Sabtu, Mei 09, 2020

Laporan Terbaru : Sebaran Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai




Mentawai masih menjadi sesuatu yang berbeda di antara keunikan Sumatera, terutama dari sisi primatanya.  Dan juga tulisan ini saya tujukan untuk mengenang almarhum Dr.Tony Whitten, yang menjadi inisiator di awal pekerjaan ini. Perjalanan pertama ke Kepulauan Mentawai yang masih sangat saya ingat setiap langkahnya, ketika buku “Gibbon of Siberut” menjadi inspirasi untuk berangkat ke Mentawai di akhir tahun 2010.

tahun 2011, tim penulis bersama salah satu Sikeri di ds.Matotonan

Bulan Mei 2020 ini, secara resmi publikasi dari kegiatan saya dan teman-teman di Metawai secara resmi di terbitkan. Menjadi salah satu tulisan ilmiah terbaru di antara jurnal-jurnal ilmiah tentang keanekargaman hayati di Kepulauan yang jaraknya 157 km dari Padang itu.
Publikasi tersebut dapat di akses di journal Biodiversitas,volume 21 No 5 , Bulan Mei 2020. Publikasi berjudul “Distribution survey ofKloss’s Gibbon (Hylobates klossii) in Mentawai Island, Indonesia, merupakan hasil kegiatan penelitian survey di tahun 2010-2012, dan tahun 2017. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menilai kerapatan, distribusi, habitat dan ancaman untuk Bilou di Kepulauan Mentawai. Kawasan diluar kawasan konservasi , menjadi target lokasi survey, dengan pertimbangan kerentanan, pusat aktifitas manusia namun  memiliki potensi keanekargaman yang tinggi.
salah satu lokasi survey di Siberut

Survey di lakukan dengan kombinasi metode vocal count (berdasarkan panggilan suara bilou)  karena bilou dan jenis-jenis Owa dapat dengan mudah kita ketahui keberadaannya dengan mendengarkan suaranya, dan line transek (perjumpaan langsung) untuk dapat mengetahui komposisi kelompok Bilou dan habitatnya. Tercatat 113 panggilan suara bilou (Morning call) yang terdengar dari 13 lokasi titik pengamatan (Listening Post) dengan kerapata 1.04-4.16 kelompok/km2. 75 data dari total yang tercatat tersebut kita gunakan untuk analisis kerapatanan populasi, kenapa hanya 75 karena ada minimum kriteria jarak yang terdengar untuk metode ini. Total panjang transek yang telah kita lalui dengan berjalan kaki adalah sepanjang 67 km dan berhasil mencatat perjumpaan dengan 35 individu Bilou. Sayangnya survey di Pulau Sipora dan Pagai Selatan tidak mencatat perjumpaan dengan Bilou,suarapun tidak terdengar.
tengkorak primata di Uma Matotonan

Tim dari Uma Malinggai menjadi ujung tombak dalam survey ini, dengan kemampuan lapangan yang tidak diragukan lagi menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, selain memiliki motivasi yang tinggi untuk pelestarian primata dan budaya Mentawai. Pengalaman survey hingga mempublikasikan tulisan ini adalah pengalaman yang sangat berharga dan bisa di pertimbangkan untuk di terapkan di lokasi lain dengan target species yang berbeda dan latar belakang permasalahan yang berbeda juga. Artinya memberi kesempatan penduduk setempat untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian dan promosi konservasi primata.



Daftar Pustaka :
Setiawan A, Simanjuntak C, Saumanuk I, Tateburuk D,Dinata Y, Liswanto D, Rafiastanto A. 2020. Distribution survey ofKloss’s Gibbons (Hylobates klosii) in Mentawai Islands,Indonesia. Biodiversitas 21:2224-2232

Senin, Maret 09, 2020

Primata dan Durian : Primata Endemik dan Cita Rasa Asli Mentawai

Oleh A.Setiawan (A.Setiawan@swaraowa.org)

·         Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan budaya Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan gambar tangan dan kakinya di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar, berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang
·         Ada 5 jenis primata yang ada hanya di Kep.Mentawai yaitu  Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor)




Kalau anda penikmat durian, sekaligus hobi jalan-jalan di alam liar, anda harus masukkan Mentawai untuk tujuan wisata minat khusus ini. Kepulauan yang terletak kurang lebih 157 km dari Padang di Samudra Hindia ini menjadi sejarah alam yang harus di pertahankan untuk kita pelajari dan wariskan ke generasi selanjutnya. Ada 5 jenis primata yang ada hanya di Kep.Mentawai, yaitu Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor1

Ke lima jenis primata ini mengalami ancaman kepunahan yang tinggi, dimana IUCN telah mengkategorikan sebagai primata di kepulauan Mentawai dengan status Edangered, dan simakobu yang paling terancam punah dengan status Kritis ( Critically endangered), dan termasuk salah satu dari 25 primata yang paling terancam punah di dunia.

Pulau siberut adalah pulau terbesar, pulau Sipora menjadi pusat pemerintahan dan dua pulau besar yang lain adalah Pulau Pagai utara dan Pulau Pagai selatan. Kepulauan Mentawai sangat terkenal akan ombak besarnya di kalangan olahraga sport extreme, yaitu berselancar.  Untuk ke Mentawai dapat melalui pelabuhan Muara Padang, dengan kapal cepat “Mentawai fast’ dapat menepuh kurang lebih 4-6 jam. Tujuan primate watching trip ini ke pulau siberut, dengan Malinggai Uma Tradisional Mentawai sebagai salah satu organisasi adat yang aktif di Pulau Siberut yang akan mendampingi perjalanan melihat primata-primata asli Mentawai.

Tujuan utama kami selain untuk primate watching sebenarnya adalah memberikan pelatihan khusus kepada anggota Uma untuk mengenal hidupan liar, khususnya dari jenis amphibi dan reptile, juga tentang serangga dari jenis-jenis capung. Acara pelatihan ini dapat di baca di laporan berikut ini.



Lokasi primatewatching kami adalah di dusun Tololago, desa Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, hutan di kawasan ini diluar kawasan Taman Nasional Siberut, namun berdasar hasil survey tim Malinggai Uma kawasan hutan ini relatif baik kondisinya dan 5 jenis primata endemik Mentawai ada hutan Tololago ini. Untuk menuju hutan Tololago dari Muara siberut, melewati kawasan hutan mangrove tua yang sepertinya paling luas di Kep.Mentawai. Melalui  terusan dari Sungai Siberut ke Teluk Katurai, yang dikenal dengan nama Bandar Monaci, yang menurut cerita  dibuat oleh pastor Vatikan yang membuat terusan ini tahun 80an, terusan yang menghubungkan Teluk Katurai dan Sungai Siberut ini menjadi nadi ekonomi, yang menhubungkan kawasan penting di Siberut barat yang banyak wisatawan surfing dan penduduk siberut di sekitar Teluk Katurai, transportasi hasil bumi, perikanan, wisatawan melalui lebih dekat lewat terusan ini, dibanding menyusuri bagian luar pulau siberut yang tentunya ombak dan ongkos bahan bakar tidak mesti bersahabat. 

Hutan di Dusun Tololago saat ini menjadi tujuan wisata minat khusus yang sedang di kembangkan oleh Malinggai Uma  dan warga sekitar untuk Pengamatan Primata Mentawai. Terletak di luar kawasan konservasi, Taman Nasional Siberut hutan di belakang dusun ini masih relatif lengkap primatanya. Sayangnya kegiatan penebangan pohon untuk kegiatan pembangunan dan pengadaan rumah rakyat terlihat saat kami datang sedang mengolah kayu-kayu besar dari hutan.

Jalur pengamatan kami melewati kebun durian yang sudah terlihat hampir siap panen, ada 3 varietas durian yang ada di Mentawai, yang pertama adalah Durio zibetinus, yang seperti durian pada umumnya, buah berduri keras dan tajam, warna daging buah putih ke kuningan.  Dua lagi dikenal dengan nama Toktuk dan Kinoso, berduri panjang dan tidak tajam. Tidak seperti daerah lain, penduduk asli Mentawai lebih suka makan durian yang belum sepenuhnya masak, dagingnya masih keras dan mengkal. Katanya yang durian terlalu masak bisa membuat demam badan.
Kirekat di pohon durian
pohon durian terpilih untuk kirekat

Melihat langsung habitat asli durian Mentawai tumbuh, dan mencicip rasanya tentu merupakan pengalaman berbeda, pohon durian ini tumbuh di hutan, yang bisa dikatakan penanda untuk lahan hutan ini dimiliki oleh suku keluarga atau suku tertentu. Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan leluhur asli Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar,dan berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang. Salah satu pohon penting dalam upacara adat Mentawai. Cara makan durian di Mentawai juga berbeda, biasanya orang Mentawai lebih suka yang masih keras, atau mengkal dan membelahnya juga langsung di tebas pakai parang, jadi dua, di rasain sedikit, kalau tidak enak langsung di buang.


Pengamatan hari sore hari itu, kami lanjutkan esok paginya, jam 5.30 kami sudah bersiap dan berangkat ke hutan, kami mencata suara Bilou terdengar jelas dari belakan sebelah kanan dusun tololago, berjarak kira-kira 1 km.  kira-kira 1 jam perjalan sampai di bukit di belakan hutan kami berhenti, dan sangat beruntung sekali ketika sedang istirahat ini kami berjumpa dengan Simakobu ( Simias concolor), salah satu primata paling terancam punah di dunia. Morphologi simakobu  yang khas adalah ekornya yang pendek seperti ekor beruk, meskipun termasuk monyet pemakan daun, tubuh berwarna hitam dan muka juga hitam, ada sedikit bulu-bulu warna putih di sekililng kanan kiri pipi. Rambut di kepala agak membentuk jambul di depan dengan bagian samping rambut jambang lebih panjang. Secara taxonomy simakobu jenis monotypic, 1 genus dan 1 species saja, tidak ada subjenis lainnya, namun secara evolusi kekerabatan simakobu lebih dekat dengan Bekantan (Nasalis larvatus) yang ada di Kalimantan.
Simakobu 


Simakobu diburu, dengan alasan preferensi rasa dagingnya, selain itu alasan berburu simakobu lebih mudah, karena pergerakan simakobu ini relatif lebih lambat dibanding primata lainnya yang ada dimentawai. Ukuran tubuh dewasa yang bisa mencapai 10 kg, tidak selincah Bilou yang dapat berayun cepat dari pohon ke pohon lainnya. Dari pengamatan kami sejak kami pertama kali menjumpai simakobu, 1 individu yang kami lihat tersebut hanya diam saja, tidak bergerak sedikitpun, duduk diam dan sepertinya memang hal itu perilaku simakobu ketika bertemu manusia sebagai predator utamanya. Kondisi seperti ini sangat memudahkan para pemburu untuk menembaknya dengan senapan atau panah beracun. Pohon Dipterocarpus sp, sepertinya menjadi pohon favorit untuk bersembunyi simakobu, karakter pohon besar tinggi, daun lebar, dan biasanya banyak di tumbuhin liana, ephipit dan paku-pakuan menjadi penghalang untuk simakobu terlihat, dan karena sifatnya yang tidak bergerak sama sekali, biasanya orang akan mengira kalau simakobu yang di cari sudah tidak ada di pohon tersebut, setelah menunggu beberapa lama. Meskipun agak terlalu jauh namun cukup untuk mendapatkan foto dan melihat langsung simakobu, terlihat ada beberapa gerakan lain di cabang pohon lain, namun simakobut tidak terlihat.

Tidak berapa jauh dari kami melihat simakobu, Nampak dengan jelas sekali primata hitam dan bergerak cepat berayun dari cabang pohon ke pohon lain, ya itulah Bilou yang sejak tadi pagi  terdengar bersuara. Satu terlihat dengan jelas Jantan namun sepertinya belum sepenuhnya dewasa ,terlihat dari ukuran tubuh dan akftifitasnya yang agak jauh dari kelompok intinya, aktif berayun dari sana kemari, sesekali melihat mencari arah siapa yang ada disekitarnya, rupanya bilou ini sudah mendeteksi keberadaan kami juga. Ada 4 individu dengan 1 bayi yang masih digendong, dalam grup yang teramati. Jenis burung yang sempat termati dalam perjalanan kali ini di antaranya : Kailaba (Anthracoceros albirostris), Mainong (Gracula religiosa), Laibug (Dicrurus leucophaeus), Ngorut (Ducula aenea) dan Taktag ( Pycnonotus atriceps2.

Kailaba
Mainong


Perjalanan kembali ke Malinggai Uma, tim dari uma memberitahu kami kalau nanti kita akan ambil durian diladang, ladang ini terletak di tepi teluk Katurai, dibelakang hutan mangrove yang tadi kita lewati, benar saja ketika kami pulang melewati  teluk katurai yang tenang tersebut, pompong kami membelok ke kanan kea rah mangrove dan mencarai bandar untuk menepi. Setelah sampai daratan kami menunggu di tempat lokasi pompong kami berlabuh. Tim dari uma malinggai kemudian turun dan lansung masuk ke balik rapatnya pohon bakau dan Sagu. Lama kami menunggu setelah salah satu tim kembali ke pompong dengan 2 durian di tangan, kami disalahkan makan dan mereka balik lagi ke dalam rimbunnan pohon bakau dan sagu.



Hampir 15 menit kami menunggu, mereka kembali muncul dan kali ini dengan 3 pikul durian !!. “masih banyak lagi di dalam, smua durian, toktuk belum ada” kata Damian, cara membungkus durian juga sangat unik dengan daun sagu yang di anyam sedemikian rupa, ada sekitar 20 biji dalam masing-masing bungkusan ini. Kami pun sejenak tertegung dengan apa yang kami lihat, mereka menjelaskan kalau durian yang sudah jatuh ini bisa di ambil  oleh siapa saja yang mau, meskipun ini bukan ladang milik kita. Hampir setengah sampan penuh durian kita bawa pulang ke uma, setelah kita puas makan durian asli Mentawai ini. Untuk rasa durian, dalam satu ladang ini sepertinya cukup beragam, daging buah juga ada yang tebal dan tipis, ada rasa pahit, ada manis dan ada juga yang seperti tepung manis degan sedikit kesat. Cita rasa ini hanya ada di Mentawai !

Jenis-jenis primata dan keragaman cita rasa durian alam di kepulauan Mentawai, adalah dua kombinasi yang istimewa untuk penikmat primata di alam liar dan pecinta durian.

Daftar pustaka :
1. Setiawan A.,Agustin I Y,Handayani K.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M,.2019. Primata Kepulauan Mentawai, SwaraOwa-Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta
2. Taufiqurahman I.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M.,Setiawan A,. 2019. Burung-Burung Kepulauan Mentawai, SwaraOwa- Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta

Jumat, November 29, 2019

Orangutan dan twitter : dari belantara ke sosial media

oleh : Arif Setiawan (email: wawan5361@gmail.com)

Orangutan Kalimantan ( Pongo pygmaeus)

Saat ini dengan mudah anda dapat melihat hidupan liar, dengan terus scroll layar gadget anda dapat belajar dan tentang satwa-satwa yang terancam punah, harusnya ini lebih mudah untuk mendukung pelestarian satwaliar. Namun koneksi antara satwaliar dengan social media tidak sesederhana itu.
Foto, tulisan, komentar, video atau apapun dapat dengan mudah sekali kita temukan di sosial media, entah itu baik atu buruk, benar atau hoax dapat membentuk opini yang mempengarui persepsi public bahkan policy terkait perlindungan satwa liar dan alam.

Dengan Drone Eprit Academic, kita bisa mencoba menangkap pembicaraan di dunia maya ini, dan twitter menjadi salah satu platform media sosial yang menjadi sumber data yang bisa di tambang kapan pun dan dimanapun.

Saya mencoba melihat percakapan di twitter tentang konservasi orangutan di Indonesia, dengan hashtag #orangutan sebagai kata kunci utama dan menambahkan kata kunci . Orangutan seperti sudah kita ketahui saat ini adalah salah satu kera besar di Indonesia, menjadi perhatian global, ada 3 species orangutan, yaitu Pongo pygmaeus di Kalimantan, Pongo abelii di Sumatera dan Pongo tapanuliensis di Tapanuli,Sumatera Utara.

Seberapa populer orangutan di twitter, berapa orang yang membicarakannya,  siapa yang membicarakannya, dari mana saja, dan apa saja yang di bicarakan terkait orangutan di twitter menjadi pertanyaan dasar yang coba saya gali dari twitter dalam waktu 1 minggu. Saya mengajukan project kecil ini lewat drone emprit tangga 22 November hingga 29 November 2019.
Dan hasilnya adalah seperti ini :
Mentions
Twitter
2,508
Total
2,508

Ada 2508 yang membicarakan Orangutan di twitter, dengan trend selama satu minggu seperti grafik dibawah ini, Sebenarnya kita juga bisa liat dalam analisis itu tanggal itu apa yang banyak di mention pengguna twitter tentang orangutan, ada yang mention (twit) , kemudian me-reply dan me retwitt, nilai interaksinya juga terlihat menarik, bahwa pengguna twitter akan merespons setiap pengguna lain yang memposting terkait orangutan, dan itu puncaknya itu terjadi pada tanggal 26 November 2019.

engagement #orangutan 

Saya mencoba melihat dan memetakan  kota-kota mana dan negara mana yang menjadi base dari pengguna twitter yang membicarakan orangutan ini. Hasilnya ternyata Orangutan malah lebih banyak di bicarakan di negara luar, Amerika dan UK yang tertinggi, Indonesia berada di tempat ke 3 dengan terbanyak di Pulau Jawa, meskipun orangutan tidak ada di Jawa, mungkin karena pemerhati Orangutan ini banyak tinggal di Jawa. Dari sumatera hanya ada satu mention di Sumatera Barat, meskipun pusat-pusat konservasi orangutan tidak ada di Sumatera barat. Dari Kalimantan juga hanya terlihat satu mention selama 1 minggu ada di Kalimantan Barat.
mention #orangutan di dunia


sebaran pembicaraan #orangutan di Indonesia

Kalau kita lihat aktivitasnya postingan dengan hashtag #orangutan ini juga di barengi dengan hashtag yang lain, ada 3 hashtag yang dominan di gunakan terkait dengan orangutan, yaitu, Orangutan, GreatApe, dan Bonobo. Kita tahu bahwa orangutan ini adalah kerabesar yang hanya ada di Indonesia, dan Bonobo ini adalah kera besar yang ada di Afrika.
Ada kelompok hashtag yang lain yang juga terkait dengan orangutan misalnya Etsy, ini adalah salah satu marketplace global yang menjual produk-produk untuk mendukung kegiatan konservasi atau pengembangan komunitas. Palm Oil juga digunakan sebagai hashtag terkait orangutan, kita tau masalah palm oil ini juga sedang ramai di eropa, karena katanya produk sawit di Indonesia banyak menghilangkan habitat asli orangutan.


Hashtag yang paling sering digunakan

Top influencer, ini seperti perekat di jaringan twitter, percakapan tidak akan muncul kalau tidak di awali oleh akun-akun ini. Dan ada satu akun yang tidak asing bagi saya,  @BorneanOU menjadi salah satu top influencer untuk percakapan tentang Orangutan di twitterverse.
Kita juga melihat kelompok-kelompok yang aktif di twitter membentuk interaksi saling terkait, dengan akun-akun tertentu yang dominan. Dari gambar sosial network analisis terlihat seperti dibawah ini. Akun @orangutanprosp ini membetuk ruang yang besar dengan interaksi yang kuat dengan pengguna twitter lainnya, dan tidak terkait dengan kelompok lainnya misal @rainmaker1973 membentuk jaringan  interakasi di ruang yang lebih kecil dibanding @orangutanprosp. Kita bisa cek akun –akun ini sebenaranya profil akun-akun ini, untuk melihat apa yang menjadi pembicaraan dan isu apa yang ingin di munculkan untuk mendapat perhatian di jagad maya twitter.

top influencer #orangutan

Social network analisis

Secara umum untuk analisis ini ,masih perlu di pertajam namun saya menyebut ini adalah “rising tools” yang dapat digunakan untuk para konservasionist mengembangkan public awareness untuk pelestarian alam. Kekuatan sosial media sangat mungkin mempengaruhi kebijakan politik dan sosial media juga mempunyai potensi mendekatkan pengguna sosial media ke alam, dan untuk lebih menghargai alam. Salam lestari.


Bacaan :
Wich, S.A., Setia, T.M. and van Schaik, C.P. eds., 2010. Orangutans: geographic variation in behavioral ecology and conservation. OUP Oxford.


Rabu, September 25, 2019

Mentawai Primates : Strengthen cultural Identity and Grassroots Conservation

written by : Arif Setiawan
Kloss's Gibbon Photograped by Ismael, a day before departure to Yogyakarta

Biggest meeting of  Indonesian Primate  enthusiast have been done this week in Yogyakarta, 18-20 September 2019. Nearly 300 people gathered together, participants, invited guest, and officials, Indonesian primate enthusiast coming with their recent presentation talk and posters. Here I notice my personal insight towards Mentawai primates and it’s conservation effort on during the conference.
First, about opening ceremony, it has been long discussion with organizing committee, to perform something entertain but related to Indonesian primates. Than come up with two option i.e  : hanuman classic dance or Mentawai Primate traditional dance, than the committee select Mentawai primate dance that will be perform during opening ceremony. 
dance training before the real stage, it was in Uma

Seprianus perform as an eagle flying, training in Uma

Honestly it was not easy to make it, fortunately we have been working with a Mentawaian community since several years ago, with the Uma Malinggai Traditional Mentawai, so I talk to the team in Uma about this plan and to do  perform traditional dance from Mentawai, introducing mentawai culture and nature to the special guest of Indonesian primate congress and symposium. . So  the team prepare all the things in less than one month, 6 students from southern siberut  was selected by UMA elders to come and perform in the opening ceremony of the 5th congress of Indonesian Primatological Association and symposium on  Indonesian primates. 

Every week I got update from Siberut, this is will be the first experience of these mentawaian going out far away from their home. While the dance team always send me update during practice, and dance have decided will perform about Mentawai gibbon dance and bird of prey dance.  

Long way trip, from Siberut to Yogyakarta, have made some Uma members are exhausted,  6 hours by ferry, a night stop at Padang than fly to Jogjakarta, 14 September leaving for Yogyakarta, and arrived on 16 September. One day arrived in Yogya this Mentawai team have opportunity to do dance exercise in the venue and prepare all the things with conference  organizer team.

On the day, opening ceremony everybody are nervous, when the host calling and introduction all dancers are so gorgeous and amazing, they did so confidence and attract audience. Watch here for their performance :


This dance  are perform usually for traditional ceremony in Mentawai, there are 3 gibbons who live  happily in the forest and looking for water to drinks.

Mentawai primate talks, I noticed some talks presentation about Mentawai primates, and meet people who work and interested on Mentawai Primate conservation fieldwork. There are 3 presentation talk about Mentawai primates, first is on the Biomedical and Biomolekular Symposium, Rizka Hasanah from Bogor Agricultural University, present her research entitled with “ Analisis Keragaman Genetik berdasarkan marka D-loop mtDNA dan gen TSPY pada Siamang Kerdil (Hylobates klossii) Kepulauan Mentawai” from her presentation the conclusion is there is four haplotype based on mtDNA of Kloss gibbon in Mentawai, however need more sample for to get more information on the genetic.

Mentawai wildlife watching trip, have been launch during  Indonesian Gibbon Symposium 

Second talk is from Damianus Tateburuk, replace his colleague Ismael Saumanuk for a talk entitle with “ Gibbon Watching : Promosi Konservasi Primata Mentawai”, a collaborative work between Uma Malinggai and my team at swaraowa to promote conservation of Mentawai primates. Dami was said that we have been prepare sites for primate watching and launch a trip for primate watching in Mentawai,with a wildlife tour based in Yogyakarta (Loontour). Pocket guide of Mentawai also have been finished and ready to use for educational purposes among mentawaian and field guide reference. And my talk it self is about distribution status of kloss gibbon in Mentawai, based on 2011-2012 survey and 2017 fieldwork.


Pocket Guide of Mentawai Primates : a field guide reference for primate watching in Mentawai Island. official introduction conducted at NGOPI (Ngobrol Primata Indonesia), Damian and Me was introduce this book as authors and coauthors for this book.  This book available for sell and can be purchased at Swaraowa’s booth during the conference, if you want to buy online please contact swaraowa at gmail dot com. We also introduce the book to Ibu Indra as Director for KKH of Ministry of forestry.

Pocket guide of Mentawai Primates

It was a great opportunity to introduce Mentawai primates and it’s cultural value among primatologist, with hope will gain more attention to support conservation fieldwork in Mentawai. The most important is to bring new experience and motivation for the Mentawaian who involved directly in this meeting, I am sure they will back to their native habitat with good memories that their primates and culture value received highest appreciation.

Sabtu, Agustus 03, 2019

Burung Burung Kepulauan Mentawai

kegiatan tahun 2010 di Siberut


"The gibbon of Siberut", karya Tonny Whitten adalah salah satu buku menginspirasi saya untuk ke siberut, saya dapat buku ini tahun 2000, berisi catatan perjalanan Tonny Whitten dan istrinya pada tahun 1975-1978 di Siberut, dan tahun 2010 saya pertama kali menginjakkan kaki pertama kali di bumi Sikerei, hingga awal tahun 2012 banyak cerita dan pengalaman bersama tim lapangan dari Siberut Selatan. 
kegiatan tahun 2012 di Siberut Barat Daya

Kemudian tahun 2017 bersama SWARAOWA kegiatan untuk mendorong peningkatan pengetahuan dan ketrampilan untuk kawan-kawan yang aktif di Uma Malinggai Tradisional Mentawai, di Siberut Selatan dimulai. Dengan menggabungkan kegiatan pengamatan satwa dan fotografi setiap ke lapangan mendokumentasikan foto dan video satwa-satwa liar kep.Mentawai.
tim Malinggai Uma, kegiatan tahun 2017


Kegiatan pengamatan yang awalnya hanya fokus untuk jenis-jenis primata, juga mengumpulkan foto-foto satwa lainnya. Untuk jenis-jenis burung karena awalnya memang tidak tahu namanya, beruntung sekali ada salah satu orinitologist dari Yogyakarta Imam Taufiqurrahman turut serta ke Mentawai, foto-foto yang di kumpulkan oleh tim Malinggai Uma satu persatu mulai di identifikasi.
Penyusunan buku ini akhirnya di rencanakan setelah Imam ikut beberapa kali ke Mentawai, mengunjungi Siberut dan Sipora. Menurut catatan Imam ada 178 jenis burung Mentawai, yang sudah tercatat dalam publikasi Imiah, dan foto yang di kumpulkan selama pengamatan lapangan meskipun kita tidak ada di Mentawai juga semakin bertambah.
Buku Burung-Burung Kepulauan Mentawai

Hingga akhir 2018, setidaknya sudah 82 jenis burung sudah dijumpai dan ada foto nya. Penyusunan buku  burung Mentawai yang di motori Oleh Imam akhirnya menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan dukungan support yang kita dapatkan dari FortwayneChildren’s Zoo.
Bulan Mei 2019, Imam dan kawan-kawan dari Malinggai Uma ( Damianus, Ismael dan Mateus) bertemu Bupati Mentawai, Bp Yudas Sabagalet, membawa draft buku burung Mentawai dengan memohon untuk memberikan sambutan di buku yang disusun bersama ini. Pertemuan dengan kepala daerah menjadi motivasi tersendiri bagi tim penyusun buku ini.

Setelah mendapatkan no ISBN dari perpustakaan nasional buku burung-burung Mentawai ini telah secara resmi di publikasikan, dan kami juga menjual buku ini untuk selanjutnya keuntungan penjualan buku ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan lapangan di Mentawai.  Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan kekayaan alam Mentawai, untuk pembelian buku ini silahkan melalui link ini: https://shopee.co.id/Burung-Burung-Kepulauan-Mentawai-i.4837480.2432705311


Selasa, Juni 11, 2019

Lutung Dahi Putih : Catatan Baru di Kalimantan Tengah

Presbytis frontata Lutung dahi Putih


Catatan perjumpaan terbaru untuk salah satu jenis primata endemik Kalimantan di laporkan oleh tim swaraowa, dari kegiatan pengamatan primata bulan Oktober tahun 2018.
Temuan ini menambah pengetahuan tentang sebaran dan populasi primata ini di Kalimantan Tengah, dan sudah di publikasikan melalui jurnal  Southeast Asia Vertebrate Record, dan bisa download melaui link berikut.   Lutung dahi putih (Presbytis frontata) adalah jenis monyet pemakan daun endemik Kalimantan. Dengan ciri hitam di seluruh tubuh dan warna putih di bagian kepala depan, Lutung ini sangat berbeda dengan jenis surili  dari genus presbytis lainnya yang ada di Kalimantan. Menurut IUCN Red list, primata ini masuk dalam kategori vulnerable (VU) 1 dan masuk dalam kategori satwa dilindungi ( NOMOR P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018)

Beruk (Macaca nemestrina)
(Presbytis rubicunda) Lutung merah

Perjumpaan dengan primata ini berada di kawasan HCV Bukit Santuai, yang terletak konsesi perkebunan Kelapa Sawit Agro Wana Lestari, Kota Waringing Timur, Kalimantan Tengah. Menurut Ika Yuni Agustin, di hutan alam di Bukit Santuai ini juga menjadi habitat Owa (Hylobates albibarbis), Lutung merah ( Presbytis rubicunda) juga ada Beruk (Macaca nemestrina), dan Monyet Ekor panjang ( Macaca facicularis).


1. Meijaard, E. & Nijman, V. 2008. Presbytis frontataThe IUCN Red List of Threatened Species 2008:e.T18127A7665520. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18127A7665520.enDownloaded on 08 April 2019.

Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan Petungkriyono

  Oleh : Ahmad A Fahmi, Arif Setiawan, 22 Maret 2019

  •   Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis 
  • Habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa, seperti : Owa, Macan tutul, Elang Jawa
  • Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan
  • ·Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya.
  • Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif  bagi keanekargaman hayati dan potensi ekonominya dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir,



Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah Selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan, Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan.


Kecamatan Petungkriyono berada di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di bagian Selatan. Luas wilayah Kecamatan Petungkriono adalah 7.358,523 ha yang sebagian besar adalah hutan negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 ha (16 %) dari luas wilayah. Kawasan hutan di Kecamantan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang masih tersisa di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sebagian kawasannya yang masih utuh, rangkaian pegunungan Dieng di tengah Pulau jawa, mampu mendukung kehidupan beberapa satwa langka yang terancam punah seperti Elang jawa, monyet daun (Lutung dan Rekrekan, Macan tutul dan juga juga satwa endemik jawa yang sangat penting yaitu owa jawa (1; 2). 


Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis . Hutan lindung memiliki luas 1931,90 ha (SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004) (3). Hutan lindung Petungkriyono berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas, Hutan lindung Petungkriyono masih merupakan hutan primer yang relatif terjaga, dengan tipe vegetasi hutan hujan tropis. Hutan primer merupakan hutan yang belum pernah dilakukan tebang habis (4).
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Potensi dan Ancaman
Kondisi hutan yang masih utuh memberikan dampak sangat positif terhadap lingkungan sekitarnya, dimana banyak sungai dan air terjun yang masih dialiri air jernih sepanjang tahun. Dengan kondisinya yang masih alami, Kawasan Hutan Petungkriyono mempunyai potensi wisata alam yang sangat besar. Pada saat ini terdapat sekitar  8 obyek wisata alam yang terdapat di kawasan tersebut yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Perhutani.

Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan. Ekowisata meskipun sudah menjadi wacana di tingkat pemerintah daerah semenjak tahun 2005 namun masih belum dikembangkan secara serius meskipun potensi yang ada sangat besar.Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Petungkriyono saat ini tengah mengembangkan banyak inisiatif dan membangun berbagai obyek wisata di sekitar kawasan hutan ini. Berbagai atraksi coba dikembangkan oleh masyarakat seperti, melihat air terjun, wisata sungai ( river tubing, river tracking), pengamatan satwa di alam dan umumny pemandangan bentang lahan dan topografi bergunung dengan kehidupan pedesaan yang asri.

Pengembangan potensi wisata ini masih bersifat sporadis dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat atau individu secara mandiri. Pihak pemerintah daerah sendiri sangat mendukung dengan pengembangan wisata alam ini. Sejak tahun 2018 dilakukan penyempurnaan akses ke dalam kawasan dengan memperbaiki jalan. Saat ini akses jalan ke dalam kawasan sangat lancar karena jalan sudah berupa aspal hotmix dengan lebar 4 m. Dengan semakin terbukanya akses ini maka kegiatan wisata di kawasan ini semakin marak.

Berkembangnya wisata alam di kawasan ini merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat. Kunjungan semakin meningkat pada hari-hari libur. Namun disisi lain kegiatan wisata ini berpotensi untuk meningkatkan gangguan terhadap kehidupan satwa liar yang ada di kawasan, jika tidak terkendali kegiatan wisata yang berlebihan justru dapat berefek negatif terhadap satwa liar seperti Owa Jawa yang merupakan ikon kawasan ini.

"primatewatching" salah satu kegiatan wisata minat khusus

Di sisi yang lain ternyata kawasan ini juga masih mengalami tekanan dan juga gangguan. Kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum seperti perburuan liar dan juga pembalakan liar masih terjadi di kawasan hutan ini. Perburuan liar yang terjadi saat ini dilakukan oleh pendatang dari luar dan sebagian juga masyarakat setempat. Jenis satwa yang diburu adalah terutama jenis-jenis burung, kijang , Ayam hutan, babi hutan, luwak, trenggiling, landak, dan berbagai macam satwa lainnya. Bisa dikatakan tidak ada jenis satwa spesifik yang dijadikan target dimana satwa yang dijumpai itulah yang akan diburu.

Meskipun tidak dalam jumlah besar dan masif, disinyalir masih terdapat praktek illegal logging yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Meskipun skala penebangan tersebut kecil namun jika dilakukan secara terus-menerus maka dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem hutan. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering dijadikan target favorit para penebang yaitu kayu wuru dan kayu babi. Fenomena perburuan liar dan juga illegal logging yang terjadi di kawasan hutan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan yang saat ini ada masih belum mampu memberikan jaminan keamanan bagi kawasan hutan ini.

Kebutuhan Dukungan Parapihak dan Nilai Penting Kolaborasi

Hutan dengan segala potensi dan fungsinya, sejatinya berhubungan dengan kepentingan banyak pihak. Kelestarian hutan bukanlah kepentingan pihak pengelola (dalam hal ini Perhutani, misalnya). Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Kerusakan hutan juga akan memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan juga potensi ekonomi masyarakat seperti potensi wisata alam.

Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya. Pengelolaan wisata alam yang baik dan berkelanjutan ke depan tentunya juga membutuhkan peran banyak pihak. Dengan demikian pengelolaan Hutan Petungkriyono sejatinya juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak selain institusi utama yaitu Perhutani. Masyarakat dan pemerintah desa perlu ditingkatkan kepeduliannya dalam hal ini. Instansi pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi juga seharusnya memberikan kontribusi positif bagi pengelolaan Hutan Petungkriyono yang lestari dan mensejahterakan masyarakat. Beberapa pihak yang terkait dengan kawasan ini adalah:

Table. Para pihak dan Fungsi Utamanya
Para Pihak
Fungsi/Peran Utama Yang diharapkan dalam pengembangan manajemen kolaboratif

Perhutani KPH Pekalongan Timur
Pengelolaan kawasan Hutan Petungkriyono secara umum.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Berwenang dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Mengkoordinasikan peran parapihak di tingkat provinsi maupun nasional
Bappeda Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Tengah
Pelestarian sumberdaya hayati terutama spesies langka di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di kawasan Hutan Petungkriyono dan sekitarnya
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
-         Mengembangkan program-program yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup
          Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas lingungan hidup
Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan destinasi dan obyek wisata yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial
Dinas PU
Meningkatkan kualitas infrastruktur
Kepolisian
Penegakan dan pembinaan hokum hokum
Pemerintah Desa
          Mengembangkan dan menjalankan kebijakan pembangunan desa yang ramah lingkungan  sesuai kewenangannya
        Mengembangkan program-program kesejahteraan berbasis dana desa
Masyarakat Desa  
Mengembangkan potensi hutan secara berkelanjutan,

      Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan
Organisasi masyarakat / LSM
Pengembangan kapasitas, advokasi, networking, dll
Pihak Swasta/Perusahaan
            Mengembangkan  investasi berdasarkan prinsip keberlanjutan
            Pengembangan program-program Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan (CSR)

Keterlibatan dan kontribusi dari berbagai pihak ini seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri namun juga ditopang oleh semangat mengembangkan sinergi atau keterpaduan sehingga terjadi hubungan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga pengelolaan kawasan ini dapat berjalan secara optimal. Jika peran parapihak ini  tanpa didasari oleh semangat menjalin sinergi maka hal ini dapat menyebabkan berbagai persoalan ke depan berupa konflik kepentingan antar pihak.(5) Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah proses kolaborasi parapihak yang berkepentingan dengan pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Tujuan dari pengembangan Pengelolaan Kolaboratif di Kawasan Hutan Petungkriyono adalahMengembangkan kesepakatan-kesepakatan  parapihak yang terkait dengan Hutan Petungkriyono yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan keberlanjutan pengelolaan potensinya. Mengembangkan keterpaduan dan sinergi parapihak yang mempunyai kepentingan terhadap pengelolaan Hutan Petungkriyono. Mengembangkan dukungan yang lebih luas terhadap pengelolaan potensi dan pelestarian Hutan Petungkriyono

Dalam jangka pendek kegiatan pengembangan co-manajemen ini akan menghasilkan sebuah dokumen Rencana Induk Kolaboratif yang berisi gagasan mendasar dan umum parapihak dalam memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan Hutan Petungkriyono

Beberapa dampak yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Rencana Kolaborasi Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono  adalah sebagai berikut: Munculnya keterpaduan dan sinergi yang konstruktif diantara parapihak yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terkoleksinya data sebagai basis analisis untuk pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terbukanya jalinan komunikasi antar pihak yang berkepentingan dengan Kawasan Hutan Petungkriyono sehingga mengurangi dan mencegah resiko konflik di masa yang akan datang. Meningkatnya kemampuan parapihak terutama masyarakat desa dalam menyusun langkah-langkah pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka:

1 . Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx, 32(2), pp.145-156.
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004
4. Fisher, R.J., 1995. Collaborative management of forests for conservation and development (p. 65). Gland, Switzerland: Iucn.



Laporan Terbaru : Sebaran Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai

Mentawai masih menjadi sesuatu yang berbeda di antara keunikan Sumatera, terutama dari sisi primatanya.  Dan juga tulisan ini say...