Monday, May 17, 2010

Kera-Kera Kreo


Apabila anda di Kota semarang, kurang lebih 45 menit dari kota arah selatan, ada satu obyek wisata yang sering di kunjungi warga semarang dan sekitarnya. Selain goa dan bentang alam, potensi wisata di tengah kota ini adalah keberadaan Monyet ekor panjang (orang lebih mengenal kera ekor panjang, padahal antar monyet dan kera adalah berbeda). Inilah jenis monyet yang menurut saya sangat cerdas, mampu cepat beradaptasi dalam kondisi apapun. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), tersebar di seluruh Asia Tropis.

Menurut Supriatna dan Wahyono (2001), ada 4 subjenis dari monyet ekor panjang berdasarkan distribusinya di Indonesia yaitu : Macaca fascicularis fascicularis; mulai daratan Vietnam, Kamboja, Thailand, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Pulau Timur., Macaca fascicularis fusca di Pulau Simalue Sumatera; Macaca fascicularis karimunjawae, di pulau Karimunjawa Jawa Tengah, dan Macaca fascicularis lasiae, tersebar di Pulau Lasia, di samudra hindia sebelah barat Pulau Sumatera.
Monyet ekor panjang sangat umum di jumpai daerah pantai hingga pegunungan, dimana sangat menyukai habitat hutan mangrove, hutan pantai, di sekitar sungai dan rawa-rawa, termasuk di tengah kota hidup bersama-sama dengan manusia. Kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap perubahan habitat, menyebabkan monyet ini mampu bertahan hidup dan berkembang biak, di tengah-tengah habitat manusia, bahkan sering kali menyebabkan konflik antara monyet ekor panjang dan manusia. Keberadaan Macaca fascicularis sering kali di anggap merugikan oleh manusia, karena merusak tanaman.Kadang juga menjadi obyek menarik,lucu dan menggemaskan. Cerdas juga,karena mampu di latih, diberdayakan untuk menghibur seperti yang dimanfaatkan untuk pertunjukan topeng monyet.
Beberapa lokasi wisata di negeri ini juga menggunakan monyet ekor panjang sebagai daya tarik khusus terhadap wisatawan, sepert di Sangeh bali yang sangat terkenal. Goa Kreo di Semarang juga demikian,keberadaan monyet ini juga menjadi dayatarik wisata tersendiri. Terlepas dari potensi ekonomi keberadaan monyet di obyek wisata, satu hal yang lebih penting adalah pertimbangan ekologis juga seharusnya menjadi prioritas dalam pengelolaan satwaliar yang terus berinteraksi dengan manusia.
Pertimbangan lain adalah adanya potensi transmisi penyakit dari monyet ke manusia, melalui kontak langsung ataupun tidak langasung (seperti kotoran atau feses). Selain bau juga sangat mungkin kotoran-kotoran ini juga mengandung penyakit yang mudah menyebar ke manusia. Oleh karena itu kontrol terhadap populasi terkait penyakit juga perlu di investigasi dalam populasi yang sering berinteraksi dengan manusia.
Penanganan habitat, adalah mutlak untuk jangka panjang, karena monyet ini terus berkembang biak, apalagi kalau supply makanan melimpah. Meskipun monyet ini adalah jenis terrestrial, namun masih perlu vegetasi pepohonan untuk pelindung dan tempat istirahat. Kesadaran konservasi masyarakat yang berinteraksi langsung dengan monyet dan habitatnya mutlak di perlukan untuk hidup bersama monyet agar hubungan saling menguntungkan juga bisa lestari.
Berikut tautan terkait dengan monyet ekor panjang.
1. Status IUCN monyet ekorpanjang
2. Penelitian terkait penyakit dari monyet dan penularannya ke manusia, disini dan disini.
3. Monyet Goa Kreo

No comments: