Thursday, January 21, 2016

Ponsel Cerdas untuk Monyet

Kemampuan ponsel saat ini sudah luar biasa, kira kira 3 tahun yang lalu dilapangan kita selalu tergantung kepada beberapa alat penelitian, khususnya untuk data recording. GPS seukuran kepalan tangan, Kompas, camera pocket, lensa makro, belum lagi alat tulis dan peta. Namun kini dengan satu alat saja semua sudah tersedia. Smartphone yang berkembang saat ini sangat membatu kegiatan penelitian dan pelestarian alam, catatan penelitian tinggal di tulis dan disimpan dalam smartphone, mencatata posisi koordinat, ketinggian lengkap dengan keterangan foto dan video juga bisa dilakukan, dan tinggal disimpan di “awan” kemudian bisa kita share dengan teman atau di media sosial.

ponsel cerdas juga ringan di bawa untuk primate watching

Dengan kemampan cerdasnya ponsel ini juga berkontribusi utuk membantu kegiatan pelestarian alam disekitar kita. Sudah banyak tempat-tempat yang kita foto dan kita bagikan kepada orang lain lewat media sosial, mengundang orang lain untuk datang dan akhirnya tempat itu jadi ramai bahkan beberapa kasus sebelumnya juga obyek alam tersebut jadi rusak dan tidak dapat di pulihkan dalam waktu yang singkat.

Kisah badak afrika, geotag dalam foto memudahkan pemburu dalam mencari lokasi badak yang akan diburu dan di ambil culanya. "Selfie seeker" trend baru di dunia sosial media, selain membuat terkenal sebuah lokasi juga membahayakan habitat dan diri mereka sendiri karena kadang ingin meraih "like" atau "comment" yang banyak. Tidak hanya foto bahkan beberapa pemburu ini memanfaatkan jurnal penelitian yang memuat temuan species baru, dan ironisnya species itu baru beberapa minggu sebelumnya di terbitkan dan sudah di temukan tersebut di temukan di pasar satwa.(baca disini).



dengan ponsel anda juga bisa menjadi ilmuwan warga (citizen scientist)

Ada juga yang mengungah foto-foto yang tidak ramah sama sekali, hewan buruan yang di dapat dan dengan bangganya mendapat like dari banyak orang. Kemudian menjadi viral untuk tidak hanya menghujat namun juga beberapa di ataranya katanya juga di tindak tegas sesuai hukum yang berlaku. ponsel pintar, namun juga belum tentu di gunakan sesuai ke pintarannya. Foto-foto dari ponsel pintar ini, semakin membuat simpel perdagagan satwaliar dan berkembangnya hobi memelihara binatang tentu membuat pasar-pasar hewan semakin sepi, dan binatang-binatang hutan banyak di habitat sosial media. transaksi semakin tinggi mendekatkan binatang yang biasa di hutan dengan manusia, hewan-hewan semakin berkemanusiaan, karena selalu dalam habitat manusia, makan, minum, kawin, smua disediakan, tanpa peduli resiko penularan penyakit. Hutan semakin sepi, kosong dan tidak berpenghuni. Rantai makan dan dimakan yang menjadi alur keseimbangan alam menjadi kacau karena satu mata rantai hilang. Lucu menjadi alasan utama untuk membawa hewan liar ini dalam habitat manusia.


Tekanan terhadap habitat satwaliar dan alam yang tidak pulih pada umumnya sudah tentu akan semakin tinggi dengan teknologi informasi yang cepat ini, Jepret , unggah, like, share dan share...kemudian berbondong-bondong datang ke tempat tersebut. Dari sisi ekonomi tentu ada dampak, karena kegiatan kunjugan juga tentu banyak jasa yang terkena efeknya. Interaksi langsung pengunjung dan warga setempat juga akan mengalami dinamika perubahan. Bagaimana dari sisi ekologi dan sosial budaya? bagaimana ponsel pintar ini juga mengajak dan melestarikan alam??

Ponsel pintar dan kekuatan sosial media yang sedang naik daun ini harusnya bisa menjadi tools baru untuk para ilmuwan,pegiat pelestarian alam, pemerintah, untuk melestarikan species yang terancam punah dan juga habitatnya.

1 comment:

Innnayah said...

Betulll..pemanfaatan teknologi untuk kebaikan ya kaa