Friday, May 16, 2008

A jurney to Borneo #4


Fig and figs wasp

Perjalanan mencari Presbytis hosei, saya juga ketemu dengan salah satu penghuni hutan hujan kalimantan yang memegang peranan penting dalam ekosistem, diantaranya sebagai sumber pakan dari berbagai jenis satwaliar pemakan buah, seperti orangutan, owa, burung enggang dan lain sebagainya. Ketersediaan sumber pakan adalah salah satu faktor penting dari keberadaan binatang di hutan. Pohon jenis ini dapat dengan mudah dikenali dengan ciri buah bulat dan ada seperti biji-biji kecil di dalamnya yang jumlahnya mungkin ratusan atau ribuan (tapi ini sebenarnya adalah bunga jantan dan bunga betina),buah “cauliflory”- menempel di batang, daun dikenali dengan istilah three vein- 3 tulang daun yang bertemu di pangkal daun (seperti kaki unggas) termasuk dalam kedalam family moraceae yang biasanya bergetah putih juga edible atau bisa kita makan. Fig atau ficus nama genus nya, dan kurang lebih ada 700 species di seluruh dunia, juga life form yang lebih banyak di bandingkan genus tanaman yang ada, namun biasaya juga pohon berkayu atau liana.

Pohon jenis ficus juga termasuk pohon yang erat kaitannya dengan peradaban manusia, di beberapa tempat di indonesia banyak yang menganggap keramat pohon ini.Umat budha juga mempunyai kepercayaan pohon ini sebagai pohon suci, dengan nama “bodhi”. ada catatan mengagumkan mengenai pohon ficus diantaranya, ficus tertua di dunia adalah di King Tisa, Srilangka yang di ketahui di tanam tahun 255 sebelum masehi, ficus yang diameter 150m, kalau untuk berteduh di bawahnya katanya bisa menampung 2000 orang. Pohon ini juga unik, karena dia kadang tidak tumbuh dari atas tanah, tapi banyak tumbuh dari menumpang pada pohon yang lain dari biji-biji yang di bawa oleh burung, kemudian dari pohon inang ini, dia mulai menjulurkan akarnya kebawah, adayang membelit, mencengkeram pohon inang sampe ada istilah “pohon pencekik” atau “strangling figs”. Kemudian pohon ini akan tumbuh semakin besar semakin membelit pohon inangnya, samapai si inang mati dicengkeram oleh batang-batang ficus dan akarnya.

Pohon ini memang sangat berkarakter, sampai-sampai partai politik di negeri ini menggunakan symbol pohon ficus. Di kalangan botanist dan entomologist pohon ini sangat menarik dengan fenomena symbiosis mutualism nya, buah ficus yang biasanya bulat, berdaging, dan ada seperti biji-biji kecil di dalamnya.Ternyata kalo kita perhatikan lebih jauh ada lebih dari 2 jenis atau bahkan lebih serangga di dalamnya. Inilah “wasp” jenis serangga seperti tawon penyengat tapi kecil sekali ukurannya, yang masuk dalam orde Hymenoptera akan lebih mudah di amatai menggunakan hand lens atau kaca pembesar yang membantu pembuahan (polinator) dari bunga-bunga ficus di dalam biji buah ficus. Uniknya jantan biasanya tidak bersayap akan mati setelah dia berhubungan dengan betina. Ada yang mengatakan bahwa jantan serangga ini hidup untuk sex saja, karena setelah pembuahan terjadi dia kemudian mati di dalam buah ficus juga.

Sumber di internet yang dapat menjelaskan fig-figs wasp relationship ini dapat dilihat disini :

http://www.figweb.org/ , dan ada sekitar 3,280,000 sites ketika saya ketikan kata “ficus“ di gogle search, sementara di google scholar ada di temukan 44,000 sumber terkait dengan kata “fig wasp“

Pohon jenis-jenis ficus biasanya tumbuh di tempat-tempat yang relatif basah, sering di jumpai di pinggir-pinggir sungai, dimungkinkan juga pohon memegang peranan penting dalam konservasi air dan tanah. Pohon ini juga mempunyai nilai ekonomi langsung, seperti di cina selatan buah dari pohon ficus ini di keringkan dan di kemas sedemikian rupa sehingga awet dan di jual.

Pohon dari jenis ficus juga banyak digunakan sebagai ornamental plant yang di kerdilkan yang disebut bonsai. Sebagai negara tropis negeri kita sebenarnya kaya akan jenis ficus ini, pemanfaatan jenis-jenis sumber daya hutan seperti buah ficus ini sepertinya belum banyak dilakukan, di jawa ataupun di kalimantan (pengalaman saya) masyarakat sekitar hutan biasanya faham dengan jenis-jenis ficus yang enak dimakan, namun untuk sampai pemanfaatan yang lebih lanjut sampai sebagai alternatif tambahan pendapatan,saya sendiri belum pernah ketemu. Padahal biasanya sekali berbuah mungkin ratusan atau bahkan bisa menjacapai ribuan dalam satu pohon, studi ekologi juga tentang jenis ini juga sangat menarik untuk dapat di kembangkan mungkin secara budidaya.

Ada satu pengalaman menarik juga ketika bertemu beberapa peneliti ficus dari luar negri, bahwa fenomena fig dan figs wasp ini telah dikenalkan dalam kurikulum pendidikan sejak sekolah dasar, jadi mereka katanya sudah sejak kecil terarik untuk meneliti atau setidaknya tahu lebiih jauh tentang ficus. Wah...kok jauh banget ya dengan pengalaman di negeri kita. Saya juga baru tahu tentang simbiosis mutualisme buah ficus juga tidak di banku kuliah, artinya sudah lulus S1 baru sedikit tahu tentang ini. Namun yang lebih penting adalah upaya pelestarian jenis-jenis ficus juga merupakan hal penting, karena acaman kerusakan habitatnya telah dan sedang terjadi dimana-mana. Bukan tidak mungkin jenis-jenis ini akan hilang sebelum sempat di lakukan penelitian dan dimanfaatkan lebih jauh, sementara fungsi ekologis sebagai sumber pakan dari berbagai binantang hutan juga tidak dapat di gantikan oleh jenis lainnya.

2 comments:

Moh. Arif Rifqi said...

mas wawan saya arif dari UNAS..salam kenal. kemarin saya ikut kuliah primata mas di PPS. kebetulan saya yang naya' pertama. kalau ada informasi tentang penelitian dan apa saja yang berbau konservasi bagi-bagi ya? email saya arifq07@yahoo.com dan blog saya arifqbio.multiply.com

Wawan (Arif Setiawan) said...

halo arif, thanks ya udah mampir di blog sya, ok, nnati kita share aja kalo ada info2.
ok,
salam dari jogja untuk teman2 di unas yang lain.

wawan