Sunday, March 17, 2013

Kepunahan Owajawa di Pegunungan Pembarisan, Jawa tengah

Pegunungan pembarisan, terletak di perbatasan wilayah administratif antara Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes. Nijman (2004),  menyatakan bahwa masih ada setidak 50 individu populasi owajawa di pegunungan ini. Pada tahun  yang sama juga (Djanubudiman et al,2004) melaporkan hasil surveynya, kawasan pembarisan merupakan salah satu habitat yang masih di huni oleh owajawa di Jawa Tengah, namun informasi keberadaan Owajawa hanya berdasarkan informasi sekunder, artinya tidak berdasarkan perjumpaan langsung baik secara visual ataupun vocal (suara).

Kami mencoba mensurvey lokasi ini melalui beberapa jalur, berdasarkan peta tutupan hutan yang ada di google earth. Berdasar pengalaman survey sebelumnya, owajawa biasanya ada di hutan alam, hutan alami hutan hujan tropis jawa. Kalau kita lihat peta di google hutan alam ini dapat di lihat dari warna hijau gelap, dan hutan tanaman biasanya warnanya lebih gelap cenderung ke hitaman. Inilah yang kami jadi kan panduan untuk mencari lokasi atau akses ke hutan tersebut lewat kampung terdekat. Peta google maps di gunakan untuk referensi jalur-jalur yang bisa di lalui atau desa terdekat dengan hutan. Akhirnya kami tentukan dusun Sadahayu, jadi target survey kami, terlihat di peta juga kawasan hutan ini relatif lebih baik tutupan hutannya dan juga merupakan hulu sungai Cijalu. Melalui kecamatan Salem, kab.Brebes akhirny  survey lapangan dilaksanakan, dengan kendaraan 4wd akhirnya kami bisa tembus ke dusun ini, melalui Salem, Brebes.
Sesampai didusun ini, informasi keberadaan owajawa dikumpulkan melalui wawancara langsung, degan penduduk setempat, terutama yang sering beraktifitas di hutan. Beberapa warga menceritakan keberadaan primata yang ada di hutan di dusun mereka, namun tidak satupun warga yang menceritakan langsung perjumpaan dengan owajawa, bahkan suara pun tidak mengenal. Dengan jelas penduduk setempat menceritakan primata jawa yang lainnya dengan jelas ciri-ciri fisiknya, yaitu surili (Presbytis comata), Lutung (Trachypithecus auratus) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Informasi awal ini kami kumpulkan untuk juga menentukan jalur survey kami di hutan, di hari berikutnya. 4 jalur survey hutan kami gunakan untuk melihat kondisi hutan dan keberadaan owajawa, 4 jalur ini kami survey di hari yang berbeda dengan 2 team survey, masing-masing 2 orang, dengan 1 pemandu lokal. Peralatan utama GPS, binocular, kompas, dan alat tulis digunakan untuk mencatat perjumpaan dengan owajawa ataupun primata lainnya.

Selama 7 hari, survey hutan dan mengunjungi dusun-dusun terdekat dari hutan, tidak mendapatkan bukti keberadaan owajawa, bahkan suarapun tidak terdengar di hutan ini. Secara umum kondisi hutan, masih relatif lebih bagus, dilihat dari diameter pohon dan tutupan tajuknya.Namun aktifitas manusia di dalam hutan sepertinya sangat tingi, dilihat dari jalur-jalur hutan yang nampak jelas,dan bekas-bekas tebangan dan pencari burung. Perjumpaan dengan primata lainnya adalah kelompok surili, lutung dan kelompok monyet ekor panjang.

Sebaran owa di jawa tercatat paling timur hingga pegunungan Dieng (Nijman, 1998;Yabshi, 2004 dan Setiawan, 2012). Ketiadaan  owajawa di peg.Pembarisan menurut Kapeler (1984), tidak ada penjelasan yang pasti, Kemungkinan owa jawa telah punah di hutan ini, tanpa ada kemunkinan untuk kembali bermigrasi. Hal ini diperkuat, ketika kami interview penduduk setempat, dalam ingatan mereka tidak ada owajawa ataupun belum pernah mendengar suara owa (kami membawa rekaman dan foto owa ketika wawancara), kami mewawancara beberapa penduduk dengan umur bervariasi, dan setidaknya 3 generasi memang owa sudah tidak ada di hutan disekitar mereka. Menurut Kappeler, kerusakan hutan alami d peg.pembarisan, membawa implikasi kepunahan populasi owajawa. Untuk terjadi re-kolonisasi, hutan yang tumbuh kembali harus terkoneksi dengan hutan yang masih terdapat owajawanya. Kalau koneksi dengan hutan yang masih alami hilang, maka meskipun hutan sudah  tua, tidak akan lagi di huni lagi oleh owajawa. Penjelasan ini sangat jelas, ketika kami memutari hampir separuh lebih dari peg.pembarisan ini, mulai di bagian utara kami survey melalui desa-desa terdekat dengan hutan (lihat jalur peta jalur survey). Hutan pegunungan pembarisan sudah terkurung oleh penggunaan lahan lainya seperti, sawah, perkebunan, pemukiman dan juga hutan tanaman. Dan sejak kapan kawasan ini terfragmentasi kami juga belum mempunyai informasi lebih jauh tentang ini, atau mungkin sejarah hutan di kawasan peg.pembarisan yang terkait langsung dengan aktivitas manusia juga belum ada. Kawasan hutan pembarisan sangat potensial sebagai habitat owajawa, dilihat dari kondis vegetasi, dan terlihat juga dengan adanya primata lainnya, yang masih ada (lutung, rekrekan atau surili, dan monyet ekor panjang). Namun kesempatan survivenya sepertinya sudah sangat kecil, apabila kerusakan habitat yang secara masif tidak dapat di kembalikan, meskipun  juga masih banyak kawasan berhutan di peg ini juga belum dilakukan survey lebih lebih intensif.

Daftar pustaka
Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27
Djanubudiman G, Arisona J, Iqbal M, Wibisono F, Mulcahy G, Indrawan M, Hidayat RM. 2004. Current Distribution and Conservation Priorities for the Javan Gibbon (Hylobates moloch). Report to Great Ape Conservation Fund, US Fish and Wildlife Service, Washington, DC, Indonesian Foundation for Advance of Biological Sciences and Center for Biodiversity and Conservation Studies of University of Indonesia, Depok.
Kappeler M. 1984. The gibbon in Java. In: Preuschoft H, Chivers DJ, Cheney DC, Seyfarth RM, Wrangham PW, Strushaker TT (eds) The Lesser Apes: evolutionary and behavioral biology. University of Chicago Press, Chicago.
Nijman V, van Balen B. 1998. A faunal survey of the Dieng mountains, Central Java, Indonesia: Status and distribution of endemic primate taxa. Oryx 32: 145-146.
Nijman V. 2004. Conservation of the Javan Gibbon Hylobates moloch: population estimates, local extinctions, and conservation priorities. Raffles Bull Zool 52 (1): 271-280.
Read more...

Monday, January 07, 2013

Expedisi Owajawa 2013


Tahun baru 2013, kami awali dengan semangat baru untuk kembali melanjutkan kegiatan konservasi owajawa di Jawa tengah.Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah melanjutkan kembali survey distribusi owajawa, terutama lokasi-lokasi yang belum tersurvey pada kegiatan sebelumnya.  Baca disini untuk hasilsurvey sebelumnya. Terimakasih untuk para sponsor kami sebelumnya ( Lab.Satwaliar FKT-UGM, Perhappi, Rufford Small Grant, IPS, Idea Wild, MuhammadBin Zayed species conservation fund, PCI, Primate Action Fund), dan tahun ini kami mendapat support dari Fortwayne children’s zoo, untuk kegiatan konservasi owajawa di Jawa Tengah. Kami  menggunakan Google map untuk  menampikan hasil survey kami di jawa tengah, dan kami telah memulai kegiatan ini pada desember 2012 kemaren, silahkan  ikuti survey kami disini.
Read more...

Thursday, December 20, 2012

Model pengelolaan monyet ekor panjang

Beberapa bulan terakhir saya banyak beraktifitas dengan salah satu jenis monyet yang paling umum di jumpai di manapun, Macaca fascicularis, si monyet ekor panjang. Sudah sejak 5000 tahun yang lalu sebenarnya kita sudah hidup berdampingan dengan monyet ini, menyebar di seluruh asia tenggara (Fooden,1995).  pertama yang adalah di semarang, di goa kreo, dimana disana ada populasi monyet yang memang dari dulu sudah menjadi ikon wisata di kota semarang. Karena ada pembangunan dam jatibarang, monyet-monyet ini sepertinya juga ikut merasakan perubahan habitat yang terjadi disana. Sempat juga ikut dalam diskusi yang di adakan di taman nasional merbabu, tentang penanggulangan gangguan serangan monyet ekor panjang. Yang masih anget-anget juga adalah bersama dengan kelompok studi primata yogyakarta, difakultas kehutanan kita menggelar seminar nasional untuk monyet ekor panjang, dan yang terbaru, selesai beberapa hari ini, bersama dengan teman-teman bksda jateng melakukan monitoring monyet ekor panjang di TWA grojogan sewu, Tawang mangu jawa tengah.

Dari beberapa kegiatan ini, sangat banyak pengalaman dan pelajaran berharga tentang monyet ekor panjang, bagaimana membina hubungan komensalisme yang  saling menguntungkan, konflik, budidaya, studi perilaku sosial, urban monkey, agricultural monkey dan lain sebagainya. Dari semua kegiatan tersebut diatas, satu hal yang mendasari semua permasalah dengan monyet itu adalah tidak adanya tujuan strategis pengelolaan monyet ekorpanjang itu sendiri, dan spertinya ini juga tergantung dari tiap-tiap lokasi atau habitat monyet ekor panjang, dan juga dengan segala potensi yang ada. Model pengelolaan ekor panjang dan habitatnya. Tentunya monyet-monyet ini tidak mengenal wilayah administratif, batas kawasan, tanpa pengertian dan kebersamaan dalam memikirkan masalah ini, bukan tidak mungkin konflik yang terjadi antara manusia dan monyet ini akan semakin parah. Mudah-mudahan ini menjadi renungan akhir tahun bagi kita semua, penyayang monyet ekor panjang indonesia.

Read more...

Tuesday, September 11, 2012

Sayang Monyet

Hampir setiap tahun saya melewati jalur Solo-Ngawi, kalau melewati hutan jati sebelum masuk ngawi di pinggir jalan ada pasar burung dan perabot rumah tangga kayu jati,  kadang ramai sekali suasananya, seperti pada waktu mudik lebaran, karena tempat ini juga rest area yang nyaman.  Tidak hanya burung tapi disini juga di jual juga monyet. Jenis monyet  yang dijual adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), namun yang menarik adalah monyet-monyet ini warnanya tidak seperti kebanyakan warna monyet ekor panjang, warna cerah krem agak ke kuningan, dan usianya saya perkirakan rata-rata juvenile atau remaja. Ketika kita melihat memang sangat lucu, dan menggemaskan, apalagi sudah dikemas dalam sangkar yang besi yang di cat warna mencolok. Apakah menyayangi binantang ini kita harus membawanya ke rumah dan tinggal bersamanya?? Monyet biasanya tinggal di tempat yang bebas, pepohonan, bergantung kesana kemari, bermain dengan anggota kelompoknya. Membawa monyet atau primata untuk tinggal bersama kita meskipun kita pelihara dengan baik, bersih tetap saja binatang-binatang ini beresiko tinggi , beberapa hasil penelitian telah menyebutkan bahwa monyet-monyet ini berpotensi dapat menularkan penyakit kepada manusia atau sebaliknya,seperti herpes, berbagai jenis infeksi virus (influenza, cacar, ebola), penyakit pencernaan, tbc (1), di negara tentangga kita Malaysia dan Singapore juga telah dilaporkan bahwa monyet ekor panjang ternyata sebagai pembawa virus dari penyakit malaria (Plasmodium knowlesi) (2).  Sekali lagi,  Apakah menyayangi binantang ini kita harus membawanya ke rumah dan tinggal bersamanya??
Sumber bacaan:
Read more...

Tuesday, March 06, 2012

Urban ekologi monyet ekor panjang

Beberapa minggu yang lalu, pemberitaan tentang monyet ekor panjang yang menyerang penduduk desa di Jawa Timur cukup ramai. Monyet-monyet ekor panjang memang seringkali dijumpai di habitat manusia ataupun kawasan yang dibangun oleh manusia, dan memang sepertinya juga sudah “coexist” dengan manusia. Selain karena tempat hidupnya hilang di alih fungsikan, perilaku kita sebagai manusia kadang membuang sampah sembarangan juga mengundang datangnya monyet-monyet ini. Kasus di sidoarjo Jawa timur ini sangat mungkin terulang lagi dan mungkin juga lebih parah, karena banyak tempat di Indonesia menjadi distribusi monyet ekor panjang (1). Monyet-monyet ini juga telah di laporkan menyerang lahan penduduk di berbagai tempat di Jawa, dan menjadi hama bagi hutan tanaman industry di Sumatra. Tidak lagi di hutan yang susah di jangkau manusian, melainkan di kawasan urban , monyet-monyet ini tinggal.  Banyak lokasi wisata juga menggunakan icon species ini sebagai daya tariknya, monkey forest park di ubud salah satu yang terkenal dengan monyetnya, menurut catatan pengelola tentang jumlah individu yang ada di tempat ibadah (pura) ini mengalami trend peningkatan 2 kali lipat dibanding tahun 1999, saat ini ada sekitar 500 an individu(4). Terlepas dari apakah juga ada catatan tentang agresifitas monyet terhadap pengunjung atau tidak, potensi konflik antara monyet dan manusia tentu akan meningkat seiring dengan meningkanya kompetisi antar idividu,  setidaknya untuk mendapatkan sumber pakan dan tempat berlindung.  Pemberian pakan juga banyak dilakukan kepada monyet-monyet ini dengan berbagai alasan spiritual ataupun  hiburan yang menarik, semakin mendekatkan kontak antara manusia dan monyet-monyet ini secara langsung. Coexistence antara manusia dan monyet belum banyak yang meneliti di wilayah Indonesia yang merupakan sebaran terluas dari monyet ekor panjang . Beberapa studi telah melaporkan bahwa ada transfer penyakit antara monyet dan manusia atau sebaliknya , seperti malaria , rabies, dan herpes.  (2,3). 
Literatur
Read more...

Wednesday, February 08, 2012

Kukang Jawa

Film ini adalah tentang salah satu jenis primata Jawa yang hanya aktif di malam hari (nocturnal), saat ini Kukang jawa (Nycticebus javanicus) termasuk binatang dilindungi dan IUCN telah mengkategorikannya critically endangered, status yang sangat dekat sekali dengan kepunahan. Karena aktif dimalam hari mungkin banyak orang belum tahu tentang kukang ini, jadi tentang bagaimana dia hidup, tempat hidupnya dan perilakunya belum diketahui secara luas. Setelah menyaksikan film ini saya coba search di beberapa website jual beli di indonesia ternyata banyak sekali yang memperjual belikan binatang ini. Memang terlihat “cute”, imut, lucu, dan menarik sekali memelihara binatang ini, tapi dibalik ke-imut-imutannya tersimpan bahaya yang mematikan. Ada kelenjar dibawah ketiaknya yang selalu mengeluarkan cairan beracun dan juga taring tajam yang  siap manancap ketika menggigit, mungkin bisa dikatakan kukang adalah “venomous juga sekaligus poisonous animal”, kombinasi strategi survival yang mematikan untuk jenis binatang yang terlihat lemah, lambat pergerakan dan sekali lagi saya kira ini bukan lagi binatang yang cute dan lucu lagi. Lebih jauh tentang kukang salah satu website informatif bisa di lihat di sini, http://www.loris-conservation.org/database/index.html, artikel menarik  juga tentang  kukang ada disini http://primatology.net/2010/10/19/are-slow-lorises-really-venomous/, dan liat film ini secara lengkap di link ini http://www.edocumentary.info/2012/01/jungle-gremlins-of-java-2012.html

Read more...

Monday, February 06, 2012

Surili Sumatra (Mitered leaf monekey)


Pertamakali saya melihat jenis primata ini adalah kira-kira tahun 2002 di Sumatra selatan, waktu itu sedang magang kerja di salah satu Hutan Tanaman Industri. Simpai adalah nama lokal orang sering menyebut jenis monyet pemakan daun ini. Termasuk dalam keluarga Cercopitheciday, subfamily Colobinae  dan scientific namenya adalah Presbytis melalophos, common name atau nama inggrisnya adalah Mitered Leaf  Monkey. Kenapa mitered, mungkin karena rambut dikepalanya memebentuk sedemikian rupa, mirip mahkota yang sering digunakan para “bishop” pemimpin agama katolik.  Yang saya ingat waktu itu adalah monyet ini berwarna merah kekuningan dengan bagian depan berwarna putih. Nah akhir tahun lalu saya sempat melihat-lihat beberapa tempat di Sumatra, tepatnya hunta-hutan sekitar Gunung Kerinci, dan beruntung sekali melihat jenis presbytis pulau Sumatra ini,  ya ini Simpai , setelah beberapa tahun silam melihatnya, dan kali ini jarak cukup dekat sehingga jelas sekali terlihat morphologi monyet surili daratan Sumatra. Setelah saya liat-liat di buku Pictorial guide to the living primate, ternyata ada 4 subspecies surili Sumatra, Bicolor, Mitrata, Nobilis, dan Melalophos. Dalam kategori daftar merah IUCN species ini termasuk Endangered.
Surili Sumatra yang saya jumpai kali ini  berada di wilayah administrative Kab.Solok Selatan, Kec. Sangir, Ds.Sungai lambai,habitat hutan sekunder dekat dengan perkebunan, relative dekat dengan kegiatan manusia, dan nampak mereka sudah terbiasa dengan kehadiran manusia, karena tidak takut dan tidak langsung lari. Suara monyet ini hampir sama dengan suara Surili Jawa, agak mirip juga dengan Lutung merah dari Kalimantan. Tidak banyak penelitian ataupun survey jenis surili Sumatra ini, jadi untuk statusnya sekarang sebenarnya juga tidak jelas karena tidak adanya data yang cukup. Sebaran jenis surili Sumatra masih belum jelas, bahkan juga taxonominya masih di perdebatkan juga. Hilangnya habitat, konversi hutan untuk perkebunan, pertanian, pemukiman, jalan dan lain sebagainya adalah ancaman yang nyata dari monyet ini. Sepertinya juga monyet ini memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan habitat, seperti yang saya temui ini, malah kadang masyarakat sekitar menganggapnya sebagai monyet penganggu, karena sering masuk ke ladang-ladang. Disisi lain sebenarnya ini juga potensi juga untuk wisata minat khusus pengamatan primata, karena warnanya yang sangat “colourful” menurut saya dan mudah dijumpai, bisa digunankan sebagai icon untuk wisata alam setempat, karena tidak perlu jalan jauh ke dalam hutan dan mendaki gunung yang tinggi sudah bisa ketemu dengan monyet ini, mungkin bisa juga alasan seperti ini untuk melindungi habitatnya bisa lewat hal seperti ini juga.
Read more...