Sunday, December 07, 2008

Be a primate Watchers



Pengamatan primata, seperti kegiatan yang sudah popular sebelumnya, “bird watching” bertujuan untuk mengetahui primata yang ada di suatu wilayah atau habitat tertentu. Primata sebagai binatang berkarakter yang biasa hidup di atas pohon (arboreal), termasuk mudah diamati bila dibandingkan dengan jenis binatang lain yang ukurannya lebih kecil. Namun saat ini, primata termasuk paling rentan terhadap kepunahan sebagai akibat rusaknya habitat alaminya. Ukuran tubuhnya yang relative besar ( mungkin bisa dikategorikan kecil hingga sedang) membutuhkan ruang dan asupan sumber pakan yang banyak untuk bergerak. Beberapa jenis seperti owa dan monyet-monyet daun beraktifitas di atas pohon, sehingga cabang atau ranting pohon yang kuat merupakan pilihan terbaik dalam pergerakan, juga ketersediaan buah dan daun.


Mengamati primata, kita dapat membuat semacam daftar jenis yang di jumpai dan lebih jauh mengamatai perilaku ekologinya bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan dan aktifitas sosial sesama anggota kelompoknya atau kelompok lain yang sejenis atapun beda jenis.
Kegiatan ini juga pasti akan memberikan pengalaman yang berbeda sebagai salah satu cara untuk menikmati hoby jalan-jalan di hutan dan juga mengenalkan jenis-jenis primata sejak dini, sekaligus meningkatkan ekowisata di area dimana primata masih hidup. Masyarakat sekitar hutan dimana masih terdapat primata seharusnya mendapatkan keutungan secara ekonomi sebagai insentif untuk melindungi populasi primata, wisatawan yang ingin melihat primata seharusnya akan mendatangkan keuntungan ekonomi.

Potensi primata Indonesia sangatlah memungkinkan untuk kegiatan primate watching, hampir 42 species kita punya dan 24 diantaranya adalah species yang unik, endemik di pulau-pulau di Indonesia. Sebagai contoh misalnya Pulau Jawa, di pulau yang paling padat penduduknya ini , masih ada sisa-sisa hutan tropis yang di huni oleh 5 jenis primata dan 4 jenis merupakan primata endemic yang ada di pulau jawa, yaitu Owajawa (Hylobates moloch), Rekrekan atau Surili (Presbytis fredericae), Lutung (Trachipithecus auratus) dan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Di wilayah propinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta, untuk dapat mengamati primata ini dapat mengunjungi hutan G.Slamet melalui Purwokerto atau Purbalingga, Hutan Sokakembang dan obyek wisata Lingo Asri di Kabupaten pekalongan.

Peralatan yang dibutuhkan untuk pengamatan primata setidaknya menggunakan Binokuler, karena biasanya primata sangat peka terhadap kehadiran manusia, jaga jarak agar primata tidak merasa terganggu dengan kehadiran kita, sehingga kita bisa mengamati individu-individu dalam kelompok tersebut. Perlengkapan tambahan seperti alat tulis , jam tangan, dan GPS akan sangat berguna untuk dibawa, sebagai kelekapan catatan perjumpaan kita dengan primata.

Waktu pengamatan, pagihari antaran jam 5.00-9.30 dan sore hari jam 16.00-18.00 adalah waktu yang tepat biasanya primata banyak beraktifitas. Untuk jenis owa pengamatan sebaiknya pada dinihari, dimana biasanya mereka mulai aktifitas pada hari menjelang pagi (04.00-06.00) “morning call” jantan yang mulai bersuara, dan ketika hari telah terang (setelah jam 5.30 ) biasanya betina yang bersuara “ great call”. Akan lebih menarik lagi jika pengamatan primata ini dilakukan dengan menginap beberapa hari di hutan, terlebih lagi untuk jenis primata malam seperti kukang juga sangat menarik di amati di malam hari , ketika hari mulai gelap (jam 18.00-20.00) dan waktu menjelang pagi (jam 03.00-06.00).

4 comments:

e.wijayanti said...

Primate Watcher juga sulit walau pun ternik pengamatannya memang lebih mudah dengan binatang yang lebih kecil. Karena berbeda dengan Bird Watcher misalnya, yang bisa beraksi di tengah kota, di persawahan, tepi pantai. Pengamat Primata harus masuk hutan primitif dulu baru dapat objek sasaran. Apalagi sekarang habitatnya sudah menyempit.

Berkurangnya area habitat Primata, bisa berpengaruh pada perilaku primata dan kelompoknya?

*itu model perempuannya masih singset ya? hihi

Wawan (Arif Setiawan) said...

halo eka, thanks for comments, ayo kalo mo jadi peserta primate watching...dijamin exciting de..
kaya model perempuan ini..ha..ha..
*iya kayaknya ntu model masih mahasiswa semester 7 apaya??...

Wawan (Arif Setiawan) said...

oh..ya ni aq lagi coba meneliti apakah ada pengaruh perubahan habitat terhadap perilaku primata di hutan alam...

beberapa contoh kasus seperti primata yang ada di kawasan wisata, kadang mereka begitu agresif terhadap pengunjung ingin minta makanan ataupun yang dibawa pengunjung..

sebenarnya primata juga mempunyai kemampuan bertahan hidup di hutan yang sempit,termasuk mungkin juga dengan berubah juga perilaku ekologinya, misal kalo biasanya makan di MacD karena krisis ekomi global jadi pindah makan di angkringan...hee..he nyambung gak ya..tapi kupikir sperti itu juga primata untuk survival..
tapi untuk jangka panjang 10-20tahun pasti akan banyak kemungkinan terjadi..mungkin juga nanti owajawa yang biasa hidup di pohon tinggi jadi berjalan-jalan ditanah seperti kambing..ha..ha..(its very interesting to study this....)

Komunitas SekolahRumah Pelangi said...

primates watching primates. bagus juga