Monday, August 03, 2015

#fieldworkfail Cerita Gagal para Monyet

Ada yang saya suka dari sosial media twitter, yaitu dapat membangun komunitas sendiri berdasar # hastag dan kata-kata yang menarik perhatian. Awal bulan agustus kali ini ada hastag #fieldworkfail yang dengan singkat menjadi ‘social experiment’ yang lain daripada yang lain, hingga saya menulis tentang ini.Yang mengirim posting posting  ini biasanya adalah para pekerja lapagan, peneliti, field biologist atau conservationist. Banyak cerita-cerita yang sebenarnya kalau di lapangan bukan sesuatu hal yang menyenangkan bahkan kadang membahayakan diri kita sendiri. Namun setelah itu kadang setidaknya kita di buatnya menertawakan dirikita sendiri.

Penelitian ataupun kegiatan konservasi yang jauh dari kemudahan sarana dan prasarana membuat kita harus kreatif di lapangan, karena kegiatan ini juga tidak cukup sedikit biaya , waktu dan tenaga yang kita harus sediakan. Beberapa cerita berikut dan foto-foto mungkin akan bermakna lebih dari kata-kata, yang pernah saya alami ketika di lapangan dengan hutan, primata-primata , kondisi alam dan manusia-manusia di sekitarnya. Membuat kita kadang memang alam tidak bisa kita duga dan harus berhati-hati di kemudian hari.

#fieldworkfail 1. Salah satu cerita yang tetap terngiang hingga saat ini juga ketika expedisi mencari monyet langka di kalimantan timur, ketika itu saya dan seorang teman sedang menyusuri sungai Sangata dari arah hulu, di sekitar muara sangata, menjelang sore kami sedang melihat bekantan dengan menggunakan boat, tapi entah bagaimana tiba-tiba boat kami bertabrakan dengan boat dari arah depan, dan terbalik di muara sungai yang konon banyak buayanya itu. Camera , berikut lensa, gps, binokuler, handycam. Tenggelam dan beberapa hilang di muara sungai Sangata itu. Saya sempat tenggelam dan di balik boat yang terbalik itu, dan teman saya juga selamat . bersyukur kita selamat, meskipun kita harus kehilangan alat-alat penelitian dan mengganti biaya servis mesin boat. Salah satu binokuler sempat terselamatkan, dan harus di bongkar juga, karena kerendam air payau sungai sangata. Kemudian kami dengan peralatan tersisa dan kami harus melanjutkan expedisi lagi ke arah Sangkulirang. 

binokuler harus di bongkar karena berembun di dalam



 #fieldworkfail 2. Kali ini, cerita dari bumi mentawai, ketika saya sedang melakukan penelitian tentang distribusi Bilou (Hylobates klossii) di Pulau Siberut. Kala itu kami sedang menyusuri sungai siberut menuju hulu, sungai yang tanggung (tidak banjir dan tidak kering) membuat motorist (pengemudi sampan) menjadi agak canggung juga memilih jalur. Ketika perjalanan sudah kira-kira 2 jam, dari muara siberut, baling-baling kami mengenai batu , dan kami harus menepi dulu dan melihat baling-baling itu, karena setelah suara “bletakkk” itu sampan tidak dapat melaju lagi seperti sedia kala. Kami menepi dan mengecek baling-baling itu, ternyata patah, dan ketika di cari-cari baling-baling penggantinya ternyata motorist tidak bawa penggantinya. Malah kunci-kuncipun tidak bawa...haduuuuu..hh. 


Sungai dangkal di Siberut membuat baling-baling patah berulangkali

 #fieldworkfail 3. Cerita ini dari kegiatan untuk Owa jawa, kala itu wilayah survey kami mencakup area jawa tengah, mulai dari dieng sampai pegunungan pembarisan di Brebes, kami ber4 dengan kendaraan lapangan kami full loaded selama 1 bulan mencari informasi dimana masih ada hutan dan owa di Jawa Tengah, jala-jalan yang kami lalui lebih banyak offroad nya dari pada bagusnya. Si Jimny Owa, kendaraan lapangan kami beri nama, tidak hanya sekali atau dua kali trouble, macet dan bahkan kondisi jalan yang tidak memungkinkan kita harus siap menginap di manapun. Ketika kita akan menuju daerah brebes pegunungan pembarisan, hari sudah gelap dan kita tidak tau medan seperti apa jalan di depan, akhirnya kita harus menginap di samping kandang ayam yang aroma baunya sudah pasti tidak menyenangkan. Selanjutnya kendaraan yang bermasalah karena jauh dari bengkel tentu kita harus bisa memperbaikinya sendiri dengan tim kita. 
Jimny Owa lagi mogok di hutan

 #fieldworkfail 4. Sungai telen, Kalimantan timur, tahun 2009, 2010, banyak sekali cerita kegagalan selama di lapangan, karena kondisi alam yang tidak menentu. Ketika itu kami tim yang diturunkan untuk istilahnya babat alas untuk menyiapkan areal pelepas liaran orangutan. Yang selalu teringat di sana adalah ketika kita menyeberangi sungai yang dalam dan berbatu itu kita harus menggunakan “roller coaster” made in Pelangsiran itu. Setelah itu berkendara menggunakan kendaraan 4x4 menyusuri jalur bekas logging yang sudah tidak di gunakan lagi selama beberapa tahun. Jalur ini masih digunakan oleh pencari emas, pemburu gaharu dan sarang walet. Beberapa sungai besar dan arus deras juga harus kita lewati, dengan keterbatasan yang ada telah membuat para driver disini kreatif memodifikasi kendaraanya. Tidak hanya sekali atau dua kali kita harus track back ke camp karena kondisi sungai yang susah di lewati, sehingga harus menunggu sungai lebih mudah di lewati.


#fieldworkfail di Pedalaman Kalimantan Timur
Kiranya anda juga sering di lapangan atau dimanapun punya pengalaman #fieldworkfail cukuplah untuk menertawakan dirikita sendiri dan kita benar-benar bodoh pada waktu itu.semoga para monyet terus tersenyum-senyum sendiri.
Read more...

Tuesday, April 28, 2015

SwaraOwa


Semenjak membantu menjadi salah satu admin twitter @Swaraowa, sepertinya kesibukan nulis blog ini semakin menurun, menulis singkat beberapa kata dengan foto, atau kadang hanya foto saja ternyata membuat ketagihan, apalagi ada semacam rasa senang atau apalah ya ketika ocehan kita di re tweet oleh orang yang lebih senior di twitter atau followernya udah ribuan atau jutaan.

Terlepas dari itu, sebenarnya bukan tidak sengaja saya dan teman-teman lebih aktif di media sosial khususnya twitter, karena memang tujuan kita adalah memperluas sasaran audience dari kegiatan pelestarian kita di sokokembang Petungkriyono. Peningkatan kesadaran konservasi sepertinya masih menjadi salah satu bagian prioritas dari upaya pelestarian alam di bagian bumi yang mengalami ancaman kepunahan. Kira-kira saat ini ada lebih dari 2 milyar akun media sosial dengan banyak platform (facebook ,twitter, instagram, pinterest,watsapp, g+,dll) bisa dibayangkan kalau kita coba aktif di salah satu media sosial tersebut setidaknya ada kemungkinan lebih dari 20 persen penduduk di bumi bisa kita ajak bersama-sama untuk melestarikan alam. 

Bukan sekedar membuat akun untuk biar lebih dikenal saja, namun setidaknya hal ini kita lakukan untuk meningkatkan dampak positif dari upaya pelestarian alam melalui sosial. silahkan platform apa yang akan anda pilih, dan mari kita bersama mengajak melestarikan alam ini. Silahkan follow, RT marii...sampai jumpa di @swaraOwa


Bacaan :


Read more...

Monday, March 09, 2015

Applikasi Smartphone Untuk Penelitian Primata dan Konservasi

tampilan  foto dengan applikasi geocam

Smartphone sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk kegiatan sehari-hari, banyak kemudahan dan penyederhaan fungsi dari peralatan yang dapat di jumpai dalam smartphone, tentunya dengan instalasi applikasi yang sesuai. Kegiatan penelitian dan pengamatan/monitoring primata hutan sokokembang telah 2 tahun terakhir ini menggunakan smartphone untuk dilapangan, tentunya dengan dukungan applikasi yang sesuai akan mempermudah data collection dan kegiatan pelestarian pada umumnya .

Salah satu applikasi dalam smarphone yang telah dan sedang kita gunakan untuk monitoring Owajawa adalah “Geocam”. Applikasi ini menggabungkan beberapa peralatan sekaligus yang sebelumnya digunakan untuk monitoring owa. Silahkan download disini, dan silahkan coba-coba dulu untuk penggunaan alat ini. Untuk monitoring owajawa, biasanya setidaknya kita akan mencatat tentang data tanggal, posisi koordinat, arah kompas (untuk mencatat arah datangnya suara), foto dll. Geocam sudah mencakup itu smua dalam satu sentuhan, prinsip geotagging pada foto di dukung hardware gps yang ada dalam smartphone sangat membantu. Selain itu dalam tampilan frame foto yang di ambil dalam applikasi ini juga mencatat arah kompas. Dan ini sangat di penting ketika mencatat sudut datang suara owa.

Saat kita sudah sampai di listening post , biasanya kita akan menunggu owa bersuara, dengan smartphone kini, fungi gps handheld, kompas, camera saku, sudah di gantikan. Untuk penggunaan applikasi ini perlu di kalibrasi terlbih dahulu dengan memutar smarphone kita beberapa kali, pada posisi yang rata. Kemudian pencatatan data vocal count, sebaiknya menunggu posisi gps dengan tingkat akurasi kurang dari 10 meter. Kemudian waktu mendengar kelompok owa bersuara, kita tinggal menunggu beberapa saat untuk memotret arah datangnya suara, dan ketika eror gps sudah kira-kira di bawah 10 meter, foto bisa kisa simpan. Selanjutnya bisa kita kombinasikan dengan applikasi yang lain untuk pengelolaan data dan analisisnya. Selamat mencoba!! Read more...

Sunday, January 18, 2015

Jebakan camera di hutan Owa

Akhir tahun 2014, penelitian dan kegiatan konservasi Owa di hutan Sokokembang telah dan sedang menggunakan alat baru, yaitu camera trap. Pengertian camera trap bisa langsung ke link ini saja. http://en.wikipedia.org/wiki/Camera_trap.

Kali ini kami mencoba menggunakan camera trap untuk melihat jenis-jenis satwa yang jarang di jumpai di hutan owa, sekaligus inisiasi awal dari penelitian keanekaragaman mamalia kecil di habitat kopi hutan Sokokembang. Dua bulan pemasangan camera trap ini menjadi pengalaman kami bagaimana menempatkan camera trap.

Kamera ini juga bisa merekan video, perilaku satwa juga dapat dengan mudah di amati dari video yang terekam. Beberapa hasil camera juga sangat penting untuk data keanekaragaman hayati dan kedepan juga dapat digunakan sebagai justifikasi pentingnya melindungi kawasan ini sebagai habitat satwaliar yang hanya ada di habitat habitat tertentu. Kedepan penggunaan camera trap di hutan Sokokembang dapat bisa juga untuk mengetahui perilaku jenis-jenis satwaliar yang pemalu, sulit di amati. Jenis-jenis mamalia kecil juga sangat penting keberadaanya di hutan karena mereka sebenarnya juga mempunyai peran penting bagi hutan. Sepeti musang, luwak atau bajing, mereka juga membantu regenerasi hutan, dengan menyebarkan biji-bijian pohon hutan.

Dan masih menunggu hasil-hasil dari camera trap ini....
Read more...

Monday, October 06, 2014

SwaraOwa

Tahun 2004 di pedalaman kalimantan tengah pada waktu itu, pertama kali saya mendengar suara Owa, perasaan itu masih terngiang sampai sekarang, karena waktu itu pagi hari pertamakali saya sampai distasiun penelitian barito ulu, merinding juga, kalau ingat suara itu, dan saya langsung berlari ke arah kolega saya yang mengajak saya ke tempat itu, dan saya menanyakan suara apakah itu?? Penasaran saya mencoba menebak itu suara burung...dan ternyata jawaban saya salah...itulah suara owa!!

Kira-kira begitulah awal saya berkenalan dengan owa, dan hampir 4 tahun terakhir ini lebih akrab dengan jenis owa yang ada di Jawa, Owajawa (Hylobates moloch). Dan mulai awal tahun 2014, saya mencoba apa yang saya lakukan di kalimantan tengah pada saat itu, untuk merekam suara owa dan juga melakukan sbuah studi awal tentang variasi suara owa di hutan Sokokembang. Persiapan tentuny perlu banyak tanya-tanya sana sini, baca sana baca sini, tentang alat rekam yang digunakan untuk merekam suara owa, sangat berbeda ketika itu di kalimatan saya menggunakan alat yang built-up, tinggal plug and play, saat itu masih menggunakan pita kaset untuk merekam dan juga telah menggunakan microphone khusus (directional microphone). 

Tujuan untuk merekam suara owa ini adalah awalnya untuk edukasi,menyebarluaskan pesan pelestarian hutan khususnya owajawa dan habitatnya. Karena menurut saya owa , adalah primata yang sangat atraktif, selain karakter morfologi, tingkah lakunya, owa jawa memilliki perilaku bersuara yang unik, dan layak untuk didengar kapanpun karena sepertinya mereka menyanyikan sebuah lagu.

Dengan budget yang terbatas tentunya tidak akan dapat membeli peralatan “recording” yang tangguh di lapangan, dan akhirnya pilihan tertuju pada sebuah directional microphone yang cukuk lazim untuk rekam suara satwaliar di alam, yaitu Rode NTG2 (http://www.rodemic.com/microphones/ntg-2) micropone ini saya dapatkan di salah satu toko audio di Jogja dengah harga Rp 2.500.000,-, dan keputusan untuk menggunakan smartphone sebagai perekam dan penyimpan data juga karena alasan budget terbatas itu tadi, dan setelah baca di artikel tentang penggunaan smartphone untuk wildlife sound recording disini. http://www.wildmountainechoes.com/equipment/audio-recording-with-a-smartphone

Setelah mendapatkan shotgunmic dan kebetulan smartphone juga telah ada, saatnya mencoba di lapangan dan melihat hasilnya seperti apa? Ujicoba selama beberapa hari di lapangan kesimpulannya saya perlu menambahkan sebuah pre-amp atau penguat pada microphone saya, dan itu memang di recomendasikan untuk merekam suara di alam/outdoor .Tapi lagi-lagi harga 1 unit pre-amp hampir kira-kira seharga microphone yang telah saya beli,tanya lagi ke berbagai sumber, bisa juga pre-amp di beli dengah harga murah asalkan mau sedikit repot, yaitu merakitnya sendiri. Custom pre-amp-DIY (dibuat sendiri) akhirnya jadi dengan konsultasi terlebih dulu dengan ahlinya (tukang elektronik). 

Dan hasilnya!! dengar dan rasakan bagaimana suasana hutan hujan tropis jawa, dimana Owa, monyet, burung, angin, serangga, daun, dan manusia saling berkomunikasi, berbicara...!!silahkan kesini http://swaraowa.blogspot.com/2014/08/sokokembang-rainforest-sound-recording.html. Atau follow account twitter project ini di https://twitter.com/swaraOwa 

Bahan bacaan : 
http://www.bioacoustics.info/
http://www.goodreads.com/book/show/948668.Field_and_Laboratory_Methods_in_Primatology Read more...

Thursday, July 03, 2014

Ketika Owajawa dan Kopi Menjadi Sebuah Bahasa Universal

Ketika anda minum secangkir kopi di rumah,ataupun di kafe, di warung kopi, apakah juga sudah terlintas dibenak anda dari mana secangkir kopi itu berasal? Bisa sebuah penelitian singkat ketika membeli kopi baca di bungkusnya, jenis kopinya apa, darimana asalnya dan di buat oleh siapa.
Sebenarnya awal dari project Kopi dan Konservasi Primata ini adalah ketika ketika melihat beberapa kawasan hutan yang ada di tempat lain yang juga terdapat Owa Jawa , terlihat lebih rusak karena penanaman kopi di hutan. Sementara di Sokokembang selain juga populasi Owa nya yang tinggi, kalau di bandingkan dengan tempat lain kerusakan hutan di sekitar dusun Sokokembang ini relative tidak separah di tempat lain.

Alasan lainnya adalah ketika kita ingin menyampaikan bahwa penting untuk menyelamatkan Owa Jawa sebagai binantang yang hanya ada di Pulau Jawa, akan sangat susah membangun logika ke masyarakat sekitar hutan bahwa apa pentingnya Owa bagi kehidupan mereka? Ketika kita mengajak “mari selamatkan Owajawa” manfaat langsungnya apa bagi mereka?sementara mereka masalah ekonomi menjadi kegiatan utama di hutan yang notabene primata-primata ini saat ini tersisa di jawa. mulai saat itulah kami mulai berkenalan dengan “dunia hitam” kopi.

Beberapa artikel tentang kopi naungan /shade grown coffee1 dan hasil penelitian kami2 menjadi landasan untuk bagaimana kami akan berkontribusi dalam pelestarian primata langka endemik jawa sekaligus memberikan solusi bawah pelestarian Owa jawa ini juga bisa menjadi solusi ekonomi bagi masayarakat sekitar hutan.

Studi awal tentang budidaya kopi di sokokembang juga di lakukan, selain dengan pelan namun pasti mendorong warga di dusun Sokokembang untuk lebih menghargai produk kopi hutannya. Tujuannya adalah agar orang lain di luar sokokembang juga mau menhargai lebih kopi dari hutan di sekitar mereka. Harapannya dengan pengolahan kopi yang tetap ramah hutan seperti ini, dengan sendirinya akan mengurangi tekanan terhadap hutan itu sendiri. Dengan ke unikan kondisi alam dan potensi Owa Jawa yang di miliki, dengan beberapa warga dusun Sokokembang kami menambahkan cerita asal-usul kopi Sokokembang ini dalam kemasan kopi bubuknya. Kopi yang tumbuh liar di hutan dan dengan proses tradisional yang tetap di pertahankan, yang tidak merusak hutan, adalah sebenarnya kontribusi yang nyata dari warga Sokokembang untuk pelestarian Owa jawa dan flora fauna yang unik yan ada di lahan kopi hutannya. 

Melalui kopi ini juga kami menyebarkan pesan pelestarian Owa jawa, tidak hanyak untuk warga sekitar hutan namun juga masyarakat pada umumnya, menjadikan Kopi dan Owa menjadi sebuah bahasa pergaulan universal yang harapannya akan mudah di terima oleh siapa pun, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi untuk pelestarian alam dan kemakmuran yang lestari. 

Selamat minum Kopi dan mari selamatkan Owa Jawa dan habitatnya.

1. https://docs.google.com/open?id=0B14jOutVwOB1cndqQ2tESjJZX3M 
2. http://www.coffeehabitat.com/ Read more...

Friday, June 06, 2014

Inspirasi sang Penjaga Hutan

Sosok pak Tasuri atau lebih akrabnya saya dan teman-teman memanggilnya Pak e (dalam bahasa jawa yang berarti Bapak), pertama kali berjumpa kira-kira di tahun 2007, waktu itu teman saya kemalaman di hutan, ketika sedang melakukan survey sebaran primata Jawa di Jawa Tengah. Waktu itu 2 teman saya singgah ke rumah pak Bau (kepala dusun), dan menanyakan dimana bisa numpang menginap, oleh Pak Bau waktu itu teman saya di sarankan untuk tidur di rumah pak RT. Kemudian setelah itu 2 teman saya di antar ke rumah di sebelah Pak Bau agak ke atas, Pak Tasuri waktu itu sebagai ketua RT di dusun Sokokembang.

 Sekilas cerita di atas adalah awal kami bertemu dengan Pak e, dan baru beberapa waktu kemudian setelah itu saya berkunjung ke Dusun Sokokembang, semenjak kedua teman saya lebih akrab dengan Pak e, Survey primata waktu itu kami butuh pendamping atau guide yang mengerti tentang hutan, tidak hanya sekedar pernah di hutan tapi juga pengetahuan penguasaan atau orientasi medan di hutan , dan mengetahui stidaknya ciri-ciri primata yang ada di hutan dan jenis-jenis pohon dalam bahasa setempat, dan itu sangat membantu selama survey primata di hutan. Orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman medan di hutan, waktu itu hanya kami temui Pak e, yang seorang pemburu, tinggal dan besar di hutan . Waktu itu pekerjaan pak tasuri bisa dibilang adalah berburu di hutan, binatang buruan khususnya burung-burung itu kemudian di jual atau di ambil pedagang lainnya di rumah. Dibelakang rumah waktu itu terlihat nyata sekali kandang burung terbuat dari jaring yang di kotak-kotak ukuran kira-kiran 25x25 cm berjajar, dengan isi berbagai jenis burung.

 Selain itu pada tahun-tahun awal beberapa kali menginap di rumah pak Tasuri sering kali teman-teman pemburu Pak e, juga datang dari luar desa, datang dan menginap dan kemudian berburu bersama Pak e. Pengetahuan dan pengalaman di hutan Pak e, inilah yang membawa saya dan teman-teman hingga saat ini terus berkegiatan dan memotivasi kami untuk terus melakukan kegiatan yang awalnya hanya penelitian untuk tujuan akademis sekarang lebih luas ke pelestarian primata dan hutan di Sokokembang dan Petungkriono pada umumnya. 

 Pak e ,seorang bapak dari 3 orang anak, selain ketiganya kini, beberapa anak-anak didiknya yang telah selesai menyelesaikan tugas akhir dibawah bimbingan seorang pak e yang mantan pemburu, telah berkarir di dunia masing-masing membawa pengalaman dari Sokokembang yang tentunya juga sangat berharga.

 Mulai saat itulah Pak e lebih akrab dengan dunia penelitian dan konservasi, hampir setiap tahun ada mahasiswa yang datang entah hanya berkunjung sebentar atau beberapa bulan melakukan penelitian tentang primata dan keanekaragaman hayati yang ada di hutan petungkriono. Pengetahuan tentang primata, jenis-jenis pohon hutan, kondisi medan dan kesabarannya melewati medan yang sulit menjadi teladan bagi kami dan memotivasi kami untuk terus melakukan penelitian dan pelestarian hutan dan semua fungsinya agar terus dapat di jaga dan dimanfaatkan secara lestari dan bijaksana. 

Hingga pada pertengahan tahun 2013, pekerjaan pak e yang selalu dengan sabar menemani dan membimbing para peneliti ini di dengar oleh pemerintah setempat (Kab. Pekalongan), Pak e mendapatkan penghargaan sebagai pegiat lingkungan tingkat kabupaten. Penghargaan ini di berikan pada saat pencanangan hari menanam pohon nasional di tingkat kabupaten Pekalongan. Penghargaan yang di serahkan langsung oleh bupati Kab. Pekalongan, setidaknya memberikan semangat tersendiri bagi Pak e dan keluarga besar di dusun Sokokembang.

 Tahun 2014 bulan Mei, salah satu televisi nasional melalui pemerintah Kec. Petungkriono menghubungi Pak e, dan Pak e akan di nominasikan jadi salah satu kandidat Liputan 6 award, sebuah program dari stasiun TV tersebut akan memberikan penghargaan kepada tokoh atau individu yang dapat menginspirasi masyarakat luas. Kunjungan dan pengambilan gambar juga telah dilakukan di dusun Sokokembang.Bercerita tentang Pak e yang dulu mantan pemburu kini telah berubah dan menjadi sosok yang penting bagi konservasi salah satu primata yang terancam punah. Tidak hanya itu keterlibatan Pak e secara langsung dalam program konservasi Owajawa dan Kopi,telah menumbuhkan semangat dan harapan baru bagi Pak e dan orang-orang disekitar habitat Owa jawa untuk menghargai apa yang ada di sekitar mereka. Owa, kopi dan hutan yang memberikan banyak manfaat untuk kehidupan. Semoga menginspirasi
Read more...