Monday, February 06, 2012

Surili Sumatra (Mitered leaf monkey)


Pertamakali saya melihat jenis primata ini adalah kira-kira tahun 2002 di Sumatra selatan, waktu itu sedang magang kerja di salah satu Hutan Tanaman Industri. Simpai adalah nama lokal orang sering menyebut jenis monyet pemakan daun ini. Termasuk dalam keluarga Cercopitheciday, subfamily Colobinae  dan scientific namenya adalah Presbytis melalophos, common name atau nama inggrisnya adalah Mitered Leaf  Monkey. Kenapa mitered, mungkin karena rambut dikepalanya memebentuk sedemikian rupa, mirip mahkota yang sering digunakan para “bishop” pemimpin agama katolik.  Yang saya ingat waktu itu adalah monyet ini berwarna merah kekuningan dengan bagian depan berwarna putih. Nah akhir tahun lalu saya sempat melihat-lihat beberapa tempat di Sumatra, tepatnya hunta-hutan sekitar Gunung Kerinci, dan beruntung sekali melihat jenis presbytis pulau Sumatra ini,  ya ini Simpai , setelah beberapa tahun silam melihatnya, dan kali ini jarak cukup dekat sehingga jelas sekali terlihat morphologi monyet surili daratan Sumatra. Setelah saya liat-liat di buku Pictorial guide to the living primate, ternyata ada 4 subspecies surili Sumatra, Bicolor, Mitrata, Nobilis, dan Melalophos. Dalam kategori daftar merah IUCN species ini termasuk Endangered.
Surili Sumatra yang saya jumpai kali ini  berada di wilayah administrative Kab.Solok Selatan, Kec. Sangir, Ds.Sungai lambai,habitat hutan sekunder dekat dengan perkebunan, relative dekat dengan kegiatan manusia, dan nampak mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, karena tidak takut dan tidak langsung lari. Suara monyet ini hampir sama dengan suara Surili Jawa, agak mirip juga dengan Lutung merah dari Kalimantan. Tidak banyak penelitian ataupun survey jenis surili Sumatra ini, jadi untuk statusnya sekarang sebenarnya juga tidak jelas karena tidak adanya data yang cukup. Sebaran jenis surili Sumatra masih belum jelas, bahkan juga taxonominya masih di perdebatkan juga. Hilangnya habitat, konversi hutan untuk perkebunan, pertanian, pemukiman, jalan dan lain sebagainya adalah ancaman yang nyata dari monyet ini. Sepertinya juga monyet ini memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan habitat, seperti yang saya temui ini, malah kadang masyarakat sekitar menganggapnya sebagai monyet penganggu, karena sering masuk ke ladang-ladang. Disisi lain sebenarnya ini juga potensi juga untuk wisata minat khusus pengamatan primata, karena warnanya yang sangat “colourful” menurut saya dan mudah dijumpai, bisa digunankan sebagai icon untuk wisata alam setempat, karena tidak perlu jalan jauh ke dalam hutan dan mendaki gunung yang tinggi sudah bisa ketemu dengan monyet ini, mungkin bisa juga alasan seperti ini untuk melindungi habitatnya bisa lewat hal seperti ini juga.

No comments: