Monday, March 03, 2014

Kopilogi dan Primatologi, Secangkir Jawa untuk Owa

Ada kata-kata kolega saya, seorang primatologist, mengomentari postingan saya di sosial media tentang “kopi dan konservasi primata”,kira kira kata-katanya begini “ini dua hal yang saya cintai bertemu, minum kopi dan melestarikan primata”. Bukan sebuah kebetulan, berawal dari penelitian jenis-jenis monyet dan kera yang hampir punah di Jawa, Rekekan (Presbytis fredericae) dan Owa jawa (Hylobates moloch), akhirnya juga membawa saya terkait langsung dengan kopi. Dunia primata sudah mulai sejak masih di bangku kuliah, sementara dunia kopi tentu saja sama sekali baru, sekadar minum saja, tanpa berangan-angan sebenarnya proses, siapa, dan apa saja yang terlibat dalam secangkir kopi yang saya minum. “Kopilogi”/ coffeelogy ,mungkin istilah yang pas bagi saya untuk mengatakan bahwa kopi, seperti halnya primatology dimana merupakan segala sesuatu yang mempelajari tentang primata. “Kopilogi” adalah natural science tentang kopi, mulai dari species tanaman yang tumbuh di hutan, tanaman kopi, tempat tumbuh, petani, warung kopi, sampai ke bisnis multinasional yang katanya nilainya terbesar kedua setelah minyak bumi.

Berdasar penelitian sebelumnya, permasalahan konservasi Owa jawa, bisa dikatakan berbeda-beda di tiap lokasi 1,2., dan tentunya prioritas untuk mengatasi permasalahan ini berbeda juga. Kami mengambil fokus kegiatan di hutan dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kec.Petungkriono, Kabupaten Pekalongan, sebagai salah satu site untuk mencari solusi dan memberikan kontribusi terbaik untuk permasalah konservasi Owa Jawa. Potongan hutan di antara sedemikian padatnya human habitat use, memberikan gambaran ketidak pastian akan kelestarian kera kecil –Owa Jawa di Jawa Tengah. Namun kawasan hutan Sokokembang merupakan kawasan penting dimana Owa jawa saat ini bisa bertahan hidup. 

Di hutan Sokokembang, disinilah bahwa praktik budidaya kopi di kawasan ini sebenarnya telah banyak berpengaruh terhadap masa depan kelestarian Owa dan juga secara langsung secara ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan tempat Owa di mana berada. Mulai dari sini, pelajaran tentang kopi bermula, yang kemudian mungkin lebih pasnya saya istilahkan “kopilogi”.Tapi sungguh ini sebuah pengalaman yang sangat berharga buat saya, karena dari kegiatan ini menambah banyak pengalaman dan pengetahuan baru mengenai kopi. Seperti di “primatologi”, “kopilogi” juga saya kira masih mempunyai bidang-bidang lebih khusus yang mempelajari dan mempraktekkan tentang ilmu kopi ini. 

Sinergi antara pelestarian alam dan kopi juga sebenarnya bukan bidang baru 3, beberapa kawasan penghasil kopi di negara lain telah terlebih dahulu memulai bidang ini. Sistem budidaya dengan mempertahankan naungan juga menjadi satu hal yang menarik untuk di terapkan juga mengingat kondisi di Jawa,  dengan semakin padatnya populasi manusia mengakibatkan  peningkatan tekanan terhadap sumberdaya hutan dan alam pada umumnya 4

Kembali ke cerita awal saya di hutan sokokembang dan kopinya, tanpa kepedulian bersama bukan tidak mungkin cita rasa kopi Jawa yang sudah di akui di seluruh dunia juga species primata yang unik akan hilang begitu saja. “Kopilogi dan Primatologi " akan semakin menarik untuk di pelajari tetapi juga di terapkan langsung dilapangan untuk kelestarian alam dan untuk kemakmuran. Melengkapi cerita kopi Jawa yang sudah mendunia cita rasanya, Owa Jawa sudah tentu akan menjadi sebuah kebanggaan bagi kita semua, dimana tempat hidupnya saat ini berada dari tempat dimana kopi yang paling nikmat rasanya . Selamat minum kopi.! 

Daftar pustaka : 
1. Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27 
2. Setiawan, A., Y. Wibisono, T.S. Nugroho, I.Y. Agustin, M. A.Imron, S.P, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No. 2, p. 51-54 
4. Moguel, P., and V.M. Toledo. 1999. Biodiversity conservation in traditional coffee systems of Mexico. Conservation Biology 13: 11–21
Read more...

Wednesday, December 04, 2013

Primata Hutan Sokokembang: alaternatif kegiatan wisata, pendikan lingkungan dan pelestarian alam

Melihat binantang di kebun binatang sudah sering kita lakukan, ada banyak hal yang menyebabkan kita jadi tertarik untuk melihat binatang tersebut, bisa dari tingkah lakunya, warna bulunya, ataupun suaranya. Sudah tentu kita juga disajikan dengan pemandangan yang sangat terbatas di kebun binatang tersebut, tempat atau kandang, sumber pakan, ataupun tingkah laku yang kadang juga sangat terpengaruh oleh pengunjung lainnya yang ada di kandang tersebut. Sebuah pengalaman di alam adalah akan sangat mudah di ingat ketika kita menjumpai seekor bintang ataupun hal-hal yang masih sifatnya alami. Bagaimana tingkah laku mereka,bentuk tubuh dan warna bulu, dan juga makanan alami mereka di hutan, tentu ada perbedaan dengan yang di kebun binatang. Mengingat saat ini kondisi alam tempat binatang tinggal tersebut semakin lama semakin hilang ataupun rusak, jadi menjumpai binatang atau satwaliar di habitat alamnya adalah hal yang sangat jarang terjadi atau tidak setiap saat bisa kita lakukan. Namun cerita tersebut di atas masih sangat mungkin terjadi di hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriono. Melihat binatang-binatang di tempat asalnya bisa menjadi sesuatu yang memang tidak bisa di lupakan. Hutan Sokokembang adalah salah satu di antara hutan hujan tropis yang tersisa di Pulau Jawa, dan kalau kita senang dengan jenis-jenis primata (monyet dan kera) disinilah tempatnya untuk melihat langsung di habitat aslinya. Di hutan ini terdapat 4 jenis primata yaitu,3 jenis di antaranya adalah endemik Jawa hanya ada di Pulau Jawa dan sebaran alaminya tidak di jumpai di tempat lain di dunia, yaitu Owa Jawa (Hylobates moloch), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)dan Rekrekan (Presbytis comata) dan satu jenis lagi yang umum di jumpai adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Pengamatan primata tidak hanya sekedar melihat jenis primata yang kita temui, namun ini juga bisa dikatakan sebagai aktifitas untuk menambah pengetahuan, pengalaman dan pendidikan tentang alam, bahkan berkontribusi secara langsung untuk meningkatkan perekonomian penduduk sekitar hutan. Karena kegiatan ini di alam, pengamatan primata di hutan tentu sangat berbeda dengan di kebun binatang yang bisa datang setiap saat dan pasti binatangnya ada di tempat tersebut. Setidaknya sebelum pengamatan primata di habitat alaminya, perlu informasi awal terlebih dahulu sebagai referensi atau persiapan ,diantaranya: 
1. waktu-waktu tertentu dimana primata tersebut ber aktifitas, karena ini pengamatan di alam informasi mengenai jam-jam aktifitas primata yang akan kita amati sangatlah penting, karena untuk mempertinggi kemungkinan perjumpaan kita,biasanya untuk jenis-jenis primata akan aktif pada pagi hari antara jam 06.00- jam 10.00, dan kemudian sore hari antara jam 15.00-18.00. beberapa sumber di internet juga bisa menjadi rujukan untuk sebagai informasi awal tentang primata yang akan kita amati. 
2. lokasi , ini juga informasi penting di awal yang harus kita kumpulkan untuk mengamati, bisa kita dapatkan dari penduduk setempat ataupun hasil-hasil penelitian sebelumnya di wilayah yang akan kita amati primatanya. 
3.peralatan , karena keterbatasan kemampuan mata kita, untuk mengamati primata di alam kita butuh alat bantu yaitu Binokuler atau Teropong, banyak tipe jenis binokuler, bisa di lihat di sini, sangat di rekomendasikan karena ukuran yang tidak terlalu berat dan namun memiliki kemampuan yang baik di lapangan. Peralatan tambahan yang juga perlu di bawa adalah camera, karena moment atau peristiwa di alam kadang tidak bisa di ulang lagi, maka dokumentasi seperti camera juga sangat penting di persiapkan sebelum kita mengamati primata. 
4. pendamping pengamatan, ini juga bisa menjadi alternatif tambahan saja agar pengamatan kita bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak, pendamping bisa kita cari atau minta penduduk setempat di sekitar hutan atau peneliti primata yang ada di lokasi tersebut. 
Pengamatan primata (primate watching), di hutan tempat asal binatang tersebut berada seperti di hutan Sokokembang, selain bermanfaat untuk kita yang mengamati karena melihat landscape hutan yang tidak setiap saat kita jumpai, selain itu kita juga harus faham bahwa mengamati primata di habitat alamnya juga belum tentu langsung ketemu dengan yang ingin kita amati, dan binatang yang kita amati adalah selalu bergerak kemana mereka suka. Hal ini tentu memerlukan waktu untuk di alokasikan ketika kita akan mengamati primata di alam. Namun demikian ini tentu juga bermanfaat untuk mendorong kegiatan konservasi species langka dan hampir punah yang kita amati. Kegiatan tersebut karena bisa bersifat edukatif dan peningkatan pengetahuan kepada kita , juga akan memberikan manfaat secara langsung kepada penduduk sekitar hutan, karena bisa menambah perekonomian dari jasa yang disediakan untuk menginap ataupun menjadi pendamping pengamatan. 

Daftar pustaka dan sumber di internet tentang primata :
http://www.iucnredlist.org/
http://monyetdaun.blogspot.com/ 
http://www.alltheworldsprimates.org/Home.aspx 

Arif Setiawan, Tejo Suryo Nugroho, Yohannes Wibisono, Vera Ikawati, Jito Sugarjito, 2012, Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas (1) no.1, p. 23-27 

Arif Setiawan, Yohannes Wibisono, Tejo Suryo Nugroho, Ika Yuni Agustin, Mohamad Ali Imron, Satyawan Pudyatmoko, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No. 2, p. 51-54 Read more...

Thursday, September 05, 2013

Owa Jawa, Kopi, dan Hutan Sokokembang

Kesempatan memperkenalkan Owa Jawa pada masyarakat umum di Pekalongan akhirnya tiba, acara Kajen expo 2013, dilaksanakan tanggal 25-31 Agustus 2013  kami gunakan sebagai media untuk menyebarkan informasi tentang konservasi Owa Jawa. Sambutan luar biasa juga karena lewat produk kopi yang di siapkan oleh kelompok tani di dusun Sokokembang, masyarakat pekalongan setidaknya tahu masih  ada Owa Jawa, dan masih ada hutan di sekitar mereka, terlebih lagi bagi para pecinta kopi, hutan Sokokembang juga menghasilkan kopi yang "penthol" kopi yang "juara", kopi yang "enake por".  Read more...

Pekalongan Bangga Punya Owa dan Kopi enak

Selebaran atau leaflet, dalam bahasa pekalongan untuk memperkenalkan Owa Jawa, hutan sebagai tempat hidup Owa Jawa dan kopi sebagai salah satu produk hutan Sokokembang, kepada masyarakat pekalongan pada umumnya.

Read more...

Friday, August 16, 2013

Metode Survey Primata

Salah satu permasalahan konservasi primata khususnya di wilayah Jawa Tengah adalah minimnya pengetahuan dan pengalaman akan metode survey primata.Survey primata untuk konservasi adalah upaya mengumpulkan informasi terkait dengan keberadaan primata yang akurat yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah untuk mendukung program kegiatan konservasi. Beberapa waktu yang lalu bersama Yogyakarta Primate Study Club, kegiatan pelatihan metode survey primata ini telah di lakukan sebagai bagian dari program konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah. Bertempat di hutan sokokembang, ds. Kayupuring, Kec. Petungkriono,dusun di tengah hutan yang juga sekaligus saat ini sebagai tempat penelitian Owa Jawa di wilayah kab. Pekalongan. Kuranglebih 15 orang peserta,dari mahasiswa dan staff lembaga terkait bergabung di acara ini. Acara ini merupakan pengenalan dua metode survey primata yang paling umum di gunakan untuk survey primata, lebih khusus lagi untuk survey Owa jawa. Ada dua metode yang di kenalkan dalam 3 hari training ini yaitu metode line transect dan Vocal count. Kedua metode ini sama-sama bisa digunakan untuk survey Owa, yang pertama berdasarkan perjumpaan langsung dan yang kedua adalah berdasarkan suara. Banyak pertimbagan pemilihan metode survey, tergantung dari tujuan survey, waktu, tenaga, kondisi geografis, dll. Sebelum menentukan metode, sangat penting merumuskan dulu tujuan dan faktor-faktor tersebut diatas. Karena acara ini memang di tujukan untuk masyarakat umum yang peduli akan konservasi Owa Jawa dan  primata di Jawa Tengah khsusnya, maka bagi yang tertarik akan hal ini atau kegiatan konservasi priamata di Jawa Tengah dapat mengunduh materi-materi selama 3 hari training di sini. Dan kegiatan ini sepenuhnya di dukung oleh Fortwayne Children Zoo dan Rufford small grant. Read more...

Sunday, July 28, 2013

Owa Jawa, Kera kecil kebanggaan Pekalongan

Satu artikel tentang Owa Jawa akhirnya di muat di website resmi pemerintah kabupaten pekalongan. silahkan ke link berikut ini, partisipasi pemeritah daerah adalah mutlak diperlukan untuk konservasi Owa Jawa, mengingat sebaran Owa Jawa di Jawa Tengah tidak di dalam sistem kawasan konservasi. Informasi apapun tentang Owa Jawa tentu akan sangat bermanfaat untuk membantu pemerintah daerah menentukan langkah-langkah strategis untuk menempatkan Owa Jawa dan habitatnya bagian dari pembangunan daerah. Owa Jawa, sebagai primata yang hanya ada di Jawa (endemik) juga sebenarnya mempunyai nilai-nilai penting, tidak hanya dalam konteks ekologi tapi juga sosial ekonomi. Bisa di gunakan sebagai flagship species, yang mempunyai kekuatan untuk kampanye marketing konservasi, sebagai sepecies yang bisa digunakan untuk menggambarkan  imaginasi publik dan meng-induce seseorang untuk melalukan sesuatu untuk konservasi, bahkan menjadikannya populer atau identitas suatau wilayah atau negara. Secara singkatnya, Owa Jawa juga mempunyai karakter yang sama seperti Panda, Harimau,  Gadjah afrika, Orangutan, yang tidak hanya species yang “eyecatching” “flagship”, tapi juga sangat berharga dalam kehidupan kita.
Read more...

Wednesday, May 29, 2013

Kopi dan Konservasi Primata

Saat menulis ini, saya sedang berada di kampung tengah hutan , dan mungkin hanya ada disini tempatnya, sisa-sisa kemegahan hutan hujan tropis jawa dapat dinikmati. Sangat aneh memang ditengah hiruk-pikuk pulau jawa, di tengah-tengah pulau, di jantung pulau jawa, pulau terpadat di dunia, masih terdapat hutan yang bisa dikatakan “ter”baik diantara hutan di jawa lainnya. Tempat mana yang dari teras rumah bisa melihat primata langka bergelantungan?, tempat mana dari balik jendela rumah bisa melihat burung-burung rangkong terbang dengan suara khasnya terdengar? Tempat mana lagi dari depan rumah kita bisa meneguk kopi sambil melihat hijaunya bentang alam hutan tropis dengan segala penghuni liarnya? Saya mulai kesasar ketempat ini dimulai pada tahun 2007, ketika itu saya dan teman-teman sedang melakukan survey salah satu primata endemik jawa, Kala itu waktu malam hari 2 teman saya yang survey di wilayah ini mencari tempat singgah untuk melakukan study tentang range- distribusi monyet daun –rekrekan (Presbytis fredericae) mulai dari Gunung Slamet-1. Akses jalan pada waktu itu masih susah sekali, karena jalan berbatu dan tanah licin, untuk di tempuh degan kendaraan biasa sangat susah.

Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriono, Kabupaten Pekalongan. Hampir 6 tahun sudah, sejak pertamakali kami singgah di kampung ini, jalan yang kini aspal halus, membuat kami kadang rindu suasana menegangkan ketika harus menggunakan kendaraan jip kecil kami menaiki tanjakan dan menyusuri jalan di tengah hutan dari Pasar Doro hingga ke Sokokembang. Kini tanpa kendaraan 4WD pun, dengan mudah kami dapat sampai di Sokokembang.

Di awal cerita sempat saya ceritakan, dari teras rumah sambil minum kopi kita bisa menikmati suasana hutan dengan sesekali owajawa terlihat bergelantungan di pohon-pohon dekat rumah dan mendengar dengan jelas nyanyian di pagi harinya “great call”. Iya, kopi memang salah satu produk agro-forest penduduk dusun Sokokembang. Kopi tempat ini, di tanam di bawah naungan hutan yang masih alami. Dengan intervensi proses produksi yang bisa dikatakan minim, tanpa ada pemupukan, perawatan menjadikan kopi ini tumbuh liar.

Meskipun belum ada study yang lebih detail terkait sistem pengelolaan kopi di bawah naungan sperti di Sokokembang, ada sesuatu yang “lebih” bahkan sangat penting bagi keanekaragaman hayati (biodiversity) sekaligus potensi ekonomi. Mengingat hutan jawa yang semakin habis terdegradasi secara perlahan, praktik penanaman kopi di bawah naungan yang tetap mempertahankan pohon-pohon alam sebagai naungannya, sehingga satwa-satwa masih tetap ada dan keragaman flora juga tidak hilang, kawasan seperti ini mempunyai nilai penting bagi kelestarian kehidupan flora dan fauna ditengah himpitan tekanan terhadap hutan karena aktifitas manusia. Biasanya sistem penanaman kopi seperti ini berada di kawasan pegunungan dimana curah hujan pun tinggi, hal ini tentunya sangat penting bagi ekosistem secara keseluruhan, dimana sumber air mengalir ke sungai-sungai besar yang ada di bawahnya. Fenomena kopi dibawah naungan (shade grown coffee-2) di Sokokembang, mungkin akan dapat memberikan alternatif solusi kedepan untuk konservasi alam, dimana kedua sisi sosial-ekonomi dan ekologi, bertemu dalam harmonisasi untuk kemakmuran.

 Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Y. Wibisono, T.S. Nugroho, I.Y. Agustin, M. A.Imron, S.P, Djuwantoko, 2010, Javan Surili : A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia, Jurnal Primatologi Indonesia, Vol. 7 No.2. p. 51-54 

2. Moguel, P., and V.M. Toledo. 1999. Biodiversity conservation in traditional coffee systems of Mexico. Conservation Biology 13: 11–21 Read more...