Wednesday, May 29, 2013

Kopi dan Konservasi Primata

Saat menulis ini, saya sedang berada di kampung tengah hutan , dan mungkin hanya ada disini tempatnya, sisa-sisa kemegahan hutan hujan tropis jawa dapat dinikmati. Sangat aneh memang ditengah hiruk-pikuk pulau jawa, di tengah-tengah pulau, di jantung pulau jawa, pulau terpadat di dunia, masih terdapat hutan yang bisa dikatakan “ter”baik diantara hutan di jawa lainnya. Tempat mana yang dari teras rumah bisa melihat primata langka bergelantungan?, tempat mana dari balik jendela rumah bisa melihat burung-burung rangkong terbang dengan suara khasnya terdengar? Tempat mana lagi dari depan rumah kita bisa meneguk kopi sambil melihat hijaunya bentang alam hutan tropis dengan segala penghuni liarnya? Saya mulai kesasar ketempat ini dimulai pada tahun 2007, ketika itu saya dan teman-teman sedang melakukan survey salah satu primata endemik jawa, Kala itu waktu malam hari 2 teman saya yang survey di wilayah ini mencari tempat singgah untuk melakukan study tentang range- distribusi monyet daun –rekrekan (Presbytis fredericae) mulai dari Gunung Slamet-1. Akses jalan pada waktu itu masih susah sekali, karena jalan berbatu dan tanah licin, untuk di tempuh degan kendaraan biasa sangat susah.

Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan. Hampir 6 tahun sudah, sejak pertamakali kami singgah di kampung ini, jalan yang kini aspal halus, membuat kami kadang rindu suasana menegangkan ketika harus menggunakan kendaraan jip kecil kami menaiki tanjakan dan menyusuri jalan di tengah hutan dari Pasar Doro hingga ke Sokokembang. Kini tanpa kendaraan 4WD pun, dengan mudah kami dapat sampai di Sokokembang.

Di awal cerita sempat saya ceritakan, dari teras rumah sambil minum kopi kita bisa menikmati suasana hutan dengan sesekali owajawa terlihat bergelantungan di pohon-pohon dekat rumah dan mendengar dengan jelas nyanyian di pagi harinya “great call”. Iya, kopi memang salah satu produk agro-forest penduduk dusun Sokokembang. Kopi tempat ini, di tanam di bawah naungan hutan yang masih alami. Dengan intervensi proses produksi yang bisa dikatakan minim, tanpa ada pemupukan, perawatan menjadikan kopi ini tumbuh liar.

Meskipun belum ada study yang lebih detail terkait sistem pengelolaan kopi di bawah naungan sperti di Sokokembang, ada sesuatu yang “lebih” bahkan sangat penting bagi keanekaragaman hayati (biodiversity) sekaligus potensi ekonomi. Mengingat hutan jawa yang semakin habis terdegradasi secara perlahan, praktik penanaman kopi di bawah naungan yang tetap mempertahankan pohon-pohon alam sebagai naungannya, sehingga satwa-satwa masih tetap ada dan keragaman flora juga tidak hilang, kawasan seperti ini mempunyai nilai penting bagi kelestarian kehidupan flora dan fauna ditengah himpitan tekanan terhadap hutan karena aktifitas manusia. Biasanya sistem penanaman kopi seperti ini berada di kawasan pegunungan dimana curah hujan pun tinggi, hal ini tentunya sangat penting bagi ekosistem secara keseluruhan, dimana sumber air mengalir ke sungai-sungai besar yang ada di bawahnya. Fenomena kopi dibawah naungan (shade grown coffee-2) di Sokokembang, mungkin akan dapat memberikan alternatif solusi kedepan untuk konservasi alam, dimana kedua sisi sosial-ekonomi dan ekologi, bertemu dalam harmonisasi untuk kemakmuran.

 Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Y. Wibisono, T.S. Nugroho, I.Y. Agustin, M. A.Imron, S.P, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No.2. p. 51-54 

2. Moguel, P., and V.M. Toledo. 1999. Biodiversity conservation in traditional coffee systems of Mexico. Conservation Biology 13: 11–21

1 comment:

wicak petanitangguh said...

kopi yang ini nih yang bisa dijual mahal.

salam tangguh dari
petani tangguh