Tuesday, January 03, 2012

Friday, November 11, 2011

Siripok Bilou (Siamang kerdil dari Mentawai)

Warnanya yang hitam gelap, cepat bergerak, hampir selalu di pohon yang tinggi, menyulitkan untuk menangkap jenis primata yang ada di tepi samudra hindia, kepulauan Mentawai dalam sebuah bingkai foto yang bagus. Bilou adalah nama yang dikenal oleh masyarakat mentawai untuk menyebut kera kecil ini.Nama ilmiahnya adalah Hylobates klossii.Ketika search di paman google tidak banyak foto-foto yang di ambil dari habitat aslinya atau di hutan tempat tinggal si Bilou. Tak kenal maka tak sayang, mungkin itu kata-kata yang tepat untuk Bilou ini, bagi orang dari luar siberut dan tentu akan bertanya ketika mendengar kata-kata Bilou, apa itu bilou??seperti apa bentuknya? nah ini foto yang saya dapat di hutan siberut barat daya,kebetulan juga Bilou yang saya temui waktu itu sedang ada anaknya, tapi sayang juga karena bukan photograper jadi fotonya masih kurang jelas juga, dan susah memang motret ini, dengan peralatan seadanya, apalagi hutan gelap minim cahaya, tapi untuk perkenalan boleh lah, penampakan bilou yang lebih jelas bisa dilihat di gambar kehidupan di bumi,  ARKIVE, informasi lebih lanjut juga bisa baca di daftar merah IUCN. Read more...

Saturday, September 17, 2011

Javan gibbon Global Conservation Management Program

Pada tanggal 13-15 september 2011, saya mendapat undangan untuk menghadiri peresmian pusat rehabilitasi primata jawa, dan juga sekaligus diminta untuk mempresentasikan update hasil survey Owajawa. Agenda pertemuan ini tidak hanya seremony peresmian pusat rehabilitasi primata Jawa  namun juga ada acara Lokakarya Komite Global Konservasi Owa Jawa.  Salah satu bentuk komitment komunitas internasional yang peduli akan salah satu primata Indonesia, yaitu primata jawa terutama Owa (Hylobates moloch). Inisiasi kegiatan ini sebenarnya telah dimulai sejak hampir 10 tahun silam, tahun 1991 Perth zoo mengawali dengan adanya Silvery Gibbon Projectnya, kemudian sampai terbentuk pusat penyelamatan dan reintroduksi Owa Jawa di Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. dan yang terbaru adalah Pusat rehabilitasi primata jawa di Patuha, Ciwide didukung oleh Aspinal foundation, PHKA dan Perum Perhutani. Pertemuan berseri juga terus berlangsung menindak lanjuti program ini hingga terbentuk Komite Global Konservasi Owajawa, yang terdiri dari berbagai lembaga terutama kebun binatang di Amerika, Australia, dan Eropa yang memiliki Owajawa untuk turut bersama-sama mendukung konservasi Owajawa tidak hanya di yang ada di kebunbinatang juga di habitat alaminya. Tautan terkait tentang ini dapat di bawah ini:
http://www.perthzoo.wa.gov.au/conservation/global-cooperative-management-program-for-javan-gibbons/
Read more...

Belajar tentang penelitian perilaku primata di Kebun Binatang Singapura


Bulan May 2011, selama kuranglebih 15 hari saya berada di Singapore Zoo, mengikuti kursus Monitoring and Studying Primate behavior, yang di support oleh Sandiego Zoo, kegiatan ini selain di ikuti oleh kurang lebih 30an perserta dari negara-negara dari seluru Asia, untuk memberikan pelatihan dasar dalam menyusun sebuah penelitian perilaku mulai dari penggalian ide, proposal writing, metode penelitian, analisis, dan penulisan hasil penelitian. Program ini juga menjadi salah satu membangun jaringan peneliti dan pemerhati primata di tingkat regional asia dan internasional. Menyusun independent research project di wajibkan kepada peserta kursus ini, dan saya bersama 2 orang kawan dari Singapore dan India menyusun sebuah penelitian tentang species yang memang sama sekali tidak ada di Idonesia, yaitu Baboon (Hamadryas baboon), tentang korelasi warna pantat Baboon dengan perilakunya dan ternyata hasil group kami mendapat kategori sebagai the best group independent project, hasil penelitian ini  dapat di lihat di link ini dan rangkuman seluruh kegiatan juga dapat dilihat di sini.
Read more...

Tuesday, June 21, 2011

Siripok Bilou (Ficus Pencekik)


Jenis ficus ini konon tumbuh dan besar adalah dari atas pohon,biasanya biji dari buah ini jatuh di atas pohon yang di bawa oleh burung atau lewat kotoran binatang hutan lainnya. Ficus ini kemudian tumbuh dari atas menjulurkan akarnya kebawah membelit pohon inangnya sampai akhirnya pohon inangnya mati karena kalah dalam mendapatkan sumber pakan dan sinar matahari. Salah satu fungsi primata dan binatang hutan lainnya adalah sebagai penyebar biji-biji pohon hutan. Seperti jenis pohon ficus ini biasanya adalah kesukaan Bilou. Sampai akhirnya biji itu tumbuh seperti pohon seperti ini, menjadi sangat penting bagi binatang hutan, sebagai tempat makan, tempat berlindung, dan tempat berkembang biak. Read more...

Siripok Bilou (Danau Simarue, Peipei, Siberut Baratdaya)


Tidak banyak orang tahu tentang sebuah danau (panjang 1300 m dan lebar 500 meter) yang ada di dusun Peipei,Desa Taileleu Siberut Barat Daya. Teman yang saya ajak dari siberutpun juga belum tahu tentang keberadaan Danau ini, tahu hanya lewat cerita saja, dan menurutnya dulu ada buaya di danau ini. Rasa penasaran tentang buaya di danau inilah yang mendorong saya untuk mengunjungi danau Simarue ini. Perjalanan dapat di tempuh dari Peipei naik ojek, turun di kampung lama dan menyusuri sungai simarue kurang lebih 1 jam. Sungai kecil, dangkal ,jernih dan rimbunan pohon sagu seakan lewat sebuah lorong hijau, berkayuh sampan kayu. Mas Bikin (29 thn) adalah tokoh pemuda dusun Peipei yang menemani perjalanan kami ke danau simarue. Sampai di mulut danau memang luar biasa sekali danau ini, sejauh mata memandang pohon sagu mengelilingi danau ini, dengan air yang jernih kehijauan Nampak sekali tumbuhan air di dalam danau ini tebal sekali. Sambil berkayuh sampan cerita tentang danau ini saya rekam dan dapat di dengarkan disini (maaf belum bisa upload filenya). Terlepas dari proses geologi yang mengawali terjadinya danau ini, cerita rakyat tentang danau ini juga sangat menarik, simarue artinya cepat, jadi singkat ceritanya danau ini terbentuk begitu saja karena ulah 2 ikan yang di miliki dua suku yang berbeda di kawasan ini. Menurut mas Bikin ada 8 sungai kecil yang mengalir ke danau ini, dan di belakan rimbunan pohon sagu ini ada ladang dan kandang babi milik penduduk. Tidak ada catatan ilmiah apapun tentang keberadaan Danau besar ini di Taileleu, biota air tawar, burung-burung air dan keanekaragaman hayatinya tidak ada catatan penelitian disini. Fungsi ekologis dari danau ini juga sangat penting sekali untuk di lestarikan, hilangnya hutan-hutan di hulu-hulu sungai tentu akan membawa semakin banyak tanah, pasir dan mungkin akan menyebabkan pendangkalan danau ini. Namun sepertinya sudah sejak puluhan bahkan ratusan tahun masyarakat sekitar danau ini memanfaatkan lingkungan sekitar danau ini, sepertinya sangat menarik untuk mengetahui bagaimana mereka mengelola ekosistem ini secara tradisi, teknologi dan seni yang mereka miliki. Read more...

Siripok Bilou (Ketika musim durian tiba)


Wajah sumringah hilang lelah setelah berjalan jauh,logistic sudah habis air pun tidak ada, kami ber ber4 waktu itu dari hulu sungai kabolot, Taialeleu, Siberut barat daya, waktu itu sekitar jam 9 pagi kami berjalan pulang menuju dusun Tolomo, ada jalan setapak yang melewati ladang-ladang dengan pohon buah durian yang tinggi dan besar, dan aroma durian tercium sejak beberapa langkah sebelum pohon yang penuh buah durian itu, kami pun segera mencari dari mana datangnya aroma buah durian yang sudah jatu ini, dan akhirnya kami temukan 3 buah durian, segera kami istirahat dan sarapan durian ini. Inilah durian pertama saya di pulau siberut, rasa durian yang manis dan pahit khas masak di pohon. Namun ketika saya tanya teman saya katanya orang siberut tidak suka makan durian masak, karena tidak enak dan bisa bikin malaria. Jadi orang siberut pada umumnya makan duria adalah masih mentah, jadi durian yang sudahtua tapi belum lunak daging buahnya. Ini terbukti waktu saya berkunjung ke Bolotok, dan memang pada saat itu durian di dusun ini hampir semuanya sudah tua, dan memang durian mentah ini lebih disukai daripada durian yang masak. Katanya kalau durian masak bisa bikin malaria, dan panas badan. Read more...

Sunday, June 19, 2011

Siripok Bilou (Modernisasi alat berburu)


Kalau berburu biasanya dan memang sejak dahulu di Mentawai khususnya ini di Siberut dilakukan dengan panah beracun,kini perburuan jugan dengan peralatan modern, senapan angin. Namun juga pelurunya juga di kasih racun, foto disamping adalah perbedaan peluru senapan angin yang telah di kasih racun dan yang belum. Perubahan teknologi berburu ini terjadi hampir di seluruh wilayah siberut yang saya kunjungi di seberut selatan, tengah, utara dan barat. Senapan seharga 500 ribu dan peluru 1 kotak seharga 5000 dapat dengan mudah di beli di muara siberut selatan. Racun dalam peluru ini sama dengan yang ada di panah, sekali kena sasaran, monyet ataupun binatang buruan pasti mati sebelum sebatang rokok habis dihisap. Read more...

Siripok Bilou (tengkorak monyet)


Ini adalah tengkorak kepala Joja, Bilou dan Bokoi,Simakobu,yang di gantung di sapo (pondok di ladang) yang saya temukan di hulu sungai bolotok, Taileleu. Perburuan binatang hutan telah dilakukan sejak jaman nenek monyang kita dari Kep.Mentawai, setelah mereka makan biasanya mereka menggantung tengkorak kepala primata ini di bagian depan rumah mereka, sebagai symbol status sosial. Read more...

Siripok Bilou (Sekolah lagi...cerita dari Bolotok)


Ketika membaca tulisan ini terharu juga,menunjukkan bahwa anak-anak di dusun bolotok, desa taileleu, siberut barat daya ini betapa ingin maju dan belajar, semangat untuk sekolah. Tulisan ini saya temukan di salah satu dinding kamar rumah penduduk di dusun Bolotok. Bangunan sekolah seperti nampak di foto dibawah ini, ruangan kelas ini dalam satu kelas ada 2 papan tulis, ternyata dalam satu ruangan ini ada 2 kelas.


Read more...

Siripok Bilou (Jebakan tikus)


Ini satulagi salah satu teknologi temuan nenek moyang kita dari Siberut,yang saat inipun sudah jarang digunakan, foto ini saya dapatkan ketike Teteu ini membuat jebakan tikus di rumahnya di dusun tololago, desa Teluk Katurai. Jebakan tikus ini biasanya dibuat dari bambu, prinsip kerjanya mirip jebakan tikus yang ada di kota-kota, jadi ada umpan di dalam bambu tengah yang agak besar itu, nanti setelah tikus masuk dan menggoyang tuas yang ada talinya tersebut maka bilah bambu yang melengkung itu akan lepas dan menjepit tikus di dalam bambu. Read more...

Siripok Bilou (Jebakan Kelelawar Buah)


Saya bertemu dengan Bajak ini waktu berkunjung ke desa Bojakan, Siberut utara,yang di tunjukkan oleh bapak ini adalah jebakan kelelawar buah (Kalong). Biasanya jebakan ini di pasang di pohon-pohon rambutan yang sedang berbuah, kurang jelas juga bagaimana pemasangannya, namun katanya ini adalah jebakan untuk kelelawar yang biasa dilakukan oleh orangtua mereka dahulu, saat ini sudah jarang di buat dan digunakan oleh generasi sekarang, karena pemasangannya yang cukup rumit dan di pucuk-pucuk pohon rambutan, yang memerlukan alat bantu tersendiri lagi. Menurut informasi yang saya dapat dari warga setempat memang pemasangan jebakan untuk kelelawar seperti ini sudah sangat jarang di lakukan kecuali oleh orang-orang tua, dan ternyata juga tidak semua orang siberut tahu tentang jebakan model ini. Karena kebetulan yang menemani adalah warga siberut selatan, juga mengatakan tidak pernah menjumpai warga di dusun mereka menggunakan jebakan seperti ini untuk menangkap kelelawar. Read more...

Siripok Bilou (Tokek Siberut)


Hampir tengah malam ketika itu, di kamar tempat tempat tinggal saya di Mailepet, siberut selatan ketika melihat 2 ekor cicak besar ini berkelahi, tokek (anggota ordo squamata = reptile bersisik), kurang lebih setengah jam kedua tokek in berkelahi, yang satu sepertinya sedang tertekan karena mulutnya digigit dan dia kehilangan kekuatan untuk bertahan, namun akhirnya tokek yang tertekan ini bisa melepaskan gigitan lawannya. Entah apa maksud dari perkelahian ini, semacam perkelahian untuk mendapatkan pasangan, makanan, ataupun tempat untuk berlindung??? Read more...

Wednesday, April 27, 2011

Siripok Bilou #4 ( Pulau-Pulau yang Hilang)

Kenaikan air laut sangat terasa sekali di Pulau-pulau kecil seperti di sekitar pulau siberut ini, beberapa lokasi yang saya kunjungi di siberut selatan, menurut rekan saya yang warga asli siberut selatan ini, dulu pulau-pulau ini kelihatan masih ada daratan tapi, sekarang kalau pasang sudah tidak kelihatan lagi sekarang, hanya batang-batang pohon yang besar yang tinggi yang tersisa, itupun sudah mulai mongering dan mati. Selain memang karena airlaut yang pasang tinggi hilangnya pulau-pulau ini juga karena pengambilan batu karang dan pasir laut, sehingga ombak laut mempercepat abrasi, mengikis pulau-pulau itu. Foto-foto berikut ini adalah kondisi di sekitar Tanjung Sikabai, hingga Pulau Masilok di selatan Pulau Siberut.




Read more...

Tuesday, April 12, 2011

Siripok Bilou #3 (Penggilingan Sagu)

Sagu sudah sejak dahulu kala menjadi makanan pokok di P.Siberut, jenis tumbuhan monocotile dari family Arecaceae (suku pinang-pinangan) ini banyak tumbuh di Rawa-rawa atau di tepi-tepi sungai.Metroxylon sagu, nama ilmiahnya. Kunjungan ke siberut kali ini saya juga sempat melihat penggilingan sagu yang olah dengan menggunakan mesin dan juga untuk produksi komersial. Pengolahan Sagu ini terletak di Desa Katurai, Dusun Tiop, kecamatan Siberut Barat Daya.
Sagu yang biasa tumbuh di tepi-tepi sungai atau rawa disekitar Tiop, di ambil ditebang, di potong-potong ukuran panjang 1 meter, potongan-potongan batang sagu ini di namakan Tual, sagu ini dibeli dalam ukuran tual ini seharga Rp 5000-Rp 6000/tual, kemudian di rakit menuju Tempat penggilingan. Setelah sampai di tempat penggilingan batang Sagu yang telah di potong-potong tadi di tempat di air payau di sekitar tempat penggilingan, waktunya kurang lebih 2 minggu, tujuannya untuk memfermentasikan batang sagu.
Setelah dua minggu sagu di angkat ke tepi, dikuliti dan dibelah kemudian dimasukkan ke mesin penggilingan.Penggilingan ini setiap hari rata-rata menggiling 100 tual batang sagu, Sagu yang telah digiling diproses selanjunya di campur air diaduk kemudian di saring, sagu basah yang bercampur air di tempatkan di kolam penampungan dan di endapkan. Air yang sudah tidak mengandung sagu atau ampasnya juga di alirkan ke tempat pembuangan tersendiri. Sagu basah tadi siap di keringkan menjadi tepung sagu, kemudian kalau sudah kering siap di jual ke Padang.
Read more...