Friday, August 05, 2016

Mencari Simpai di Tanah Kerinci

Jalan membelah hutan di bukit Tapan, Sungai Penuh-Tapan (Jambi-Sumbar)

Roadside observation” adalah salah satu metode survey primata yang cuku popular di era 80-90 an, kendaraan bermotor di gunakan untuk melihat sebaran primata di suatu wilayah yang luas. Saya dan Ika Y.Agustin melakukan metode survey ini untuk melihat distribusi dari surili Sumatra, jenis ini masih sangat terbatas informasinya. Melihat langsung morphology dan habitat yang digunakan monyet pemakan daun ini menjadi pengalaman yang berharga dan memberikan update terbaru terkait monyet pemakan daun dari Sumatra.

Kali ini saya menggunakan roda dua bermotor  dilengkapi dengan peralatan smartphone, camera dengan lensa tele 300 mm, video recorder, alat tulis, alat rekam suara, masing-masing pengamat membawa, untuk mendokumentasikan setiap perjumpaan dengan simpai. Kendaraan roda dua bermotor menjadi pilihan terbaik selain lebih effisien, juga dapat masuk ke jalan-jalan di hutan atau pun perkebunan yang  tidak dijangkau oleh kendaraan roda 4. Selain literature, informasi dari warga sekitar adalah referensi terbaru terkait monyet ini. Dan ternyata warga yang kita jumpai di sepanjang jalan sangat familiar dengan namya simpai, karena banyak di jumpai di ladang, belukar dekat rumah sampai rimba (hutan) .
Motor yang di gunakan di Kab.Surolangun

Belukar, menjadi istilah yang akrab dengan kami karena ini menjadi habitat yang umum di jumpai untuk tempat hidup primata-primata seperti Lutung, dan surili. Belukar ini adalah semak-semak dengan beberapa pohon kayu keras dengan ketinggian bervariasi antara 5-10 meter dan diameter relative kecil kurang dari 15 cm. Habitat yang cukup favorit adalah perkebunan karet. Karena harga karet sedang murah, banyak kebun-kebun karet rakyat d telantarkan tidak dirawat dan tumbuh seperti hutan campur yang di dominasi pohon karet. Habitat seperti ini terdapat relative banyak di sepanjang jalan antara Sugai Penuh Jambi. Menjadi tempat pengungsian bagi fauna-fauna yang terjebak di antara habitat manusia.
Kondisi habitat primata di sekitar jalan menuju Muara Imat

Perjalanan bermotor untuk tujuan melihat monyet tentu berbeda dengan traveling bermotor biasanya, perlengkapan penelitian dan perlengkapan motor tetap harus lengkap dan siap sedia. Kecepatan motor tidak bisa secepat naik motor biasanya, karena kita terus tetap melihat kanan kiri jalan dan berhenti ketika melihat monyet atau habitat yang potensial. Sering kali harus mengecek turun dan mendengarkan suara dan pergerakan monyet di antara tajuk pohon. Motor juga lebih mudah untuk masuk ke jalan-jalan setapak yang jarang di lalui  kendaraan besar. Pilihan motor juga harus di pertimbangkan, untuk berboncegan dan kenyamanan, karena kita akan menggunakan kendaraan ini untuk mungkin puluhan bahkan ratusan km, melalui jalan yang bervariasi halus aspal,gravel atau offroad berlumpur.

Baca disini tulisan sebelumnya (…Simpai Kincai)

No comments: