Wednesday, May 18, 2016

Forestcoustica


Hutan dan segala isinya telah membuat banyak manfaat bagi kita, suara dari hutan tentu sangat berbeda dengan suara-suara yang di hasilkan oleh lingkungan lainnya. Entah burung, angin, air, monyet, pohon, serangga, dan masih banyak hidupan liar lainnya yang bersuara. Suara-suara ini juga hilang apabila ada yang mati. Hutan semakin sepi dengan hilangnya hidupan liar, pohon di tebang, burung di ambil, di buru, satwa-satwa di hilangkan fungsinya. Tidak lagi bersuara di hutan habita aslinya. 


Kami menyebut Forestcoustica, untuk suara-suara yang dihasilkan oleh hidupan liar yang kita dengar di hutan. Kegiatan merekam suara alam ini sudah sejak tahun 2013 kita mulai di hutan habitat Owa jawa di Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan. Mengengal hutan melalui suara-suaranya juga di arusutamakan lewat soundcloud. https://soundcloud.com/swara-owa .Playlist album swaraowa yang berisi suara-suara dari hutan tempat penelitian dan konservasi Owa jawa. Project ini terus berjalan untuk terus mendokumentasikan dan merekam suara-suara dari habitat asli. Anda yang tertarik untuk project ini bisa hubungi  lewat wawan5361@gmail.com


Read more...

Thursday, May 05, 2016

Simpai Kincai : Cerita dari dataran tinggi Kerinci


Pertamakali melihat simpai (Presbytis melalophos) adalah tahun 2002, di sekitaran Palembang, Sumatera selatan, angan-angan waktu itu pengen mengamati monyet ini lebih dekat lagi, dan baru tahun 2012 kemaren kedua kalinya saya melihat simpai, tapi lokasinya di sekitaran Sungai Penuh. Tahun 2016 ini kebetulan ada sahabat saya yang mengundang saya untuk melihat simpai lagi, study sitenya adalah sekitaran Gunung Kerinci, tidak jauh dari lokasi kedua saya melihat simpai, yaitu di sekitaran Danau Gunung Tujuh, Taman Nasional Kerinci Seblat. Simpai adalah nama lokal jenis monyet pemakan daun yang sangat luas sebarannya namun juga kurang di perhatikan, sebagai fauna endemik Pulau Sumatra. 

Tempat yang saya tuju adalah Gunung Tujuh, kebetulan sekali basecamp tempat menginap kami, disamping kantor resort Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci. Subspecies surili Sumatra tercatat juga sangat beragam, dan higga saat ini informasi sebaran subspecies tersebut sangat terbatas juga. Namun yang menarik juga kawasan hutan di sekitar kerinci ini juga menjadi habitat 2 jenis Owa yang langka, yaitu Siamang (Sympalangus sindactylus) dan  Ungko (Hylobates agilis). Tidak banyak upaya penelitian dan konservasi terkait dua kera kecil ini. Jenis primata lainnya yang tercatat di wilayah ini di antaranya, ada Lutung Sumatra (Trachypithecus cristatus), Beruk (Macaca nemestrina), dan Kukang (Nycticebus coucang) 
Mengamati primata di habitat aslinya

Kita mulai survey dari ketinggian 1400 mdpl, jalan setapak menuju Danau Gunung Tujuh, jalan mendaki dengan pohon-pohon yang tinggi besar masih nampak terjaga dengan baik. Beberapa burung juga nampak tidak takut dengan kehadiran kita. Sampai ketinggian 1660, kita melihat pertama kali seekor Simpai yang sedang makan, kurang lebih 1 menit berikutnya kita mendeteksi ada 2 individu yang lain. Tidak sampai 10 menit terlihat 4 individu yang berlari menjauhi kita. 

Hutan rawa dataran tinggi Kerinci 


Itik gunung Rawa Bento

Rawa Bento, di dusun Sungai Jernih, Kecamatan Gunung Tujuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi tempat inilah yang kita jadikan site kedua untuk primate watching, setelah mempersiapkan sampan dan peralatan menyusuri sungai, boat survey kita lakukan untuk mengamati primata yang mungkin ada di hutan rawa Bento. 2 sampan kecil yang di rangkai jadi satu menjadi sampan yang kita gunakan dan bisa menampung 5 orang. (2 kemudi) dan saya dan 2 teman. Survey primata yang lain daripada yang biasa kita lakukan di daratan, kali ini membutuhkan peralatan tambahan yaitu perahu/sampan, pelampung, dan smua peralatan : camera, gps, dimasukkan kedalam waterproof case. Plastik dengan zipper, sangat membatu melindungi peralatan seperti camera dan alat tulis. Dengan 3 orang pengamat dan 2 orang pendayung sepertinya masih cukup berat karena arus sungai yang agak kuat, dengan mendayung ke hulu kecepatan kurang lebih 1.5 km/jam, kita terus pasang mata dan mendengarkan suara-suara yang mungkin terdengar dari dalam rawa yang lebat. 
Rawa Bento dengan Gunung Kerinci

Rawa Bento sendiri merupakan fenomena geologi yang unik di plateu Kerinci, karena proses geologis yang mengakat permukaan bumi, membuat cekungan yang menjebak air dari sungai yang mengalir, hingga tertumpuk endapan yang sudah sekian lama terbentuk, sementara vegetasi hutan pegunungan terjebak dalam genangan air terus menerus. Keragaman flora fauna tercatat sudah ada beberapa yang melakukan assessment, namun untuk primata sepertinya belum ada informasi yang akurat mengenai jenis-jenis primata, sebaran dan upaya konservasi di Rawa Bento. 



Surili Sumatra 
Simpai Kincai
Kalau melihat IUCN redlist, surili Sumatra ini mempunyai catatan taxonomy yang masih di perdebatkan, di IUCN sendiri terdapat 4 subspecies yang di bedakan secara morphologi, dan batas geografis sebagai sebaran alaminya. Sementara (Roos et al 2014 ) yang membuat update untuk taxonomi dan status konservasi Asian Primate membuat klasifikasi baru atau merevisi taxonomy Genus Presbytis di Sumatra. Tentu hal seperti ini kadang membuat kita yang di lapangan terkadang ragu mau mengikuti taxonomy yang mana, karena kegiatan lapangan kita tentu akan menggunakan salah satu nama species tersebut untuk tujuan konservasi selanjutnya, misal publikasi dan edukasi kepada masyarakat umum. Dan ini seharusnya menjadi perhatian para pihak terkait untuk justifikasi ilmiahnya. Setidaknya inilah yang menjadi kontribusi kegiatan lapangan untuk ini, berawal dari survey lapangan harapannya nanti akan memberikan kontribusi untuk kelestarian jenis monyet di Sumatra.

Bacaan : 
Roos, C., Boonratana, R., Supriatna, J., Fellowes, J. R., Groves, C. P., Nash, S. D., ... & Mittermeier, R. A. (2014). An updated taxonomy and conservation status review of Asian primates. Asian Primates Journal4(1), 2-38.
Read more...

Monday, February 29, 2016

Drone untuk Monyet "Dronyet"

habitat primata di Gunung Lawu
 Foto dengan “seribu bahasa” tetap saja menjadi hal baru, meskipun sudah sejak lama telah menggunakan fotografi sebagai tools untuk menyampaikan sebuah pesan. Dengan berbagai sudut pandang tentu akan mempunyai makna yang berbeda, interpretasi yang sederhana namun penuh arti dapat di sampaikan melalui sebuah bingkai foto. Foto udara, kini menjadi hal yang lebih mudah dilakukan bagi setiap orang, dengan adanya teknologi pesawat tanpa awak atau pesawat yang dikendalikan jarak jauh. Salah satunya adalah “drone”, silahkan googling sendiri sejarah awal mula drone ini, dan kali ini saya dan tim swaraOwa mencoba menggunakan alat ini untuk membantu menyampaikan pesan pelestarian primata endemik jawa, untuk mengambil foto dari udara.

Peralatan baru ini terdiri dari pesawat baling-baling empat, remote control, dan smartphone. Ketiganya ini di rangkai sedemikian rupa menjadi semacam robot yang di perintah untuk pergi terbang, mengumpulkan misi berupa gambar,atau video, dan kembali pulang membawa hasil yang diperoleh selama terbang. Pengendali atau “pilot” adalah the man behind machine, yang harus dilatih kemampuan membaca situasi lapangan. Semakin banyak jam terbang semakin kuat kemampuan menganalisa kondisi lapangan. Pesawat dengan batrey dan kendali jarak jauh, memilki waktu terbang yang sangat terbatas, kurang lebih 20 menit. Jam terbang pilot juga sangat di butuhkan untuk efektifitas waktu dalam hitungan detik kadang angin berubah dan bertiup kencang, keputusan harus segera di ambil jangan sampai membahayakan pesawat dan lingkungan sekitar apabila crash Jalur terbang, sangat peting di tentukan terlebih dahulu, terlebih untuk area yang rapat vegetasi pohonnya. 


Ds. Tlogohendro, kampung disekitar habitat Owa, Petungkriyono, Pekalongan
Take off, hovering, turning, naik- turun harus di kuasai dengan baik, untuk karena harus koordinasi gerak jari di remote control, melihat pesawat dan juga melihat monitor. Karena yang kita ambil adalah foto, dasar-dasar fotografi setidaknya telah kita kuasai, “exposure” gelap- terang akan cepat berubah apabila pesawat dengan kamera kita terus bergerak. Pilot dalam hal ini selain harus mengendalikan pesawat juga harus mengambil foto. Ada beberapa pilihan foto yang harus di sesuaikan terlebih dahulu sebelum terbang.

Melihat habitat, hutan monyet dari udara sepertinya sangat jarang di peroleh, karena biasanya kita on the ground,dengan pesawat tanpa awak ini punya perpektif lain dalam menganalisis habitat, misalnya tutupan hutan, bentang lahan, monitoring perambahan habitat dan jenis-jenis pohon. Pohon dengan tajuknya mempunyai karakter warna yang berbeda, dan hal ini sangat membantu untuk analisis vegetasi. Tutupan kanopi yang saling tumpang tindih dan gap antar tajuk terlihat jelas dari foto udara. Masih banyak hal yang bisa di optimalkan fungsi dari drone untuk konservasi primata, membantu upaya pelestarian hutan.


Read more...

Tuesday, February 09, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlist, dan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa, secara ekologis, ekonomi, ilmu pengetahuan ataupun sosial budaya. 

Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Surili ini di blog ini, akun sosial media kami twitter, Instagram, FB @swaraOwa.

bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018




Read more...

Thursday, January 21, 2016

Ponsel Cerdas untuk Monyet

Kemampuan ponsel saat ini sudah luar biasa, kira kira 3 tahun yang lalu dilapangan kita selalu tergantung kepada beberapa alat penelitian, khususnya untuk data recording. GPS seukuran kepalan tangan, Kompas, camera pocket, lensa makro, belum lagi alat tulis dan peta. Namun kini dengan satu alat saja semua sudah tersedia. Smartphone yang berkembang saat ini sangat membatu kegiatan penelitian dan pelestarian alam, catatan penelitian tinggal di tulis dan disimpan dalam smartphone, mencatata posisi koordinat, ketinggian lengkap dengan keterangan foto dan video juga bisa dilakukan, dan tinggal disimpan di “awan” kemudian bisa kita share dengan teman atau di media sosial.

ponsel cerdas juga ringan di bawa untuk primate watching

Dengan kemampan cerdasnya ponsel ini juga berkontribusi utuk membantu kegiatan pelestarian alam disekitar kita. Sudah banyak tempat-tempat yang kita foto dan kita bagikan kepada orang lain lewat media sosial, mengundang orang lain untuk datang dan akhirnya tempat itu jadi ramai bahkan beberapa kasus sebelumnya juga obyek alam tersebut jadi rusak dan tidak dapat di pulihkan dalam waktu yang singkat.

Kisah badak afrika, geotag dalam foto memudahkan pemburu dalam mencari lokasi badak yang akan diburu dan di ambil culanya. "Selfie seeker" trend baru di dunia sosial media, selain membuat terkenal sebuah lokasi juga membahayakan habitat dan diri mereka sendiri karena kadang ingin meraih "like" atau "comment" yang banyak. Tidak hanya foto bahkan beberapa pemburu ini memanfaatkan jurnal penelitian yang memuat temuan species baru, dan ironisnya species itu baru beberapa minggu sebelumnya di terbitkan dan sudah di temukan tersebut di temukan di pasar satwa.(baca disini).



dengan ponsel anda juga bisa menjadi ilmuwan warga (citizen scientist)

Ada juga yang mengungah foto-foto yang tidak ramah sama sekali, hewan buruan yang di dapat dan dengan bangganya mendapat like dari banyak orang. Kemudian menjadi viral untuk tidak hanya menghujat namun juga beberapa di ataranya katanya juga di tindak tegas sesuai hukum yang berlaku. ponsel pintar, namun juga belum tentu di gunakan sesuai ke pintarannya. Foto-foto dari ponsel pintar ini, semakin membuat simpel perdagagan satwaliar dan berkembangnya hobi memelihara binatang tentu membuat pasar-pasar hewan semakin sepi, dan binatang-binatang hutan banyak di habitat sosial media. transaksi semakin tinggi mendekatkan binatang yang biasa di hutan dengan manusia, hewan-hewan semakin berkemanusiaan, karena selalu dalam habitat manusia, makan, minum, kawin, smua disediakan, tanpa peduli resiko penularan penyakit. Hutan semakin sepi, kosong dan tidak berpenghuni. Rantai makan dan dimakan yang menjadi alur keseimbangan alam menjadi kacau karena satu mata rantai hilang. Lucu menjadi alasan utama untuk membawa hewan liar ini dalam habitat manusia.


Tekanan terhadap habitat satwaliar dan alam yang tidak pulih pada umumnya sudah tentu akan semakin tinggi dengan teknologi informasi yang cepat ini, Jepret , unggah, like, share dan share...kemudian berbondong-bondong datang ke tempat tersebut. Dari sisi ekonomi tentu ada dampak, karena kegiatan kunjugan juga tentu banyak jasa yang terkena efeknya. Interaksi langsung pengunjung dan warga setempat juga akan mengalami dinamika perubahan. Bagaimana dari sisi ekologi dan sosial budaya? bagaimana ponsel pintar ini juga mengajak dan melestarikan alam??

Ponsel pintar dan kekuatan sosial media yang sedang naik daun ini harusnya bisa menjadi tools baru untuk para ilmuwan,pegiat pelestarian alam, pemerintah, untuk melestarikan species yang terancam punah dan juga habitatnya.

Read more...

Sunday, December 27, 2015

Polygamy monyet : evolusi sistem sosial di tahun monyet

Rekrekan (Presbytis comata)

Sekedar berbagi pengalaman tentang pengamatan primata (primate watching) selama tahun ini di sekitar habitat Owajawa, Jawa Tengah. Ada pengalaman unik yang sekiranya bagi oranglain itu biasa saja namun, bagi saya juga menyenangkan karena mengamati primata di alam juga tidak mudah dan tidak setiap perilaku primata di alam bisa kita pelajari.

Tidak banyak dokumentasi foto tentang perilaku-perilaku primata di alam, moment yang langka, kadang kita melihat perilaku unik, tapi karena di alam tentu saja mendokumentasikannya dalam foto akan sangat sulit. Kali ini terkait dengan sosial sistem dari jenis-jenis monyet pemakan daun, yang konon evolusi sistem sosialnya lebih primitif daripada jenis-jenis kera, seperti Owa atau Orangutan.  Hutan Sokokembag Petungkriyono, Pekalongan, ada kelompok Rekrekan Presbytis comata (4 individu) yang waktu itu saya ikuti pergerakannya. Ketika saya melihat waktu itu ada 3 idividu sedang berada dalam jarak yang dekat, kemudian satu individu (betina 1) memasangkan badannya untuk di naiki individu yang lain ( si jantan), setelah event kawin dengan individu betina 1, si Jantan melihat individu lainnya (betina 2) yang sudah memasangkan badannya untuk si jantan. Kemudian si Jantan juga naik dari belakang (liat foto ya..). Tidak terjadi konflik apapun dan kemudian mereka kembali bersama foraging.
 Bagaimana menurut anda??






Mari kita sambut datangnya tahun monyet 2016
Read more...

Sunday, December 06, 2015

Monyet Jawa minum wine Paris

Pepatah “seribu teman masih kurang” adalah benar adanya, dan kadang teman-teman ini muncul begitu saja, atau memang teman teman ini, seperti titik- titik yang belum terhubung yang kadang walaupun dekat kita juga tidak nyambung. Kadang ada yang jauh tapi lebih cepat nyambungnya. Kira-kira bulan October lalu saya bertemu dengan orang yang tertarik dengan kegiatan pelestarian Owajawa dan juga kopi, melalui project “Kopi dan Konservasi Primata”.

Primate of The World "Jean-Jacques Petter"
Kawan baru ini pada awalnya biasa saja karena kami baru bertemu dan ngobrol-ngobrol sedikit, dan saya tahu bahwa di adalah film maker, terutama terkait dengan alam dan flora faunanya. Singkat cerita saya ajak teman baru ini ke Sokokembang, menikmati langsung kopi hutan dan melihat owa, sukur-sukur bisa motret Owa jawa, atau fauna lainnya. Lebih senang lagi, ketika saya sedang ada acara primata di wildlife singapore bulan november kemaren, saya tidak sempat bertemu dengan teman saya itu, namun saya mendapat titipan sebuah buku dan 2 botol wine. Dan buku itu adalah yang sangat memukau saya hingga saat ini, sebuah ilustrasi guide tentang primata dunia. Buku itu berjudul “ Primate of the World, an Ilustrated guide”.
Jenis-jenis Owa dalam buku Jean-Jacques Petter

Mendapatkan buku ini seperti mendapat harta karun juga, apalagi ada 2 botol wine, cukup untuk menambah semangat obrolan tentang kopi dan primata dengan teman-teman. Awalnya  tidak menyangka bahwa teman ini ada darah “primatologist” dalam tubuhnya, ketika dia cerita tentang ayahnya yang peneliti primata di madagaskar. Saya pun semakin antusias, mencoba mencari tahu tentang peneliti-peneliti di Madagaskar yang fokus Lemuridae. Ada nama Jean-Jacques Petter, dan tidak begitu akrab dengan nama ini, namun karena jaringan primatalogist  dan juga mengikuti perkembangannya, akhirnya saya merasa sangat senang dengan teman baru  ini. Jean-Jaques Petter, adalah salah satu legenda primatologist dari eropa, yaitu Prancis, dan beliau adalah salah satu di antara yang pertamakali melakukan rintisan penelitian dan kegiatan pelestarian lemur di Madagaskar. Beliau adalah research fellow di “Center National de la Rescherche Scientific” di Paris. Saya mengikuti tetang lemur ini dari beberapa pertemuan primata, menyebutkan bahwa saat ini di madagaskar terdapat lebih dari 100 jenis lemur.!! Jean-jacques Petter adalah penulis buku kitab “ Faune de Madagaskar” , tahun 1977, Petter dan istrinya juga di sematkan kepada salah satu genus dan species lemur di Madagaskar. 
Terimakasih Petter atas buku dan wine nya. Read more...