Thursday, May 05, 2016

Simpai Kincai : Cerita dari dataran tinggi Kerinci


Pertamakali melihat simpai (Presbytis melalophos) adalah tahun 2002, di sekitaran Palembang, Sumatera selatan, angan-angan waktu itu pengen mengamati monyet ini lebih dekat lagi, dan baru tahun 2012 kemaren kedua kalinya saya melihat simpai, tapi lokasinya di sekitaran Sungai Penuh. Tahun 2016 ini kebetulan ada sahabat saya yang mengundang saya untuk melihat simpai lagi, study sitenya adalah sekitaran Gunung Kerinci, tidak jauh dari lokasi kedua saya melihat simpai, yaitu di sekitaran Danau Gunung Tujuh, Taman Nasional Kerinci Seblat. Simpai adalah nama lokal jenis monyet pemakan daun yang sangat luas sebarannya namun juga kurang di perhatikan, sebagai fauna endemik Pulau Sumatra. 

Tempat yang saya tuju adalah Gunung Tujuh, kebetulan sekali basecamp tempat menginap kami, disamping kantor resort Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci. Subspecies surili Sumatra tercatat juga sangat beragam, dan higga saat ini informasi sebaran subspecies tersebut sangat terbatas juga. Namun yang menarik juga kawasan hutan di sekitar kerinci ini juga menjadi habitat 2 jenis Owa yang langka, yaitu Siamang (Sympalangus sindactylus) dan  Ungko (Hylobates agilis). Tidak banyak upaya penelitian dan konservasi terkait dua kera kecil ini. Jenis primata lainnya yang tercatat di wilayah ini di antaranya, ada Lutung Sumatra (Trachypithecus cristatus), Beruk (Macaca nemestrina), dan Kukang (Nycticebus coucang) 
Mengamati primata di habitat aslinya

Kita mulai survey dari ketinggian 1400 mdpl, jalan setapak menuju Danau Gunung Tujuh, jalan mendaki dengan pohon-pohon yang tinggi besar masih nampak terjaga dengan baik. Beberapa burung juga nampak tidak takut dengan kehadiran kita. Sampai ketinggian 1660, kita melihat pertama kali seekor Simpai yang sedang makan, kurang lebih 1 menit berikutnya kita mendeteksi ada 2 individu yang lain. Tidak sampai 10 menit terlihat 4 individu yang berlari menjauhi kita. 

Hutan rawa dataran tinggi Kerinci 


Itik gunung Rawa Bento

Rawa Bento, di dusun Sungai Jernih, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi tempat inilah yang kita jadikan site kedua untuk primate watching, setelah mempersiapkan sampan dan peralatan menyusuri sungai, boat survey kita lakukan untuk mengamati primata yang mungkin ada di hutan rawa Bento. 2 sampan kecil yang di rangkai jadi satu menjadi sampan yang kita gunakan dan bisa menampung 5 orang. (2 kemudi) dan saya dan 2 teman. Survey primata yang lain daripada yang biasa kita lakukan di daratan, kali ini membutuhkan peralatan tambahan yaitu perahu/sampan, pelampung, dan smua peralatan : camera, gps, dimasukkan kedalam waterproof case. Plastik dengan zipper, sangat membatu melindungi peralatan seperti camera dan alat tulis. Dengan 3 orang pengamat dan 2 orang pendayung sepertinya masih cukup berat karena arus sungai yang agak kuat, dengan mendayung ke hulu kecepatan kurang lebih 1.5 km/jam, kita terus pasang mata dan mendengarkan suara-suara yang mungkin terdengar dari dalam rawa yang lebat. 
Rawa Bento dengan Gunung Kerinci

Rawa Bento sendiri merupakan fenomena geologi yang unik di plateu Kerinci, karena proses geologis yang mengakat permukaan bumi, membuat cekungan yang menjebak air dari sungai yang mengalir, hingga tertumpuk endapan yang sudah sekian lama terbentuk, sementara vegetasi hutan pegunungan terjebak dalam genangan air terus menerus. Keragaman flora fauna tercatat sudah ada beberapa yang melakukan assessment, namun untuk primata sepertinya belum ada informasi yang akurat mengenai jenis-jenis primata, sebaran dan upaya konservasi di Rawa Bento. 



Surili Sumatra 
Simpai Kincai
Kalau melihat IUCN redlist, surili Sumatra ini mempunyai catatan taxonomy yang masih di perdebatkan, di IUCN sendiri terdapat 4 subspecies yang di bedakan secara morphologi, dan batas geografis sebagai sebaran alaminya. Sementara (Roos et al 2014 ) yang membuat update untuk taxonomi dan status konservasi Asian Primate membuat klasifikasi baru atau merevisi taxonomy Genus Presbytis di Sumatra. Tentu hal seperti ini kadang membuat kita yang di lapangan terkadang ragu mau mengikuti taxonomy yang mana, karena kegiatan lapangan kita tentu akan menggunakan salah satu nama species tersebut untuk tujuan konservasi selanjutnya, misal publikasi dan edukasi kepada masyarakat umum. Dan ini seharusnya menjadi perhatian para pihak terkait untuk justifikasi ilmiahnya. Setidaknya inilah yang menjadi kontribusi kegiatan lapangan untuk ini, berawal dari survey lapangan harapannya nanti akan memberikan kontribusi untuk kelestarian jenis monyet di Sumatra.

Bacaan : 
Roos, C., Boonratana, R., Supriatna, J., Fellowes, J. R., Groves, C. P., Nash, S. D., ... & Mittermeier, R. A. (2014). An updated taxonomy and conservation status review of Asian primates. Asian Primates Journal4(1), 2-38.

No comments: