Tuesday, March 06, 2012

Urban ekologi monyet ekor panjang

Beberapa minggu yang lalu, pemberitaan tentang monyet ekor panjang yang menyerang penduduk desa di Jawa Timur cukup ramai. Monyet-monyet ekor panjang memang seringkali dijumpai di habitat manusia ataupun kawasan yang dibangun oleh manusia, dan memang sepertinya juga sudah “coexist” dengan manusia. Selain karena tempat hidupnya hilang di alih fungsikan, perilaku kita sebagai manusia kadang membuang sampah sembarangan juga mengundang datangnya monyet-monyet ini. Kasus di sidoarjo Jawa timur ini sangat mungkin terulang lagi dan mungkin juga lebih parah, karena banyak tempat di Indonesia menjadi distribusi monyet ekor panjang (1). Monyet-monyet ini juga telah di laporkan menyerang lahan penduduk di berbagai tempat di Jawa, dan menjadi hama bagi hutan tanaman industry di Sumatra. Tidak lagi di hutan yang susah di jangkau manusian, melainkan di kawasan urban , monyet-monyet ini tinggal.  Banyak lokasi wisata juga menggunakan icon species ini sebagai daya tariknya, monkey forest park di ubud salah satu yang terkenal dengan monyetnya, menurut catatan pengelola tentang jumlah individu yang ada di tempat ibadah (pura) ini mengalami trend peningkatan 2 kali lipat dibanding tahun 1999, saat ini ada sekitar 500 an individu(4). Terlepas dari apakah juga ada catatan tentang agresifitas monyet terhadap pengunjung atau tidak, potensi konflik antara monyet dan manusia tentu akan meningkat seiring dengan meningkanya kompetisi antar idividu,  setidaknya untuk mendapatkan sumber pakan dan tempat berlindung.  Pemberian pakan juga banyak dilakukan kepada monyet-monyet ini dengan berbagai alasan spiritual ataupun  hiburan yang menarik, semakin mendekatkan kontak antara manusia dan monyet-monyet ini secara langsung. Coexistence antara manusia dan monyet belum banyak yang meneliti di wilayah Indonesia yang merupakan sebaran terluas dari monyet ekor panjang . Beberapa studi telah melaporkan bahwa ada transfer penyakit antara monyet dan manusia atau sebaliknya , seperti malaria , rabies, dan herpes.  (2,3). 
Literatur

No comments: