Gibbon Tour Asia : dari Jawa ke Thailand

land mark Khao Yai National Park @Arif Setiawan

Ketika mendapat surat undangan untuk ke Thailand dan berlokasi di Bangkok, angan-angan untuk melihat owa di negara ini langsung tertuju ke Khaoyai National Park. Karena disinilah penelitian-penelitian awal untuk Owa, khususnya untuk estimasi populasi. Nama waren Brockelman, Srikosamatra akan muncul apabila kita cari di google search, untuk Owa dari Thailand, pada tahun 70-80an.

Undangan dari IUCN SOS untuk ke Thailand adalah untuk workshop tentang konservasi Owa di Asia tenggara, acara workshop Owa yang prakarasai oleh IUCN SOS merupakan pertemuan para pegiat konservasi owa dan peneliti Owa di Asia, perwakilan 7 negara habitat range country. Saya di undang mewakili SWARAOWA untuk memberikan presentasi tentang bagaimana saya dan Indonesia Gibbon Working Group menyusun rencana aksi nasional untuk 9 jenis Owa Indonesia. Dari beberapa negara lain selain presentasi tentang penelitian dan kegiatan terkait konservasi Owa juga ada presentasi tentang bagaimana proses penyusunan dokumen konservasi owa,seperti dari Vietnam dan China.

Secara alami ada 2 jenis owa di Khaoyai dan memiliki Batasan geografis yang sangat sempit, hingga mencul kawin silang kedua jenis tersebut (hibridisasi). Hibridisasi ini memunculkan populasi sendiri  (populasi hybrid) dan wilayah sebaran ( zona hybrid) juga berbeda dengan kedua kelompok aslinya. Dan khaoyai ini adalah salah satu di antara 2 lokasi hybrid yang terjadi secara alami, satu lagi lokasi hybrid owa ada di Indonesia, di hulu  sungai barito di Kalimantan selatan, antara Hylobates albibarbis dan Hylobates muelleri.

Mencari guide tour khusus Owa, untuk lokasi-lokasi yang belum kita ketahui biasanya melalui jejaring peneliti owa atau pegiat konservasi Owa. Namun beberapa teman yang aktif di khao yai, telah kami hubuni dan tidak ada yang sedang di Khaoyai. Akhirnya kami memilih tour guide yang sudah banyak di rekomendasikan melalui trip advisor, salah satu rujukan kalau kita traveling.

Mbak Ayu, dari Yayasan Kiara rekan perjalanan saya kemudian menemukan green leaf tour, yang berada di sekitar khaoyai dan sekaligus menawarkan tempat menginap. Kami di tawari beberapa pilihan tour dengan range harga, hari dan target species yang bervariasi juga. Karena Owa adalah target kami, kami menyampaikan ini kepada penerima tamu green leaf tour, dan mereka kemudian merekomendasikan private tour seharga 5000 bath untuk kami berdua. Harga tour yang di tawarkan sudah di jelaskan di website green leaf tour ada disini : https://greenleaftour.com/tours.html. Dengan pertimbangan waktu yang singkat, dan segera ingin mengisi bucket list kami untuk owa thailand, pilihan private tour ini paling realistis, pertimbangan lain kalau ikut group tour, kita akan bersama orang lain yang mungkin berbeda tujuan pengamatannya.

Kami juga mengambil paket wisata setangah hari, untuk melihat kelelawar. Setelah makan siang, tour leader kami menyiapkan segala peralatan untuk melihat kelelawar, monokuler, tripod, dan tentunya senter untuk masuk goa. Harga trip half day ini 500 bath/orang, dapat minum dan snack. Kami menunggu peserta lain, yang akan ikut trip kelelawar ini, ada yang menginap di tempat lain, sepertinya tidak semua penginapan disini mempunyai tour guide, jadi antar penginapan ada Kerjasama dimana guide yang bisa memandu tamu-tamu mereka.

Fenomena kelelawar keluar dari goa di Khao yai ini, di kemas menjadi atraksi yang sangat edukatif dan pengalaman yang berbeda dengan tour satwaliar lainnya.  Sebelum masuk goa-goa tempat kelelawar itu bersarang, kami di ajak keliling dulu di sekitar pemandian mata air, yang rupanya tempat ini jadi tempat wisata untuk orang-orang sekitar, mandi di air yang jernih dan mengalir. Kolam-kolam alami di bawah pohon yang rindang terutam dari jenis dipterocarp menjadi tempat yang sejuk dan basah-basahan pengunjung. Waktu 45 menit disediakan untuk mandi mandi di tempat ini, beberapa orang dari rombongan half day tour kami, nampaknya menikmati sekali pemandian alam ini. Aku sih hanya lirak lirik aja untuk liat mereka yang mandi pake bikini…

Setelah dari tempat ini kami di ajak menyusuri goa kelelawar tersebut, pemandu menjelaskan bahwa ada dua lokasi utama tempat kelelawar ini, lokasi pertama kira-kira ada 500-1000 kelelawar begitu kata pemandunya, dan ternyata goa ini juga menjadi tempat beribadah, karena ada patung-patung budha di dalam goa ini, tangga di buat menurun vertical untuk memudahkan pengunjung yang melihat kelelawar.

Kemampuan guide dalam meng”entertain “  mengemas informasi ilmiah dalam Bahasa yang mudah di pahami, patut di apresiasi disini, menganalogikan, berat kelelawar yang menggantung dalam gua,yang jumlah nya ribuan mungkin jutaan, kira-kira sebanding dengan berapa ekor gajah ?

Hylobates lar @Rahayu Octaviani

 Ada 2 sepecies owa yang secara alami tersebar di Khao Yai, yaitu Hylobates pileatus dan Hylobates lar, namun karena sebara geografis yang sempit, kedua species  ini mengalami hibridisasi.  Kawin silang secara alami telah terjadi sejak lama hingga membentuk populasi hybrid, dengan wilayah sendiri.  Hylobates pileatus memiliki ciri-ciri campuran antara Hylobates dan Nomascus (jenis owa yang dicirikan dnegan bentuk kepala yang berjambul). Sementara Hylobates lar, tersebar luas dari thailand, Malaysia hingga ke Aceh, dan Ciri yang nampak dari Hylobates lar ada bedawarna antara Jantan dan betina ( sexual dicromatism), yang betina memiliki warna bulu  kuning dan yang Jantan memiliki warna hitam gelap. Bayi owa ini lahir dalam warna kuning, namun sering berjalan waktu apabila bayi Jantan akan berubah warna dari kuning ke hitam, apa bila betina akan tetap berbulu kuning.

Kami menyampaikan hal ini ke guide kami, bahwa tujuan kami adalah melihat ke-3 jenis owa  yang ada di khaoyai ini. Dan guide langsung mengerti, kemudian mengatur jadwal kami akan mulai dari jam 6 pagi dan selesai jam 3 sore. 

Kambing Gunung @Rahayu Octaviani

Kenyamanan dalam private tour, sepertinya di utamakan untuk tamu-tamu disini, dengan menggunakan mobil fortuner,tepat pukul 6 pagi tanggal 27 Mei 2023  kami berangkat bertiga, untuk pembukaan guide bilang kita akan lihat serrow, kambing gunung. Capricornis asamensis, jenis kambing liar yang biasa hidup di tebing-tebing batu, soudaraa jenisnya masih di jumpai di Sumatra.  Baru beberapa menit kami meng-set up monokuler, guide langsung berteriak” itu telingannya kelihatan”. Benar sja saya melihat dengan binokuler, dan lifer pertama untuk kambing gunung dalam catatan trip ini. Jarak yang cukup jauh di tebing batu, sehingga kambing  gunung yang kita amati tidak merasa terganggu. Mereka terlihat seperti sedang berjemur, dan kata guidenya di batu itu adalah lokasi salt lick mereka. Perilaku menjilat batu atau tanah untuk kandungan  mineral nutrisi pencernaan kambing gunung.

Kami meneruskan perjalanan ke Taman nasional, jadi taman nasional Khao Yai ini juga ada jalan raya yang membelahnya, taman nasional tertua di Thailand, dan tahun ini aniversari ke 60. Untuk masuk ke taman nasional ini seharga 400 bath, sudah termasuk dalam tiket primate watching tour kami. Dan untuk masuk tidak ada guide dari taman nasional yang ikut, kecuali kalau trip malam katanya harus ada guide dari TN. 

Tidak jauh dari gerbang masuk TN, kami mendengar suara owa, dan benar saja kami berhenti keluar dari mobil dan ternyata ini adalah suara Hylobates lar. Kurang lebih 100 meteri dari tepi jalan raya, kami sempat melihat dan Ayu yang membawa lensa tele bisa mengabadikan owa tangan putih ini.

Setelah merekam suara dan mengambil gambar, kami lanjutkan perjalanan, masih di dalam mobil sekilas hutan habitat owa di Khaoyai sejauh ini masih mirip dengan sokokembang, pohon-pohon ficus besar dan terdapat lebah madu juga, sarang-sarang lebih tidak ada yang mengambil,karena memang tidak ada pemukiman di dalam kawasan konservasi disini. Menurut guide sarang-sarang lebah yang penuh dengan madu itu sering di manfaatkan oleh Binatang, seperti burug elang dan sun bear.

longtailed broad bill @Rahayu Octaviani

Burung longtailed broadbill, terlihat sering membuat sarang di kabel-kabel listrik, sepanjang jalan, menurut guide, kalau di kabel listrik ini mereka terhindar dari predator yang makan anak atau telur mereka seperti jenis-jenis musang.  Kabel listrik didalam kawasan ini sudah sepenuhnya di insulasi, sehingga tidak membahayakan satwaliar yang kemungkinan menggunakannya untuk melintas.

Titik selanjutnya, kami melihat kelompok hybrid, untuk membedakannya dari suaranya yang kami temukan suara panggilannya awalnya mirip hylobates lar, namun di akhir panggilan ciri khas  paggilan pileatus lebih mencolok, yaitu dengan notes yang cepat atau lebih tepatnya bubbling, karena seperti suara gelembung  yang cepat terbentuk dan  meledak ledak.

Kami kemudian meneruskan perjalanan, ke puncak gunung khao yai, hingga ketinggian 1000 lebih, dan merupakan merupakan camp tantara untuk menjaga radar untuk keamanan negara. Disini kami pesan sarapan, sudah di pesankan oleh guide juga untuk kopi dan sarapan, simple omelet dan telur, untuk kopi harus bayar sendiri, melalui mesin kopi otomatis. Khao Yai, berarti bukit besar, dan dipuncak gunung ini ternyata ada post penjagaan militer untuk negara Thailand, jadi sangat aman dari sisi poaching, karena 24 jam di hutan ini ada penjaganya.

Setelah makan pagi selesai kami kembali turun, dari puncak gunung Khao Yai, menuju ke kelompok hybrid yang biasanya guide monitor, dan benar saja, dalam perjalanan di dalam mobil kami buka jendela sambil mendegarkan suara-suara panggilan owa. Kami berhenti di tepi jalan di dekat kelompok yang bersuara, dan benarsaja ini kelompok hybrid. Dengarkan suaranya disini.

Menjelang sore hari, kira jam 3, tour guide kami di hubungi oleh tour guide lainnya, katanya ada Owa sangat dekat, dan kami langsung tancap gas menuju lokasi yang diinformasikan tersebut, kurang lebih 10 menit, kami sampai , dilokasi ternyata sudah puluhan orang sedang memotret owa, layaknya fotografi model di alam, kelompok owa yang sedang makan buah ficus tersebut sangat tidak merasa terganggu keberadaan fotografer dibawahnya yang mengarahkan lensa-lensa panjang untuk menangkap moment owa bergerak . Jarak yang sangat dekat untuk Owa liar yang sudah  terbiasa dengan keberadaan manusia di sekitarnya. Guide menyebut kelompok yang kami jumpai ini adalah kelompok hybrid, karena ada ciri-ciri owa bertangan putih dan juga penampakan individu yang seperti Nomascus, dengan ciri utama di bagian kepala agak membentuk mahkota. Ada 5 individu teramati sedang makan buah ficus.

Hylobates pileateus @Rahayu Octaviani

Sangat puas kami bisa menyaksikan dari jarak cukup dekat 5-8 meter saja, namun masih di atas pohon owa owa ini. Selain ficus, ternyata owa disini juga makan buah cendana, yang terkenal harum wangi kayunya. Salah satu komoditas di Khaoyai yang beberapa tahun sebelumnya marak diburu di dalam hutan. Cendana adalah kelas kayu dari pohon dalam genus Santalum. Kayunya berat, kuning, dan berbutir halus, dan, tidak seperti banyak kayu aromatik lainnya, mereka mempertahankan keharumannya selama beberapa dekade. Minyak cendana diekstraksi dari hutan untuk digunakan, sering disebut-sebut sebagai salah satu kayu termahal di dunia. Dan disini Owa sangat menyukai buahnya, saya pikir tentang sebaran kayu ini di dalam hutan yang tentunya ada peran Owa, karena owa makan buahnya dan membuang biji-bijinya jauh dari pohon induknya.

Kami sangat puas melihat kelompok owa terakhir ini, karena pas di jam-jam selesai tour kami, kami kemudian balik ke penginapan dan kemudian langsung kembali ke Bangkok, menginap didekat airport untuk esok harinya kita balik ke Jawa

Komentar

Postingan Populer