Sunday, October 23, 2016

Bilou Kaleleu 2016

Tulisan pertama tentang kegiatan pelestarian primata di pulau di tepi samudra hindia ini, bisa di baca di sini, perjalanan ke habitat primata endemik Bilou (Hylobates klossii)  tahun 2010, bulan Desember. Dan bulan lalu setelah  hampir 6 tahun, saya kembali menghirup udara di pulau ini, untuk melihat kondisi terkini dan bagaiman perubahan yang telah terjadi terutama untuk pelestarian primata.

Kapal kayu legendaris “Sumber” sudah tidak di gunakan lagi, bayangan perjalanan 10-12 jam menyeberangi laut Sumatra, sudah berganti dengan kapal mewah dan cepat, perjalanan 157 km dari Padang menuju siberut dapat di tempuh hanya dengan waktu 4 jam saja. Kapal ini adalah salah satu perubahan yang terjadi di bumi sikerei.
Kapal Mentawai Fast

Jauh hari sebelum berangkat ke siberut, saya terlebih dahulu menghubungi beberapa sahabat yang dulu menjadi patner dalam tim Bilou, dan sungguh senang akhirnya setelah hampir 5 tahun tidak hanya berjumpa dengan mereka tapi juga keluarga yang dulu pernah saya numpang tinggal waktu di survey Bilou di kep.mentawai. Hari sabtu tanggal 16 September 2016 saya tiba dan jadwal kembali ke padang terus ke jogja sekalian di tentukan, dan saya harus kembali hari selasa tanggal 20 September 2016 waktu yang sempit dan menjadikan beberapa prioritas kunjungan di batasi di tempat-tempat yang sangat potensial. Yang saya kunjungi adalah kawasan mangrove teluk katurai hingga hutan di sekitar ds.Tololago,kemudian hutan di sekitar Bat Mara.
pompong sebagai alat transportasi

Jalan sudah semakin bagus, dan beberapa sedang di bangun menghubungkan desa-desa di Siberut yang dahulu hanya bisa di akses melalui pompong di sungai. Jalan-jalan yang baru setengah jadi ini menjadi harapan baru untuk kemajuan Siberut. Setidaknya untuk ke ladang 5 tahun lalu harus di tempuh 5-7 jam dari dusuan di muara siberut, kini bisa naik motor dan hanya beberapa menit saja.

Jalan baru di Siberut Selatan

Kawasan mangrove teluk katurai, tetap saja mempesona meskipun 5 tahun sudah saya tinggalkan, masih kurang lebih sama, bandar monachi atau terusan yang di bangun semasa misionaris di seberut tiba masih menjadi urat nadi ekonomi masyarkat siberut barat daya dan jalur aman menuju ke bagian barat pulau dengan ombak yang bagus untuk para peselancar. Hutan di sekitar dusun Tololago, hanya satu hari saja saya primate watching disini, jalur berlumpur seakan tidak berubah menjadi yang khas dan berbeda dengan daerah lain ketika pengamatan primata. Suara Joja ( Presbytis potenziani) dan bilou sempat terdengar di pagi hari, ketika menyusui jalan setapak yang dulu pernah menjadi jalur survey saya.
Menyusuri  bandar Monachi yang menuju Siberut Barat Daya


Rumah di Batmara, dimana saya pernah tinggal cukup lama di sini, telah lama di tinggalkan Teteu, sejak istrinya meninggal teteu tinggal di rumah di desa Puro. Perjumpaan dengan Bilou 5 tahun silam masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya, menyusuri jalur survey di belakang pondok ini semakin memperkuat angan-angan untuk kembali melakukan sesuatu untuk pelestarian bilou dan habitanya ini.

pondok di ladang, dimana dulu saya pernah tinggal

trekking di Bat Mara
di depan Uma Malinggai
uma sebagai tempat berkumpul kerabat

Uma baru, di desa Puro 2 menjadi tempat yang nyaman untuk kembali mengenal budaya asli mentawai, uma ini di bangun tahun 2012, dan di kelola oleh keluarga dari suku Tateburuk di tengah kemajuan yang terus mengepung dari berbagai sisi seakan mengembalikan fungsi komunal sebuah tempat rumah asli  mentawai yang bukan hanya sekedar sebagai tempat tinggal.

Semoga..

No comments: