara-suara dari hutan tempat penelitian dan konservasi Owa jawa. Project ini terus berjalan untuk terus mendokumentasikan dan merekam suara-suara dari habitat asli. Anda yang tertarik untuk project ini bisa hubungi  lewat wawan5361@gmail.com


Read more...

Thursday, May 05, 2016

Simpai Kincai : Cerita dari dataran tinggi Kerinci


Pertamakali melihat simpai (Presbytis melalophos) adalah tahun 2002, di sekitaran Palembang, Sumatera selatan, angan-angan waktu itu pengen mengamati monyet ini lebih dekat lagi, dan baru tahun 2012 kemaren kedua kalinya saya melihat simpai, tapi lokasinya di sekitaran Sungai Penuh. Tahun 2016 ini kebetulan ada sahabat saya yang mengundang saya untuk melihat simpai lagi, study sitenya adalah sekitaran Gunung Kerinci, tidak jauh dari lokasi kedua saya melihat simpai, yaitu di sekitaran Danau Gunung Tujuh, Taman Nasional Kerinci Seblat. Simpai adalah nama lokal jenis monyet pemakan daun yang sangat luas sebarannya namun juga kurang di perhatikan, sebagai fauna endemik Pulau Sumatra. 

Tempat yang saya tuju adalah Gunung Tujuh, kebetulan sekali basecamp tempat menginap kami, disamping kantor resort Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci. Subspecies surili Sumatra tercatat juga sangat beragam, dan higga saat ini informasi sebaran subspecies tersebut sangat terbatas juga. Namun yang menarik juga kawasan hutan di sekitar kerinci ini juga menjadi habitat 2 jenis Owa yang langka, yaitu Siamang (Sympalangus sindactylus) dan  Ungko (Hylobates agilis). Tidak banyak upaya penelitian dan konservasi terkait dua kera kecil ini. Jenis primata lainnya yang tercatat di wilayah ini di antaranya, ada Lutung Sumatra (Trachypithecus cristatus), Beruk (Macaca nemestrina), dan Kukang (Nycticebus coucang) 
Mengamati primata di habitat aslinya

Kita mulai survey dari ketinggian 1400 mdpl, jalan setapak menuju Danau Gunung Tujuh, jalan mendaki dengan pohon-pohon yang tinggi besar masih nampak terjaga dengan baik. Beberapa burung juga nampak tidak takut dengan kehadiran kita. Sampai ketinggian 1660, kita melihat pertama kali seekor Simpai yang sedang makan, kurang lebih 1 menit berikutnya kita mendeteksi ada 2 individu yang lain. Tidak sampai 10 menit terlihat 4 individu yang berlari menjauhi kita. 

Hutan rawa dataran tinggi Kerinci 


Itik gunung Rawa Bento

Rawa Bento, di dusun Sungai Jernih, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi tempat inilah yang kita jadikan site kedua untuk primate watching, setelah mempersiapkan sampan dan peralatan menyusuri sungai, boat survey kita lakukan untuk mengamati primata yang mungkin ada di hutan rawa Bento. 2 sampan kecil yang di rangkai jadi satu menjadi sampan yang kita gunakan dan bisa menampung 5 orang. (2 kemudi) dan saya dan 2 teman. Survey primata yang lain daripada yang biasa kita lakukan di daratan, kali ini membutuhkan peralatan tambahan yaitu perahu/sampan, pelampung, dan smua peralatan : camera, gps, dimasukkan kedalam waterproof case. Plastik dengan zipper, sangat membatu melindungi peralatan seperti camera dan alat tulis. Dengan 3 orang pengamat dan 2 orang pendayung sepertinya masih cukup berat karena arus sungai yang agak kuat, dengan mendayung ke hulu kecepatan kurang lebih 1.5 km/jam, kita terus pasang mata dan mendengarkan suara-suara yang mungkin terdengar dari dalam rawa yang lebat. 
Rawa Bento dengan Gunung Kerinci

Rawa Bento sendiri merupakan fenomena geologi yang unik di plateu Kerinci, karena proses geologis yang mengakat permukaan bumi, membuat cekungan yang menjebak air dari sungai yang mengalir, hingga tertumpuk endapan yang sudah sekian lama terbentuk, sementara vegetasi hutan pegunungan terjebak dalam genangan air terus menerus. Keragaman flora fauna tercatat sudah ada beberapa yang melakukan assessment, namun untuk primata sepertinya belum ada informasi yang akurat mengenai jenis-jenis primata, sebaran dan upaya konservasi di Rawa Bento. 



Surili Sumatra 
Simpai Kincai
Kalau melihat IUCN redlist, surili Sumatra ini mempunyai catatan taxonomy yang masih di perdebatkan, di IUCN sendiri terdapat 4 subspecies yang di bedakan secara morphologi, dan batas geografis sebagai sebaran alaminya. Sementara (Roos et al 2014 ) yang membuat update untuk taxonomi dan status konservasi Asian Primate membuat klasifikasi baru atau merevisi taxonomy Genus Presbytis di Sumatra. Tentu hal seperti ini kadang membuat kita yang di lapangan terkadang ragu mau mengikuti taxonomy yang mana, karena kegiatan lapangan kita tentu akan menggunakan salah satu nama species tersebut untuk tujuan konservasi selanjutnya, misal publikasi dan edukasi kepada masyarakat umum. Dan ini seharusnya menjadi perhatian para pihak terkait untuk justifikasi ilmiahnya. Setidaknya inilah yang menjadi kontribusi kegiatan lapangan untuk ini, berawal dari survey lapangan harapannya nanti akan memberikan kontribusi untuk kelestarian jenis monyet di Sumatra.

Bacaan : 
Roos, C., Boonratana, R., Supriatna, J., Fellowes, J. R., Groves, C. P., Nash, S. D., ... & Mittermeier, R. A. (2014). An updated taxonomy and conservation status review of Asian primates. Asian Primates Journal4(1), 2-38.
Read more...

Monday, February 29, 2016

Drone untuk Monyet "Dronyet"

habitat primata di Gunung Lawu
 Foto dengan “seribu bahasa” tetap saja menjadi hal baru, meskipun sudah sejak lama telah menggunakan fotografi sebagai tools untuk menyampaikan sebuah pesan. Dengan berbagai sudut pandang tentu akan mempunyai makna yang berbeda, interpretasi yang sederhana namun penuh arti dapat di sampaikan melalui sebuah bingkai foto. Foto udara, kini menjadi hal yang lebih mudah dilakukan bagi setiap orang, dengan adanya teknologi pesawat tanpa awak atau pesawat yang dikendalikan jarak jauh. Salah satunya adalah “drone”, silahkan googling sendiri sejarah awal mula drone ini, dan kali ini saya dan tim swaraOwa mencoba menggunakan alat ini untuk membantu menyampaikan pesan pelestarian primata endemik jawa, untuk mengambil foto dari udara.

Peralatan baru ini terdiri dari pesawat baling-baling empat, remote control, dan smartphone. Ketiganya ini di rangkai sedemikian rupa menjadi semacam robot yang di perintah untuk pergi terbang, mengumpulkan misi berupa gambar,atau video, dan kembali pulang membawa hasil yang diperoleh selama terbang. Pengendali atau “pilot” adalah the man behind machine, yang harus dilatih kemampuan membaca situasi lapangan. Semakin banyak jam terbang semakin kuat kemampuan menganalisa kondisi lapangan. Pesawat dengan batrey dan kendali jarak jauh, memilki waktu terbang yang sangat terbatas, kurang lebih 20 menit. Jam terbang pilot juga sangat di butuhkan untuk efektifitas waktu dalam hitungan detik kadang angin berubah dan bertiup kencang, keputusan harus segera di ambil jangan sampai membahayakan pesawat dan lingkungan sekitar apabila crash Jalur terbang, sangat peting di tentukan terlebih dahulu, terlebih untuk area yang rapat vegetasi pohonnya. 


Ds. Tlogohendro, kampung disekitar habitat Owa, Petungkriyono, Pekalongan
Take off, hovering, turning, naik- turun harus di kuasai dengan baik, untuk karena harus koordinasi gerak jari di remote control, melihat pesawat dan juga melihat monitor. Karena yang kita ambil adalah foto, dasar-dasar fotografi setidaknya telah kita kuasai, “exposure” gelap- terang akan cepat berubah apabila pesawat dengan kamera kita terus bergerak. Pilot dalam hal ini selain harus mengendalikan pesawat juga harus mengambil foto. Ada beberapa pilihan foto yang harus di sesuaikan terlebih dahulu sebelum terbang.

Melihat habitat, hutan monyet dari udara sepertinya sangat jarang di peroleh, karena biasanya kita on the ground,dengan pesawat tanpa awak ini punya perpektif lain dalam menganalisis habitat, misalnya tutupan hutan, bentang lahan, monitoring perambahan habitat dan jenis-jenis pohon. Pohon dengan tajuknya mempunyai karakter warna yang berbeda, dan hal ini sangat membantu untuk analisis vegetasi. Tutupan kanopi yang saling tumpang tindih dan gap antar tajuk terlihat jelas dari foto udara. Masih banyak hal yang bisa di optimalkan fungsi dari drone untuk konservasi primata, membantu upaya pelestarian hutan.


Read more...